UKMF CamouFLAge Tampil dalam Operet di Gubernuran
Selasa, 24 Januari 2017 | 17:25 WIB

CamuflagGelak tawa para penonton terdengar saat menyaksikan operet yang diisi oleh CamouFLAge yang berkolaborasi dengan para penari dan seorang pengajar dari Purnomo Music School dalam acara Natal Bersama di Gubernuran yang berlangsung pada hari Jumat (13/1). Ganjar Pranowo, selaku Gubernur Provinsi Jawa Tengah tampak terhibur saat melihat tampilan pemeran dalam operet yaitu seorang pemabuk dan pecandu narkoba yang lari dari kejaran polisi dalam operet ini.

Operet ini tidak hanya menceritakan perjalanan tiga orang majus atau raja yang mencari-cari Sang Juru Selamat yang dapat membawakan kabar baik dan damai bagi seluruh umat manusia, namun juga mengusung beberapa permasalahan yang sering ditemui dalam realitas kehidupan masyarakat pada saat ini. “Ada beberapa unsur yang kami tunjukan tentunya. Antara lain seperti narkoba, bencana alam, SARA, begal, adu domba, dan yang terakhir tentunya adalah korupsi,” ujar Cynthia Hani yang saat itu berperan sebagai seorang koruptor dan berkesempatan untuk berganti gender dalam operet ini yang sengaja ditampilkan sebagai puncak dan sekaligus penutup dari keseluruhan acara.

Pak Ganjar mengapresiasi tiap pemain peran, penari, dan audio system controller yang ikut mengambil bagian dalam operet ini. “Maknanya benar-benar tersampaikan,” ujar beliau ketika diundang untuk maju keatas panggung sebagai sosok ‘Sang JuruSelamat’ bagi masyarakat Jawa Tengah. Beliau diidentikan sebagai sang penyelamat masyarakat karena tanpa adanya kerja keras dan usaha beliau dalam menjalankan mandatnya, kawasan Provinsi Jawa Tengah ini tidak akan bisa merasakan ‘penerangan’ dari beliau dan mendapatkan jalan keluar terhadap permasalahan-permasalahan yang ada.

Pak Ganjar juga sempat mengutarakan rasa haru terhadap perilaku toleransi dan keramah tamahan para pemuka agama Katolik dan Kristen serta para warga non-Muslim yang menyempatkan diri untuk berkunjung di kediaman beliau hanya untuk berjabat tangan dan mengucapkan selamat ketika umat Muslim merayakan hari-hari besar keagamaan mereka, seperti salah satunya, yaitu Idul Adha. “Rasanya tuh ‘mak-jleb’ beneran,” kata Pak Ganjar seraya menunjuk ke bagian dada kirinya dengan telapak kanannya, seakan-akan memberitahu para penonton bahwa beliau benar-benar tersentuh dengan wujud nyata Kebhinekaan di Indonesia ini.

Para pemain drama pun mengaku sangat senang dan bangga bisa diundang untuk tampil pada malam itu. “…saya ingin menampilkan hal yang agak berbeda. Memikirkan dan menampilkan surprise yang terkesan humor untuk menghibur audience,” aku Eren Sandy yang berperan sebagai Raja Melgion yang diceritakan berasal dari negara Cam Pha. Dalam perannya kali ini, Eren mengenakan kostum megah ala kerajaan Cina dan merelakan wajahnya untuk dilukis dengan eye liner hitam guna memberikan kesan bahwa dia adalah Raja yang agung dan berwibawa, yang menjadi salah satu dari tiga orang majus yang mencari-cari kehadiran Sang Juru Selamat.

Salah seorang dosen Fakultas Bahasa dan Seni pun juga ikut berperan sebagai orang majus. Pak Retang, berperan sebagai Raja Balthazar dari negeri Sumba Jaya. Beliau yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan III terlihat seakan ‘menyerahkan diri’ dibawah komando make-up artist yang juga adalah anggota UKMF (Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas) CamouFLAge. “Ini gunanya untuk apa ya, Mbak?” tanya Pak Retang penasaran pada seorang mahasiswi yang bernama Gabriela. “Supaya nanti make-up-nya bisa rata, Pak” jelas Gabriela ketika mengaplikasikan cleanser, toner dan foundation pada wajah beliau.

CamouflagPara penari latar pun juga tidak mau kalah dengan penampilan CamouFLAge. Walau pun mereka berasal dari institusi yang berbeda, kelima orang penari ini dapat dengan mudahnya membaur dengan teman-teman dari Unika Soegijapranata. Tak tanggung-tanggung, saat mengikuti latihan intensif dengan Pak Alex, yang mengambil tempat di Ruang Auditorium Gedung Gradhika Bhakti Praja Kompleks Gubernuran, penyanyi, penari, dan pemain gamelan yang bergabung di Punomo Music School dapat berkolaborasi dengan baik dengan para anggota drama CamouFLAge yang adalah para mahasiswa dari Progdi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa & Seni, Unika Soegijapranata. Malam itu, para penari tampil professional dengan tarian tradisional dan modern sekaligus. Terlihat bahwa mereka memiliki beberapa tahun pengalaman selama berkecimpung di dunia seni tari. Tubuh mereka yang luwes dan energik dapat mengikuti ritme dan suasana lagu yang diperdengarkan. Keluwesan mereka pun juga tampak saat bersosialisasi dan melebur dengan CamouFLAgers. Mereka dapat memainkan dua peran yang berbeda dengan baik, penari latar dan peran pembantu.

Tantangan dalam Latihan Berbuah Manis

Selama tiga hari berturut-turut sejak latihan hingga gladi kotor dan gladi bersih, para penampil diuji baik secara mental dan fisik. Latihan intensif ini melibatkan langsung penggagas sekaligus manajer CamouFLAge, Bu Ekawati Marhaenny Dukut untuk bersama-sama Pak Alex menjadi pelatih dan sutradara bagi para penampil. Dengan suara yang tegas dan lantang, Pak Alex tidak tampak lelah sedikit pun saat memberikan arahan dan membetulkan gerakan-gerakan yang kurang lively hingga larut malam. Memang Pak Alex ini perlu diberikan apresiasi lebih dan acungan jempol karena berhasil menciptakan audio yang “keren” dan mampu membuat tiap kata dan irama musik di dalam operet terdengar sangat jelas sehingga membuat penonton terhibur dan bersedia mengikuti cerita operet sampai selesai.

Sewaktu CamouFLAgers dan penari latar di’mabuk’i oleh masukan, omelan, dan kritikan pedasnya Pak Alex, Eren Sandy mengakui, “Secara pribadi, tantangan yang saya hadapi adalah perbedaan standard yang cukup signifikan dari Bang Alex. Ia menuntut kami untuk dapat berperan layaknya para pemain teater profesional pada umumnya. Mimic dan ekspresi harus benar-benar memperlihatkan berbagai macam emosi manusia yang biasa ditunjukan dalam realita, Dalam latihan kami, Bang Alex merasa bahwa kami semua kurang luwes dan terlalu robotic. Terlalu kaku dan kurang ‘realistis’ dalam berakting, Cynthia juga tampak sedikit masam saat ditanya apa saja tantangan yang CamouFLAge hadapi ketika harus berangkat pagi dan pulang larut malam selama beberapa hari menuju hari H, “… yang pasti, berkurangnya jam tidur. Kami harus bisa menyesuaikan diri dengan ekspektasi tinggi dari Bang Alex, Bu Ekawati dan Pak Indra  yang adalah salah satu official dalam lingkaran pemerintahan. Kami harus bisa rela untuk mengorbankan waktu-waktu terakhir kami demi latihan,” di akhir kata Cynthia mengubah raut wajah masamnya itu dengan gelak tawa.

CamouflageUKMF CamouFLAge yang didirikan pada bulan November 2013 menurut Bu Ekawati, adalah singkatan dari kata Centre of Drama Group of the Faculty of Language & Arts’ Generation yang para pemainnya mempunyai tujuan untuk dapat berkamuflase apabila berakting. Menurutnya sejarah kelompok ini memulai permainannya sebagai kegiatan pendukung untuk matakuliah American Studies yang diampunya. Mahasiswa waktu itu diminta untuk berkelompok dan dinilai atas pemahamannya tentang Thanksgiving (2013) dengan bermain drama. Melihat bahwa mahasiswanya berbakat dan memerlukan tempat untuk berekspresi, maka pada acara Halloween para mahasiswa yang berminat main drama diberi kesempatan untuk mempergelarkan drama ciptaanya, The Witch and the Twitch (2014). Pada acara Thanksgiving,di tahun yang sama, diciptakannya drama Gobble-Gobble (2014) dimana para pemain bukan hanya dari mahasiswa dari  matakuliah American Studies  tetapi juga mengajak mahasiswa lain dari berbagai angkatan di Fakultas itu. Dilanjutkan olehnya, kelompok CamouFLAge ada sisi pelayanannya. Pada drama berjudul Christmas Charity (2015), pementasan drama ini diciptakannya untuk menggalang dana bagi para yatim piatu. Di tahun berikutnya, pada acara Festival Knowledge kelompok ini meramaikan suasana dengan bermain Easter Special  (2016).Meskipun sudah banyak drama yang disutradarinya, Bu Ekawati mengakui bahwa pertama kali CamouFLAge diundang untuk tampil di luar kampusnya sendiri adalah untuk mengisi acara AITWL di UNDIP pada tanggal 29 Oktober2016 dengan drama cerita klasik Alice in Wonderland. Dimintanya CamouFLAge untuk tampil di Natalan Bersama Gubernuran merupakan penampilan pertama di luar lokasi kampus, sehingga CamouFLAge merasa bangga terlibat di dalamnya.

Cynthia yang menjabat sebagai Ketua UKMF berharap bahwa kedepannya adik-adik kelas yang tergabung dalam CamouFLAge dapat menjadi penerus dan melanjutkan jerih payah para pendahulunya. “CamouFLAge ini mempunyai mimpi untuk dapat tampil di panggung dunia. Siapa tahu penampilan kami di operet ini dapat menjadi batu loncatan untuk membuka lebih banyak kesempatan lain di masa yang akan datang”. Tanpa kerja keras dan kerja sama tiap pemeran dan penampil, tentunya operet dalam acara Natal Bersama di Gubernuran ini tidak dapat berjalan dengan sukses dan mendapatkan tepuktangan yang meriah. Ditanya “What’s next, Ma’am?”, Bu Ekawati yang di masa lalu sebagai mahasiswa juga gemar bermain drama, mengakhiri wawancara dengan jawabannya yang antusias, “Please wait for a few months...kami tengah menyiapkan Drama Musikal kontemporer yang akan ditampilkan untuk tiga kali karena kami yakin permainan kami akan dapat menarik perhatian sebagian besar masyarakat di Jawa Tengah ini!”

Kategori: ,