Unika Raih Juara I Lomba Aerocreation Tingkat Nasional Di ITB
Selasa, 24 Januari 2017 | 9:21 WIB

Aero41 tim yang terdiri dari 4 Mahasiswa Progdi Teknik Elektro Unika Soegijapranata baru saja meraih Juara I Lomba Aerocreation ITB 2017 yang diadakan oleh  Keluarga Mahasiswa Penerbangan Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lomba dilaksanakan di Kampus Institut Teknologi Bandung Ganesha pada Minggu (22/1). Keempat mahasiswa tersebut adalah Dimas Arifiyan, Ignatius Wisnu Adi Nugroho, Gregorius Dimas Wahyu dan Lidya Gita Ronauly, dengan didampingi oleh 2 dosen Unika Dr. F Budi Setiawan, ST., MT dan Felix Yustian Setiono, ST., MT. Dalam lomba tersebut, perwakilan Unika Soegijapranata berhasil mengalahkan beberapa tim perwakilan lainnya yang berasal dari beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti : Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Universitas Negeri Yogyakarta, dan tentunya Institut Teknologi Bandung. Lebih teristimewa lagi, event Aerocreation 2017 ITB baru pertama kali diikuti oleh Unika Soegijapranata.

Lomba Aerocreation ITB 2017 mengangkat tema  “Inovasi Teknologi, Bisnis, dan Sistem Manajemen Dirgantara di Indonesia”. Pada event ini, perwakilan Unika memilih subtema “Teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak untuk Kebutuhan NKRI” dengan mengajukan esai  berjudul “Drone Corner” dimana Drone Corner sendiri adalah pusat kontrol drone. Dalam mekanik drone sendiri terdapat 3 bagian yaitu pusat kontrol, pusat monitoring dan pusat perbaikan drone.

“Sejatinya, drone sendiri dapat dipakai untuk menyelesaikan berbagai masalah seperti mengawasi lalu lintas, memadamkan kebakaran dalam lingkup kecil dan mencari pelaku kriminal. Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia masih enggan menggunakan drone sebagai problem solver untuk berbagai permasalahan. Hal itu dikarenakan pemerintah belum siap untuk menyediakan fasilitas berupa pusat kontrol drone. Drone Corner sendiri sejatinya memiliki fungsi yang sama seperti terminal pada bis dan airport untuk pesawat dimana drone corner sendiri berperan sebagai sentral dari ketiga pusat drone. Drone Corner dalam instansinya memiliki beberapa pekerjaan sebagai operator sebuah drone terdiri dari management, bagian teknis, kerjasama instansi. Dalam penuturannya, drone corner yang dibuat tim perwakilan Unika bekerjasama dengan Base Transceiver Station (BTS) milik penyedia Provider untuk menguatkan sinyal dari drone. Pihak operator drone dalam teknisnya akan membeli sinyal dari BTS milik provider tertentu yang telah memiliki jaringan kuat di suatu daerah untuk menguatkan sinyal dari drone itu sendiri. Dalam penanganan beberapa masalah, contohnya mengenai kebakaran, mulanya dari masyarakat melaporkan ke instansi pemadam kebakaran. Laporan tersebut kemudian dianalisa oleh pihak pemadam kebakaran apakah dalam kasus kebakaran tersebut membutuhkan bantuan drone untuk memadamkan api. Apabila membutuhkan, pihak pemadam kebakaran menghubungi drone corner untuk mengirimkan drone. Drone itu sendiri dapat digunakan untuk keperluan monitoring kasus kebakaran atau juga bisa digunakan untuk membawa bahan pemadam kebakaran seperti nitrogen cair. Untuk keperluan monitoring kasus kebakaran yang terjadi, drone sendiri memiliki kemampuan untuk monitoring 2 arah yang dapat diakses oleh instansi yang bersangkutan seperti pemadam kebakaran dan drone corner. Untuk harapan ke depannya, penggunaan drone corner bisa menjadi bagian dari konsep smart city. Selain itu kami harapkan ke depannya, drone dapat berfungsi secara full autonomous (bisa beroperasi sendiri) sehingga saat terjadi kebakaran , apabila sebuah rumah memiliki sensor bahaya dan memancarkan sinyal bahaya, maka drone menangkap sinyal tersebut dapat segera menuju ke tempat kejadian secara otomatis”jelas Wahyu (salah satu anggota tim perwakilan Unika).

“Masalah utama yang terdapat pada drone corner sendiri terutama masalah sumber daya manusia mengenai siapa yang mau menjadi operator drone corner, yang memperbaiki drone, dan daya drone sendiri terbatas sehingga diperlukan pergantian baterai untuk waktu tertentu.  Drone Corner ini sendiri dapat menjadi problem solver bagi mobilitas masyarakat yang semakin cepat. Dimana saat ini, masyarakat menuntut respon yang lebih cepat dari instansi pemerintah terkait yang langsung menangani permasalahan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi yang ada seperti memaksimalkan penggunaan drone untuk melayani masyarakat. Selain itu, untuk mencegah tercampurnya frekuensi satu drone dengan yang lainnya, setiap drone memiliki kartu SIM yang berbeda dengan drone lainnya” tegas Wahyu.

“Mengenai jumlah BTS yang berada di suatu wilayah saat ini dapat dideteksi dengan aplikasi perangkat android “Open Signal”. Misalnya saja, saya pernah mengecek untuk Kecamatan Kedungmundu Kota Semarang terdapat 20 BTS yang terdeteksi” imbuh Wahyu.

Saat ditanya perihal kemunculan ide untuk membidik ‘Drone Corner’ sebagi topik lomba esai, Gita sebagai salah satu anggota tim menjelaskan “Asal mula nama ‘Drone Corner’ sendiri terinspirasi dari fasilitas wifi corner sebagai tempat munculnya ide mengenai penggunaan drone corner. Dimana dalam implementasinya saat ini, wifi corner sendiri memiliki bagian pengontrol yang disebut wifi corner. Begitu juga dengan drone, dimana drone seharusnya juga memiliki drone corner sebagai bagian kontrol dari drone itu sendiri” jelas Gita.

Pada event ini, tim perwakilan Unika menggunakan 2 jenis drone yaitu Vertical Take-Off Landing (VTOL) milik DJI Phantom 4; Matrice 500; dan Matrice 100, yang memiliki kemampuan dalam hal mengangkat beban yang berat akan tetapi baterai yang digunakan hanya bertahan dalam jangka waktu ½ jam. Tipe drone lainnya yaitu tipe Fixed Wing milik AeroTerrascan AI450 yang memiliki kemampuan dalam hal ketahanan baterai yang dapat beroperasi selama 1 jam tetapi drone Fixed Wing tidak dapat membawa beban berat.

“Dengan prestasi yang berhasil diraih ini, kami berharap agar pihak universitas dapat membantu mahasiswa dalam mencari informasi lomba-lomba yang sesuai dengan bidang ilmu masing-masing fakultas. Selain itu, diharapkan Unika juga memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tersendiri yang menangani Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan kompetisi ilmiah lainnya. Dan selanjutnya, UKM tersebut nantinya akan menjadi wadah bagi mahasiswa yang memiliki ide akan tetapi belum mengerti perihal teknis pelaksanaan kompetisi seperti misalnya teknis dalam pembuatan dan penyusunan proposal dengan baik,“ himbau Wahyu dan Gita. (Cal)

Kategori: ,