Kota Susastra di Tengah Ladang Jagung
Senin, 19 Desember 2016 | 8:02 WIB

SM 18_12_2016 kota-susastra-di-tengah-ladang-jagungKetika menginjakkan kaki di Cedar Rapids, Negara Bagian Iowa, Amerika Serikat, saya merasa seperti bermimpi. Empat tahun silam, ketika lulus S3 dari Universitas Iowa dan kembali bertugas di Fakultas Bahasa dan Seni Unika Soegijapranata Semarang, saya sempat berpikir tidak akan bisa lagi kembali ke Iowa.

Namun, melalui hibah penelitian Kerja Sama Luar Negeri dan Publikasi Internasional dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, saya kembali menginjakkan kaki di Universitas Iowa, beberapa pekan lalu. Saya sempat merasa gembira ketika seorang teman di Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania, mengabarkan akan ada blizzard warning di Midwest. Itu artinya saya bisa melihat salju. Tapi ternyata ketika pesawat mendarat di Cedar Rapids, sama sekali tidak ada tanda-tanda salju turun. Peringatan dari badan metereologi di Amerika Serikat hanya berupa wind advisory yang berarti bakal ada angin kencang tanpa hujan salju. Ketika saya diterima sebagai mahasiswa S3 di Universitas Iowa, banyak teman saya di universitas lain yang bertanya mengapa saya memilih universitas yang terletak di Iowa City tersebut. Pertanyaan ini membuat saya khawatir kalau saya bakal tidak kerasan di kota itu.

Kesan pertama saya datang di Iowa City memperkuat kekhawatiran saya kalau kota ini bukan kota yang menyenangkan karena di mana-mana yang terlihat hanya ladang jagung dan ternak. Namun setelah saya memulai orientasi program, kuliah, dan bertemu dengan teman dari berbagai negara termasuk Indonesia, saya mulai mencintai kota ini. Apalagi, Iowa City adalah salah satu dari banyak Kota Pelajar di Amerika Serikat.

Kota ini tidak begitu ramai, populasinya hanya sekitar 74.000 jiwa namun ada kota lain yang berdekatan yang membuatnya tampak ramai. Bagi saya, ini adalah kota yang ideal karena tidak terlalu ramai namun semua fasilitas lengkap. Tidak banyak orang tahu bahwa Iowa City dinobatkan sebagai The City of Literature atau Kota Susastra oleh UNESCO bersama beberapa kota lain, seperti Edinburgh di Skotlandia dan Melbourne di Australia.

Kota-kota tersebut merupakan bagian dari UNESCO Creative Cities Network yang menekankan industri kreatif dan budaya sebagai bagian penting dalam perencanaan pembangunan kota dan hubungan internasionalnya. Julukan tersebut tentunya tidak terlepas dari Universitas Iowa dengan program Creative Writing-nya yang telah tersohor di seluruh dunia. Iowa Writers’Workshop merupakan program bergengsi yang telah menghasilkan banyak pengarang tersohor.

Festival Buku

International Writing Program menarik minat para pengarang dari seluruh dunia untuk datang dan melakukan reading tours. Saat kuliah di Universitas Iowa, saya sempat bertemu dengan Andrea Hirata yang datang untuk program tersebut. Ada banyak lagi pengarang yang datang seperti Ayu Utami, Nirwan Dewanto, dan Laksmi Pamuntjak. Namun, saya hanya sempat bertemu dengan Andrea Hirata karena kesibukan studi saya di sana. Selain itu, Iowa City juga mempunyai Festival Buku yang ramai dikunjungi oleh orang di sekitar kota itu.

Festival tersebut menarik karena acaranya sangat bervariasi mulai dari pameran buku, story telling, dan diskusi buku untuk pengunjung berbagai umur. Tentu saja, diskon buku merupakan daya tarik terpenting dalam acara tahunan tersebut. Iowa City Public Library (ICPL) juga merupakan bagian terpenting di Kota Susastra ini. Untuk kota sekecil Iowa City, ICPLtergolong sangat lengkap koleksinya. Buku terbaru dipajang tersendiri. Perpustakaan lokal ini juga mempunyai ruangan khusus untuk pengunjung yang ingin belajar mandiri atau berkelompok. Ada ruangan khusus untuk mereka yang ingin mendengarkan atau menonton video.

Untuk meningkatkan minat baca, perpustakaan mengadakan banyak acara story telling, book walk, dan acara lain yang bisa menarik lebih banyak pengunjung. Toko buku lokal dan organisasi publik di Iowa City juga seringkali mendatangkan pengarang lokal maupun nasional untuk membacakan buku mereka yang terbaru.

Amy Tan, pengarang The Joy Luck Club, pernah datang dan memberikan presentasi mengenai karya-karyanya. Di pusat Iowa City, toko buku Prairie Lights secara teratur mendatangkan pengarang-pengarang lokal maupun nasional untuk mengadakan diskusi susastra.

Di trotoar pusat kota, banyak terpasang besi lempengan yang isinya kutipan terkenal pengarang dunia. Misalnya WPKinsella, Willem Shirer, Kurt Vonnegut, dan masih banyak pengarang lain. Trotoar ini disebut dengan Literary Walk. Kreativitas dan intelektualitas seseorang benar-benar dimanjakan dengan adanya beragam kegiatan yang mengasah daya kreatif dan intelektualitas seseorang di kota itu. Sekalipun berada di tengah-tengah ladang kacang, jagung, dan kedelai, Iowa City memberikan kontribusi penting dalam dunia kesusastraan dan literasi.

__________________________
Cecilia T. Murniati
Dosen Fakultas Bahasa dan Seni
Unika Soegijapranata

( http://berita.suaramerdeka.com , Suara Merdeka 18 Desember 2016 hal. 17 )

Kategori: