Operet Unika Soegijapranata Isi Natal di Gubernuran
Senin, 16 Januari 2017 | 10:52 WIB
Kampussemarang 14_01_2017 Operet Unika Soegijapranata Isi Natal di Gubernuran

Sebagian pendukung operet FBS Unika Soegijapranata

Alkisah di dalam sebuah cerita, ada seorang bayi yang dicari oleh para raja dari berbagai belahan dunia. Bayi ini diharapkan menjadi penyelamat bagi dunia yang kala itu dinilai semrawut. Berabad-abad telah berlalu. Si tiga raja yang dulu menemui bayi mungil itu telah menitis ke tiga raja jaman sekarang dari beberapa etnis yang ada di Indonesia.

Tiga “raja” itu memperlihatkan dirinya di gedung Ghradika Bakti Praja kompleks Gubernuran Jawa Tengah Jumat malam (13/01/2017) di depan ratusan penonton yang ingin mendapatkan pesan natal khusus dari Administrator Diosesan Keuskupan Agng Semarang, Rm. FX Sukendar Wignyosumarto Pr. dan sambutan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pada peringatan Natal tersebut.

Itulah operet yang dimainkan kelompok drama Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unika Soegijapranata Semarang bimbingan Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum bekerjasama dengan tim audio Alex Purnomo. Operet ini mengisi salah satu peringatan acara Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 di Gedung Gubernuran Jateng.

Dalam operet, dikisahkan bahwa tiga raja itu ingin mengetahui apakah sudah ada perubahan dengan kondisi masyarakat yang lalu dan dengan yang sekarang. Sayang sekali, dunia yang moderen ini malah dinilai lebih kacau daripada yang lalu. Adanya pemabuk, begal, pemakai narkoba, pemeras, koruptor dan lain sebagainya telah membuat tiga raja ini prihatin sehingga ingin mencari sosok yang dapat menjadi penyelamat dari situasi yang kacau itu.

Diarahkan oleh Alex dan Ekawati, para penari yang tampil bagaikan robot dan para pemain drama mahasiswa semester 3 dan 5 dari progdi bahasa Inggris yang dengan memainkan berbagai bentuk karakter masyarakat saat ini telah membuat para penonton tertawa sekaligus terpana. Penonton tidak hanya terhibur namun juga merasa harus merefleksikan dirinya ketika dalam adegan operet, si koruptor ditangkap oleh seorang polisi yang harus menyamar sebagai wanita penggoda dan si pemabuk yang gampang diseret untuk menjadi pengkonsumsi narkoba hampir kehilangan nyawanya.  Beruntung kubu masyarakat putih mau bergabung dengan masyarakat merah sehingga menandakan bahwa keberagaman di masyarakat merah putih Indonesia dapat dijadikan satu dan menjadi penguat dalam melakukan kehidupan yang bermoral.

Diundang oleh para pemain operet, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang disimbolkan sebagai bayi yang telah tumbuh dewasa dan menjadi penyelamat dunia yang kacau balau itu naik ke panggung untuk memberi “wejangan”.

“Apa sebenarnya yang kita cari? Mengapa tidak ada rasa salah jika melakukan korupsi? Apakah kita sudah tidak punya rasa malu? Ditangkapnya salah seorang pejabat Jateng karena korupsi dan seorang kepala sekolah yang semena-mena mendisiplinkan murid dengan cara yang tidak wajar menjadi cambuk untuk refleksi diri” ujar Gubernur.

Gubernur berharap adanya prestasi bahwa Jateng merupakan warga yang terbaik untuk amnesti pajak, rencana untuk mengajak 17 wali kota untuk belajar tentang KPK, dan kesatu paduan dalam keberagaman etnis dan agama di Jateng menjadi harapan bagi semua menuju masyarakat yang didambakan dan dapat dibanggakan oleh semua. Mengakhiri wejangannya, Gubernur berpesan, “Mari kita manfaatkan kebhinekaan atau kemajemukan kita sebagai perekat bagi kesatuan bangsa Indonesia”. (http://www.kampussemarang.com )

Kategori: