BERSINERGI, Dosen UIN Walisongo dan Unika Soegijapranata Perangi Ujaran Kebencian di Internet
Selasa, 7 Februari 2017 | 9:21 WIB
TRB 06_02_2017 BERSINERGI, Dosen UIN Walisongo dan Unika Soegijapranata Perangi Ujaran Kebencian di Internet

BERSINERGI, Dosen UIN Walisongo dan Unika Soegijapranata Perangi Ujaran Kebencian di Internet

Banyaknya ujaran kebencian, provokasi dan hoax melalui media sosial dan internet menggerakkan para dosen muda UIN Walisongo Semarang untuk menggalang kepedulian kalangan akademisi.

Untuk melawannya, Dosen Universitas Islam itu menggandeng Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata sebagai salah satu komunitas akademik.

Dalam pengantarnya, Nur Hasyim, ketua rombongan UIN Walisongo menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan ekspresi kepedulian para dosen muda UIN untuk bersama-sama menyuarakan pandangan komunitas akademik dalam menyikapi fenomena media sosial yang telah mengganggu kehidupan bermasyarakat.

“Maksud kunjungan ini adalah mengajak akademisi untuk bersama-sama terlibat dalam menyuarakan wacana alternatif di tengah kabut suram jagad sosial politik negeri ini,” katanya seperti dikutip dari press release yang dikirim Humas Unika, Senin (6/2/2017).

Rektor Unika Soegijapranata, Prof Budi Widianarko menyambut baik dan terbuka untuk terlibat bersama dalam menyuarakan sikap universitas.

Ia menambahkan, Unika Soegijapranata mendukung gerakan kebangsaan dalam bentuk diskusi-diskusi publik, pendampingan masyarakat, dan tulisan-tulisan di media massa.

“Keindonesiaan tidak boleh koyak, para pekerja kampus harus memerankan diri sebagai cendekiawan yang peduli pada persoalan yang tengah dihadapi masyarakat dan bangsa,” tambah Prof Budi.

Ia menambahkan bahwa kegiatan dosen dan mahasiswa yang beragam latar belakangnya di berbagai daerah telah banyak mendapat apresiasi dari masyarakat dan pemerintah.

Waki Rektor 4 Unika Dr Ridwan Sanjaya juga menambahkan bahwa masyarakat sebaiknya jangan terprovokasi dengan ujaran kebencian dan hoax, apalagi jika sumbernya dari situs-situs yang didanai oleh iklan dari provider tertentu.

“Bagi pengelola situs tersebut, informasi palsu dan bernada kebencian dipandang sebagai bisnis yang menguntungkan. Padahal dampaknya adalah persatuan bangsa,” jelas dosen game technology tersebut.

Menurutnya semua pihak harus bahu-membahu melawan hoax, ujaran kebencian, hingga provokasi pemecah belah umat beragama. Hal itu perlu karena menurutnya jumlah pengguna internet Indonesia yang meningkat meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. (►http://jateng.tribunnews.com)

Kategori: