Albertus Kriswandhono: Menghidupkan Kota Lama
Jumat, 3 Februari 2017 | 11:16 WIB

Kompas 02_02_2017 Alb. Kriswandhono - menghidupkan Kota Lama

Albertus Kriswandhono (57) ingin melestarikan sebanyak mungkin cagar budaya di kawasan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah. la berusaha menghidupkan satu per satu bangunan bersejarah dengan memberi jasa konsultasi, mulai dari teknik hingga etika konservasi, secara sukarela.

OLEH KARINA ISNA IRAWAN

Pagi menjelang siang, Jumat (20/1), pria yang akrab disapa Kris itu datang ke Cafe Tekodeko Koffiehuis di kawasan Kota Lama, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Ia mengontrol perbaikan di bagian belakang kafe yang menurut rencana akan difungsikan sebagai ruang serbaguna atau tempat kumpul komunitas.

"Bangunan yang ada sejak zaman pemerintahan Belanda ini puluhan tahun mangkrak. Saya diminta pemilik gedung, dibantu komunitas, untuk menghidupkannya kembali," tutur Kris.

Pelestarian gedung, yang konon ada sejak abad ke-18 atau ke-19 itu, dimulai pada 2014. Itu pun tidak mudah karena sempat tarik ulur. Pemilik ragu karena proses konservasi cukup rumit, mulai dari mempertahankan struktur asli, memilih material bangunan, ‘hingga mengusung konsep agar gedung dapat- bermanfaat.

Namun, bagi Kris, adanya niat konservasi dari pemilik gedung pertanda sinyal positif. Dirinya mulai mengatur rencana untuk menepis segala keraguan. "Siapkan saja semuanya, saya bersedia mengajari sampai selesai," ucap Kris kepada setiap pemilik atau pengelola gedung yang meminta bantuan dirinya untuk konservasi.

Kegiatan itu digeluti Kris setidaknya sejak bergabung dengan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BP-K2L) pada 2007. Atas konsistensinya dalam menyelamatkan cagar budaya, Kris dianugerahi Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015.

Menghidupkan Kota Lama berarti menghidupkan gedung bersejarah di kawasan itu. Selain Tekodeko Koffiehuis, Kris pun terlibat dalam upaya konservasi Kantor Pos Besar Semarang (2007); bangunan kolonial bekas Pengadilan Negeri Semarang, yang saat ini menjadi rumah makan Ikan Bakar Cianjur (2006-2007); dan studi bangunan H Spiegel, yang kini menjadi Spiegel Bar and Bistro (2012).

Ketertarikan Kris pada cagar budaya muncul sejak usia muda. Dia rajin mengunjungi bangunan bersejarah dan mengoleksi benda antik. Itu juga yang mendorongnya kuliah di Arsitektur di Universitas Katolik Soegijapranata pada 1979. Seiring waktu, hasrat menghidupkan bangunan lama terus tumbuh.

Kris kemudian melanjutkan studi arkeologi di Falmltas Ilmu Budaya Universitas Indonesia untuk mendalami dunia konservasi cagar budaya. Itu sekaligus menjawab rasa ingin tahu, mengapa sebagian besar bangunan bersejarah mangkrak dan tak terurus. "Dari situ saya tahu kalau konservasi cagar budaya memang tidak mudah. Ada ketentuan internasional yang mengatur," ujarnya.

Sebelum di Kota Lama, pada 2004, Kris menggiatkan konservasi bangunan cagar budaya Lawang Sewu. Dia turun langsung mendampingi tukang untuk edukasi teknik dan etika konservasi. Upaya itu membuahkan hasil dan fungsi baru dari bangunan yang sempat mangkrak puluhan tahun. Kini, Lawang Sewu tidak pernah sepi pengunjung.

"Konservasi Lawang sewu jadi momentum utama. Antusiasme masyarakat untuk datang ke bangunan yang telah dikonservasi selalu mengembuskan semangat baru," tuturnya.

Jatuh bangun
Kawasan Kota Lama dijuluki sebagai "Little Netherland". Lokasinya dikelilingi kanal-kanal dengan bangunan berlanggam Eropa, hampir mirip Belanda. Semasa pemerintahan kolonial berkuasa, kawasan itu menjadi jantung Kota Semarang. Namun, setelah ditinggal Belanda, Kota Lama mati. Tidak ada satu pun wisatawan melirik kawasan itu.

"Lewat pukul 18.00, tak ada orang berani datang. Lokasinya sepi dan penerangan minim. Bahkan, sempat muncul kabar-kabar mistis dari gedung kosong di sana," kata Kris sembari tertawa kecil.

Menghidupkan Kota Lama memang sulit. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lindungan Kawasan Kota Lama tidak berjalan hingga dibentuk kepengurusan BPK2L pada 2007. Badan non-struktural tersebut dibentuk oleh pemerintah kota yang anggotanya terdiri atas pejabat, profesional, peneliti, dan komunitas.

Meski dibentuk pemerintah dan memiliki surat keputusan khusus, pengurus BPK2L bekerja tanpa dibayar. Pemerintah hanya memberi dana hibah untuk menggerakkan masyarakat dalam menghidupkan Kota Lama. "Seperti organisasi nonprofit pada umumnya, anggota satu per satu keluar," ujar Kris yang saat itu menjabat sebagai pengurus BPK2L.

Di tengah segala keterbatasan, Kris dan anggota tim yang tersisa mencanangkan Kota Lama sebagai warisan budaya dunia pada 2020. Mereka menggencarkan edukasi dan pendampingan masyarakat bersama komunitas penggiat. Komunitas itu antara lain adalah Oude Stad’ Art and Culture (Oase) Semarang, Komunitas Penggiat Sejarah (KPS), serta sejumlah komunitas yang bergerak di bidang sketchwall, fotografi, dan arsitelctur.

Dikutip dari data BPK2L pada 2016, mulai Maret 2016, tercatat 28 bangunan telah dikonservasi dan berfungsi kembali. Dari total 105 bangunan cagar budaya di kawasan Kota Lama, sebagian besar tidak diketahui pemiliknya. "Bangunan ada, pengelola susah (tidak ingin), atau sebaliknya," ujar Kris.

Memaknai konservasi
Pelestarian cagar budaya hampir selalu ditunggangi kepentingan para pemangku kebijakan. Jika kepentingan tidak terakomodasi dengan baik, tak jarang upaya pelestarian gagal. Ketika masyarakat gagal melestarikannya, berarti mereka tidak memahami budaya sebagai identitas bangsa.

Menurut Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010, pelestarian bangunan cagar budaya harus mencakup perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Tujuan pelestarian bukan semata-mata mempertahankan keberadaan cagar budaya, melainkan juga menyejahterakan masyarakat secara berkelanjutan. Masyarakat memang seyogianya mendapat nilai dan manfaat dari bangunan cagar budaya.

Kota Lama, misalnya, perlahan dapat hidup karena melibatkan masyarakat sekitar untuk merawat dan memelihara cagar budaya secara swadaya. Pengelola bangunan lama dibimbing untuk mempertahankan keaslian obyek cagar budaya yang disesuaikan dengan pasar.

"Kalau nilai informasi tidak dikemas dengan benar, masyarakat hanya sekadar datang," ucapnya.

Pendekatan serupa dilakukan Kris ketika "membongkar kebekuan" Lawang Sewu pada 2004. Ia mengajak Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur (KITA) untuk membersihkan dan menggelar pameran di gedung yang dulu dikenal angker itu. Kegiatan rutin dilakukan pada 2004-2010. Intinya, warisan budaya harus dikelola dengan baik agar menjadi sumber daya budaya.

Sejak itu, pengelola Lawang Sewu memulai proses pelestarian pada 2009 hingga saat ini. Di tahap awal pengerjaan konservasi, Kris turun langsung untuk mengarahkan tukang. Ia mendorong pengelola cagar budaya agar memahami cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan bangunan dari masa lalu agar relevan untuk masa kini.

ALBERTUS KRISWANDHONO
• Lahir: Semarang, Jawa Tengah, 24 0ktober 1959
• Pendidikan:
    – Sarjana Teknik Arsitektur Universitas Katolik Soegijapranata Semarang 
    – Magister Humaniora Program Studi Arkeologi Fakultas limu Budaya Universitas Indonesia
• Istri: Noengky Oktarina
• Anak: Krisna Wastu, Kriski Laras
• Organisasi: Pengurus Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) sejak 2007
• Penghargaan: Anugerah Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman Kategori Tokoh Pelestari Pagar Budaya 2015 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

(KOMPAS, KAMIS, 2 FEBRUARI 2017, hal. 16)

Kategori: