Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia: Perhatikan Kondisi Geologis dan Geografis
Kamis, 5 Januari 2017 | 11:56 WIB

Soal deformasi di salah satu pilar Jembatan Cisomang, Anda melihatnya ini murni masalah teknis atau ada kelalaian perencanaan atau pemeliharaan?
Saya belum tahu persis kondisinya secara teknis. Namun, secara umum, dalam membangun dan mencari trase jalan dan sebagainya, persoalan tanah atau kondisi geologis lokasi pembangunan menjadi hal yang krusial. Di teknik sebutkan, kalau tanah-tanah yang bermasalah sebaiknya dihindari.
Makanya, salah satunya pro-kontra kereta cepat salah satunya karena masalah trase jalan juga. Karena, kalau kita menilik masa lalu, ketika zaman Belanda dulu kan mereka mencari trase jalan meski berkelok-kelok namun tidak banyak hal terkait bencana alam. Paling longsor saja.
Hanya, Belanda bangun trase kan selalu berkelok-kelok. Sekarang mungkin para ahli menganggap "Ah, ini kita bisa dengan teknologi kita bisa lakukan. Tidak ada yang salah dengan itu, teknologi kita sudah siap. Hanya saja mungkin biaya pemeliharaan yang mahal." Konsekuensinya kan begitu, ya, ketika kita ingin menghindari cara-cara yang berat. Kita hindari itu, biaya lebih murah.
Namun, sekarang orang pengen cepat semua. Dulu jalan Jakarta-Bandung kita lewat Puncak. Setahu saya, di Puncak kan risiko paling longsor saja. Lagian, jembatan Belanda yang dulu dibangun walau tinggi-tinggi juga aman-aman aja tuh.
Memang, teknologi solusinya. Pemerintah dalam hal ini, harus memerhatikan aspek teknis. Saya yakin pemerintah sudah persiapkan soal ini.

Antisipasi ke depan agar kendala teknis seperti ini bisa diminimalkan?

Setiap pembangunan, penentuan jalan trase, itu pasti ada penyelidikan tanah, melihat kondisi geologis, kondisi geografis. Ahli-ahlinya pasti punya cara mengukur dan pemetaan untuk ini. Nah, secara geologis kan kondisi di setiap lokasi proyek bervariasi. Itu teknis, sih, ya. Memang saya lupa, tadi ada batasan apa tertentu sehingga mereka bakal berani bangun di situ. Apakah itu melewati batas itu? Saya bukan ahlinya.
Kalau pembangunan secara umum, persoalan tanah menjadi hal yang krusial sejak mula, apalagi sekarang pembangunan di Papua. Makanya, saya melihat pembangunan di Papua itu ikuti saja kelak-keloknya.

Insiden Cisomang ini membuat pemerintah membatasi jenis kendaraan yang lewat. Rekayasa lalu lintas seperti apa yang tepat?

Nah, ini hubungannya tentu dengan jalan alternatif dan moda transportasi alternatif. Intinya, pemerintah harus siap ketika satu jalan ada hambatan, ada jalan atau cara lain agar sistem transportasi tetap jalan. Untuk kasus Cisomang, masyarakat masih bisa pakai jalur alternatif melalui Subang atau Puncak, misalnya. Cipali juga bisa menjadi alternatif kan, nanti bisa lewat Subang juga. Pemerintah harus dengan bijak menyampaikan kepada masyarakat apa saja alternatifnya.
Kereta juga bisa, sebetulnya. Jalur Jakarta-Bandung untuk kereta mungkin sempat menurun penumpangnya setelah ada tol. Nah, dengan ada insiden ini, menjadi masukan bagi pemerintah agar tak melupakan alat transportasi satu ini, karena masyarakat pasti banyak beralih ke kereta selama Cisomang diperbaiki.

Sejauh mana imbas ke angkutan Natal dan tahun baru?

Ya, kalau sudah diberitahu seperti ini, saya rasa pemerintah tanggap dan memberikan alternatif-alternatif. Masyarakat juga saya rasa ada yang menunda atau pakai angkutan umum kereta. Ya, pemerintah pasti sudah berhati-hati, jadi mungkin kurangi beban juga.  ( http://www.republika.co.id )

Kategori: