Kesuksesan Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc Rektor Unika Soegijapranata Semarang
Selasa, 3 Januari 2017 | 17:15 WIB

JTP 28_12_2016 Inspiring Person

Mulai Bisnis Anak Ayam hingga Jadi Rektor

Jalan kesuksesan orang memang sangat unik dan menginspirasi dalam sejarahnya. Seperti sosok yang satu ini, Prof Dr Ir Yohanes Budi Widianarko MSc yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata Semarang, yang masa mudanya juga mengalami hidup susah.

Ia juga pemah belajar bisnis dengan bekerja memasarkan anak ayam "khutuk" (Day Old Chick, DOC) menggunakan mobil pickup. Saat itu, ia mengawali bisnisnya juga masih kuliah S1 Peternakan di Universitas Diponegoro (Undip).

Ditemui di sela senggangnya, Pakar Teknologi Pangan Unika begitu antusias bicara sejarah hidupnya. Di masa lalunya juga banyak waktunya yang terbuang sia-sia, maklum waktu itu ia masih mencari jatidiri. "Bisnis ayam saya tekuni sejak kuliah S1 Peternakan Undip mulai semester awal. Saya berpikir, memang ingin menjadi pebisnis dan waktu itu tidak ada bayangan ingin jadi dosen seperti sekarang ini. Semua saya lakukan, bahkan juga pemah jadi 1 salesman persewaan kaset video dan jual soal-soal ujian Perintis 1 dan Perintis 4 (seperti SNMPTN) di pinggir jalan,” ucapnya tertawa geli.

Prof Budi lahir di Kota Semarang dan dibesarkan di Kota Salatiga, dan saat kuliah di Undip juga punya kebiasaannya suka menulis, terkadang sering nongkrong di depan perpustakaan bersama mahasiswa fakultas lain melakukan diskusi-diskusi dan perdebatan ringan. Sejak tahun 1983 dirinya sudah aktif menulis-menulis artikel untuk dikirim ke media massa. "Singkat kata akhirnya saya lulus diwisuda dari S1 Peternakan, namun yang saya rasakan setelah diwisuda seperti ada perasaan hampa dan kosong. Sempat berpikir saya sebenarnya punya kemampuan apa, sementara bisnis anak ayam juga begitu-gitu saja, kurang menantang," ujamya.

Di saat belum menemukan jati dirinya, Prof Budi lantas teringat bahwa tes bakat kemampuannya waktu di SMA Negeri di Salatiga dirinya cocoknya menjadi guru. Tetapi dirinya merasa tidak cocok jadi guru karena buat apa pekerjaannya tidak bisa membuat orang kaya waktu itu. "Ayahnya pun juga meminta saya berpikir serius apa yakin bisa jadi guru dan meminta untuk berpikir, sementara ibu justru mendukung," ungkapnya.

Di penghujung akhir kuliah, Budi sempat mengajukan permohonan Beasiswa Bakat Prestasi (tanpa ikatan) dan Departemen Pendidikan Kebudayaan lewat informasi di Undip bermodalkan prestasi akademik yang dimilikinya tetapi ternyata yang diterimanya malah Beasiswa Ikatan Dinas untuk menjadi dosen. Hal ini menjadikannya semakin bingung dan dirinya tak ingin bekerja harus ada ikatan dinas sementara pekerjaan nyambi bisnis ternak anak ayam juga masih jalan. Lagi-lagi orangtuanya memberi saran yang agak bertolak belakang, ibu mendukung tetapi sang ayah memintanya untuk berpikir ulang. Akhirnya, dia menolak tawaran ikatan dinas itu. "Saya kemudian malah sempat dititipkan ke teman orangtua yang cukup sukses sebagai pengusaha, untuk mengenal lebih jauh dunia usaha," ujarnya. Namun itu tidak bisa bertahan lama, kemudian Budi keluar dan melamar di perusahaan pembibitan anak ayam (parent & grandparent stocks) multinasional di Tangerang. hanya dalam waktu sekitar setahun, Budi sudah disergap kebosanan, dia pamit ke bos keluar kerja karena ingin kerja jadi dosen saja.

Lika-liku hidup memang membingungkan, singkat cerita dia pulang ke Salatiga melamar jadi dosen di UKSW Salatiga dan diterima di Fakultas Biologi. Sedikit beruntung dia mendapat perhatian pimpinan waktu itu karena diminta untuk menjadi "petugas" antar jemput tamu asing di bandara, dan kadang juga dijadikan moderator bagi para dosen tamu asing itu. Pengalaman itu secara berangsur membuatnya semakin percaya diri. Salah satu buah dari seringnya dia bertemu dan kenal baik dengan dosen asing dirinya mendapat beasiswa S2-S3 dari Pemerintah Belanda dan kuliah di sana. "Saya sekitar 1987-1994 sudah sempat menjadi dosen muda, pembantu dekan dan Ketua Jurusan di UKSW," jelasnya. Singkat kata, di tengah masa studi S3 nya di Belanda Budi memutuskan untuk pindah ke Kampus Unika yang waktu itu membutuhkan dosen dan langsung mendapat tugas dan tanggungjawab cukup berat jadi dekan mengelola Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika.


Sempat Putus Asa Membesarkan Unika

Rektor Unika Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc dikenal di Unika seperti sekarang ini perjuangannya juga cukup panjang. Menjadi orang baru dan langsung menangani fakultas baru yakni Fakultas Teknologi Pertanian dengan Program Studi Teknologi Pangan (FTP) dan sempat sedih setiap tahun mahasiswa yang daftar sedikit cuma 22 orang, dan berkeluh kesah dengan pimpinan rektorat hampir putus asa serta kecil hati malu dengan dosen lain. "Itu sekitar tahun 1995-1997, keadaan itu juga masih kuliah S3 di Belanda dan sering ke Semarang karena penelitiannya di sini," katanya.

Dirinya merasa waktu itu di Unika kondisinya belum berkembang seperti sekarang ini. Pimpinan hanya meminta dirinya berdoa dan berdoa, bersyukur perlahan pada tahun 1998 jumlah mahasiswa baru FTP mulai bertambah jadi 50 orang pertahun. Kemudian tahun 2000 pendaftar bertambah hingga mencapai 250 dan hanya 100 yang diterima, karena lama-lama orang tahu kualitas lulusan FTP. "Saya kemudian dipromosikan oleh pimpinan jadi Wakil Rektor Empat bidang Pengembangan dan Kerjasama dan ini juga tidak mudah. Banyak hal saya tempuh untuk meningkatkan Unika, waktu saya kuliah S3 saya gunakan untuk menjalin kerjasama dengan kampus luar negeri hingga banyak menarik perhatian orang karena sering ada penelitian oleh mahasiswa dan peneliti asing di sini,” jelasnya.

Untuk menguatakan kemajuan Unika, Prof Budi juga mendirikan pusat karir SSCC (Soegijapranata Student Career Center) yang mengelola job fair dan aneka kegiatan persiapan dunia kerja. SSCC punya mandat untuk membantu para lulusan agar mudah mencari pekerjaan dan tak terasa sudah 24 kali job fair digelar. "Ya begitulah perjuangan dari kecil saya ikut merasakan saat Unika belum seramai seperti sekarang ini mahasiswanya mencapai ribuan. Saya juga sempat ikut seleksi pilihan rektor pada 2005 dan mendapat suara terbanyak, tetapi keputusan yayasan berbicara lain. Pada 2009 saya diminta ikut lagi pilrek meski waktu itu tidak berminat, akan tetapi dari 10 fakultas, 9 di antaranya meminta saya maju dan akhirnya terpilih untuk periode pertama hingga sampai dua periode. Mungkin semua sudah mulai percaya kinerja saya," jelasnya.

Dikatakan, semasa menjadi rektor sejak 2009 dirinya terus membangun kebersamaan dengan dosen untuk memajukan Unika bersama-sama. Berharap jangan rasa saling tidak percaya di antara para karyawan dan dosen, serta perlahan Unika akhirnya sukses hingga sekarang ini. "Waktu itu, setelah delapan tahun di Unika (tahun 2002) dirinya juga mengajukan guru besar ke dikti dan diterima dan bergelar profesor," pungkasnya. (Ispiring Person 2016 – Jateng Pos , 28 Desember 2016, hal. 46 )

Kategori: