Dea Goesti Rizkita – Angkat Gastronomi Nusantara
Selasa, 31 Januari 2017 | 7:58 WIB
JTP 30_01_2017 Dea Goesti Rizkita - Angkat Gastronomi Nusantara

Dea Goesti Rizkita, Runner Up Puteri Indonesia Jateng 2017.

Bagi Dea Goesti Rizkita, mengikuti ajang bergengsi pemilihan Puteri  Indonesia Jawa Tengah 2017 harus dipersiapkan secara khusus. Selama dua tahun dara kelahiran Bandung, 28 Juni 1993, ini secara mematangkan diri guna mencapai apa yang ingin diraihnya.

“Dua tahun saya persiapkan, mulai dari Juara Duta Wisata Jateng 2015, lalu ikut juga Wajah Femina 2016. Dan gongnya mau aku tutup mengikuti Puteri Indonesia 2017,” cetus fnalis dua Puteri Indonesia Jateng 2017 ini.

Untuk itu, penyuka kuliner Nusantara ini memersiapkan kembali guna menghadapi audisi di tingkat nasioanal. Ya, Top of Three atau tiga terbaik pemilihan ini akan mengikuti audisi di Jakarta pada minggu kedua Februari. Selain wawasan dan pengetahuan umum yang harus dipelajarinya, Dea rajin berolahraga agar stamina tetap fit dan badan proporsional.

“Kebetulan aku Duta Wisata dan aku suka kuliner, kini aku perdalam pengetahuan tentang pariwisata dan kuliner. Aku punya visi ingin memadukan antara wisata dan kuliner menjadi wisata gastronomi,” kata mahasiswa S2 Psikologi Unika Soegijapranata Semarang ini.

Dea melihat jika wisata gastronomi di Jawa Tengah kaya sekali, di mana menu yang enak-enak dan tempat wisata yang bagus. Orang kebanyakan hanya tahu bentuk wujudnya saja, namun belum mengetahui seperti apa cara membuat prosesnya. Gastronomi, ujar dia, tak hanya menikmati makan saja tapi terlibat mulai dari proses dan pengolahan sampai jadi.

“Gastronomi akan membawa orang atau wisatawan pada sensasi pengalaman yang berbeda saat menikmati sajian kuliner. Mereka akan diikutsertakan bagaimana mengolah dan memasaknya, ini sangat berbeda dan unik,” katanya.

Dia mencontohkan, makanan sederhana seperti pecel, misalnya, bisa dipaketkan menjadi wisata gastronomi di suatu destinasi wisata. Mulai dari berkunjung ke ladang, kemudian belajar menanam jenis sayuran bahan pecel, diajak memetik sayuran, mengolah, dan memasaknya sampai jadi olahan pecel.

Selesai dari sana, wisatawan diajak belajar memasak dengan cara orang lokal. Misal, memasak di tungku dengan peralatan tradisional dan makan bersama-sama dengan cara orang lokal. Kemudian saat makan ada chef yang menjelaskan mengenai alasan makanan yang disantap lebih sehat serta budaya makan setempat.

“Ini potensi wisata yang bagus, harus diangkat karena menu tradisional di Jateng itu banyak sekali dan enak-enak,” papar Dhea, yang memiliki usaha dekorasi.

Dengan kata lain, lanjut Dea, wisata kuliner tersebut memberi pengalaman. Hasil dari proses belajar budaya yang berbeda. Kuliner bukan lagi sebagai sesuatu yang dikonsumsi melainkan menjadi sifat atau atribut yang berhubungan dengan produk pariwista.

Namun demikian, Dea melihat, orang Indonesia, khususnya di daerah sebenarnya telah melakukan proses terkait wisata gastronomi tersebut. Sayangnya, masih banyak yang belum tersampaikan, seperti penjelasan akan filosofi makanan.

“Kita sudah punya itu, tapi belum sadar dan belum mengemas itu sebagai gastronomi. Kalau dikemas, bisa dijual dan orang paham,” ungkapnya. (http://jatengpos.co.id)

Kategori: