Tim FH UGM Berjaya di Kompetisi Pengadilan Semu
Rabu, 7 Desember 2016 | 11:52 WIB

WWS 06_12_2016 Tim FH UGM Berjaya di Kompetisi Pengadilan Semu

Sebanyak 22 tim bersaing dalam kompetisi moot court (pengadilan semu), yang digelar Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK)Unika Soegijapranata bekerjasama dengan International Commitee of the Red Cross (ICRC), di Gedung Antonius dan Thomas Aquinas Kampus Ben dan Dhuwur,Jumat-Ming gu (2-4/12).

Pengadilan semu hukum Humaniter Internasional tersebut merupakan acara ta hunan, untuk meningkatkan ke sadaran tentang berbagai isu kemanusiaan dan hukum Humaniter Internasional di Indonesia. Nilai prestisius kompetisi ini terletak pada ketatnya persaingan dan perjuangan dalam menunjukkan kemampuan bahasa Inggris dan kedalaman kompetensi ilmu hukum masing-masing tim.

Selama ajang tersebut berlangsung, peserta dari berbagai perguruan tinggi saling berhadapan baik sebagai penuntut maupun pembela. Mereka berusaha meyakinkan hakim yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri, dengan latar belakang akademisi, pengacara firma hukum tingkat internasional, dan lembaga swadaya masyarakat.

“Ajang ini sebagai wadah untuk mempromosikan dan membumikan hukum kemanusiaan bagi mahasiswa. Kompetisi di Unika Soegijapranata ini, digelar untuk menyeleksi tim yang akan mewakili Indonesia di tingkat Asia Pasific dalam kompetisi yang sama. Ini juga menjadi bagian dari upaya kita untuk mempersiapkan diri jika Indonesia sudah meratifikasi International Criminal Court,” papar Legal Advisor ICRC Rina Rusman, disela penutupan kegiatan, Minggu (4/12) malam.

■ Penyebaran Nilai
Selain menyiapkan calon praktisi hukum mengenai hukum kejahatan kemanusiaan, kompetisi tersebut juga sebagai bentuk penyebaran nilai-nilai hukum dan keadilan. Mahasiswa juga akan terlatih dalam menghadapi kasuskasus hukum terutama kejahatan kemanusiaan.

Dekan FHK Unika Soegijapranata Benedictus Danang Setyanto menambahkan, peradilan yang digunakan pada kompetisi ini berbeda dengan sistem peradilan di Indonesia. “Ajang ini menggunakan meng gunakan sistem internasional sehingga berbeda, contohnya peradilan di Indonesia tidak pernah merujuk pada kasus-kasus yang sudah pernah terjadi,” terangnya.

Setelah melalui penjurian, tim Fakultas Hukum UGM berhasil meraih poin tertinggi dan berhak mewakili Indonesia dalam kompetisi Hukum Humaniter Internasional tingkat Asia Pasifik, yang digelar di Hong Kong pada Maret 2017 mendatang. ( Wawasan, 6 Desember 2016 hal. 11)

Kategori: