Anak Tukang Becak jadi Sarjana Psikologi – Belajar Terbuka untuk Siapa Saja
Rabu, 21 Desember 2016 | 9:29 WIB

WWS 19_12_2016 Anak Tukang Becak jadi Sarjana PsikologiKESEMPATAN belajar dan berkembang, terbuka untuk siapa saja. Tidak membeda-kan golongan, agama, harta atau etnis tertentu. Keuletan, disiplin, kemauan dan kerja keras diperlukan untuk meraih cita-cita tersebut.

Semangat ini yang dimiliki Maria Ida Widayanti, anak tukang becak yang berhasil membuktikan meraih gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata. Tidak hanya itu, anak ke-3 dari 4 bersaudara ter sebut berhasil meraih S1-nya dengan predikat cumlaude atau IPK 3,51.

"Opo sing dadi pinginmu bakal kelakon (apa yang jadi keinginanmu bakal terlaksana, red), pesan yang disampaikan sang ibu, menjadi salah satu pelecut semangat Maria, untuk bisa menyelesaikan pendidikannya. Putra pasangan Petrus Mujianto dan Cecilia Karti-pah ini, menjadi salah satu lulusan, yang diwisuda Bersambung ke hal 19 kol 1 dalam Wisuda Periode III Unika Soegijapranata di kampus Bendhan Dhuwur, Semarang, Sabtu (17/12).

"Bangga, senang dan bahagia. Ini semua tidak lepas dari pertolongan-Nya. Semua perjuangan yang saya lakukan tidak sia-sia, saya percaya bahwa Tuhan akan selalu membantu hambanya," papar Maria, di sela-sela wisuda.

Kisah perjalannya penuh suka duka, yang dilalui dengan ketabahan dan semangat pantang menyerah. Maria dibesarkan dari keluarga kurang mampu secara ekonomi, membuat cita-citanya untuk mengenyam pendidikan hampir saja tidak tercapai.

Selepas lulus SMP, dirinya bahkan harus berhenti setahun sebelum meneruskan ke jenjang SMA. Persoalannya, juga karena biaya. Hal serupa juga dihadapi saat lulus SMA, keinginan untuk berkuliah juga ditunda, karena desakan kebutuhan hidup dan keterbatasan biaya.

"Habis lulus SMA, saya bekerja membantu di warung makan Handayani di daerah Wonodri, Semarang. Kebetulan bapak kenal dengan pemilik warung tersebut, sebab becaknya sering mangkal di sana. Saya mulai bekerja di sana tahun 2011, tidurnya juga di warung itu," paparnya.

■ Cari Beasiswa
Selama bekerja di warung tersebut, Maria aktif bertanya dan mencari beasiswa, hingga datang kesempatan untuk meneruskan studi di Fakultas Psikologi Unika melalui program Beasiswa Penuh. Pada program ini, gadis asal Desa Juwana, Karangrejo, Purwodadi tersebut, men-dapatkan beasiswa penuh hingga semester VII, den-gan syarat IPK minimal 3,0.

Meski mendapat beasiswa, dirinya tetap bekerja di warung tersebut. Gaji dari warung digunakan untuk mencukupi kebutuhan kuliah, seperti membeli buku dan lainnya, hingga meringankan beban keluarga di rumah.

"Sewaktu kuliah, saya sempat cuti setahun, di semester akhir, sebab beasiswa hanya sampai semester VII. Jadi, pas semester VIII saya tidak punya biaya. Saya putuskan untuk cuti dulu," terangnya lagi.

Di masa-masa cuti untuk mencari biaya perkuliahan tersebut, tangan Tuhan kembali berbicara. Dia bertemu dengan seorang suster, yang kemudian membantu biaya kuliah melalui yayasan keagamaan.

"Puji Tuhan, saya berhasil menyelesaikan perkuliahan. Saya ingin membuktikan bahwa selama kita berusaha dan berniat sungguh-sungguh,pertolongan Tuhan datang disaat yang tidak kita duga," paparnya lagi.

Maria pun semakin gembira, sebab setelah lulus tanpa menunggu lama, dirinya sudah langsung bekerja di Lembaga Psikologi Terapan (LPT) Persona di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Kegembiraan pun dirasakan keluarga besarnya, terlebih dirinya merupakan sarjana pertama di lingkungan mereka.

Rektor Unika Prof Dr Y Budi Widianarko, mengapresiasi positif capaian yang diraih Maria. Menurutnya kesempatan belajar terbuka untuk siapa saja, kunci sukses tersebut selain ketekunan dan semangat, yani kepercayaan diri.

"Jika Maria menemukan kepercayaan diri di Unika, maka kampus kami mampu memberikan kepercayaan diri bagi mereka, dan tidak mendiskriminasi kelompok berpenghasilan lemah," terangnya. (wawasan Senin Pon, 19 Desember 2016 hal. 17 )

Kategori: