Maria Bekerja di Warung Makan agar Bisa Kuliah
Senin, 19 Desember 2016 | 14:41 WIB

SM 19_12_2016 Maria Bekerja di Warung Makan agar Bisa KuliahLulus Cumlaude dari Unika

BERASAL dari keluarga tak mampu, tidak lantas mem-buat Maria Ida Widayanti menyerah untuk meneruskan pendidikan. Dengan kegigihan dan kerja keras, Maria berjuang melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi.

Anak dari seorang tukang becak asal Grobogan ini, bahkan akhirnya berhasil lulus cumlaude dari Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata. Maria lulus dengan IPK 3,5. Dia diwisuda Sabtu (17/12) lalu pada wisuda periode III tahun ini.

Tidak mudah bagi perempuan kelahiran 13 Juni 1990 Desa Juwana, Karangrejo, Grobogan ini untuk dapat menyelesaikan studi Strata 1- nya. Maria, yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Petrus Mujianto dan Cecilia Kartipah, harus kerja keras bekerja di salah satu warung makan di Kota Semarang agar bisa kuliah. Perjuangannya penuh suka dan duka. Ayahnya, Petrus Mujianto hanya bekerja sebagai tukang becak dan buruh serabutan bangunan di Kota Semarang. Sedangkan ibunya, Cecilia, ibu rumah tangga dan tinggal di Grobogan bersama adik serta kakaknya.

Saat lulus SMP, dara manis ini bahkan sempat tidak langsung melanjutkan pendidikan ke SMA. Sekolahnya sempat terhenti karena keterbatasan biaya. Baru setahun kemudian pada 2006, ia bisa melanjutkan studinya ke SMA I Grobogan.

Larut Malam
Selepas lulus SMA, karena desakan kebutuhan hidup dan keterbatasan biaya, Maria pun harus bekerja di warung makan di Krajan, Peterongan, Semarang itu, milik kenalan ayahnya.

Hingga kemudian pada 2012 lalu, ia mendapat informasi ada kesempatan kuliah di Unika melalui program beasiswa penuh. Ia pun mendaftar ke Fakultas Psikologi Unika melalui program tersebut. Gayung bersambut, Maria mendapat beasiswa penuh dari semester 1 hingga 7 dengan persyaratan IPK lebih dari 3,0.

"Orang tua berpesan pada saya. Kalau sayapunya impian, gapailah. Apa yang menjadi keinginanmu akan terlaksana," ujarnya.

Selama kuliah, Maria tinggal di warung makan Handayani tempatnya bekerja. Waktunya kuliah, ia pergi ke kampus. Selepasnya, pulang dan membantu kembali di warung sampai larut malam. Dari hasil keringatnya membantu kerja serabutan di warung, ia mendapat gaji yang digunakan untuk
mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membeli buku kuliah, fotokopy dan sebagainya.

Selain kuliah, Maria juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan non akademik di kampus. Ia pernah menjabat sebagai Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi periode 2012-2013 dan Komandan Kelompok Sukarela (KSR) Unika 2013-2014. Di tengah sibuknya membagi waktu antara kegiatan non akademik, kuliah dan bekerja, ia juga menjadi asisten dosen Bio-Psikologi pada 2012-2013.

"Atas pencapaian ini, saya dan keluarga sangat bersyukur. Bagi saya ini merupakan keajaiban dan anugerah dari Tuhan, mengingat sebelumnya saat lulus SMP saja, saya harus bekerja sampai akhirnya bisa melanjutkan ke SMA dan kuliah hingga sarjana," tambah dia.

Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Y Budi Widianarko pun memberikan apresiasi pada Maria. Yang bersangkutan telah berusaha keras untuk kuliah. Pihak kampus memberikan beasiswa penuh kepadanya selama 7 semester.

"Kami sangat bangga padanya. Dia kuliah, nyambi kerja dan aktif di organisasi. Kami senang bisa membantu. Kami ingin generasi muda memiliki kepercayaan diri seperti dia yang percaya kesempatan belajar terbuka untuk siapa saja," imbuh Budi. (Suara Merdeka 19 Desember 2016, hal. 23)

Kategori: