PPT: Menggali Lebih Dalam Keterlambatan Tumbuh Kembang Anak
Rabu, 16 November 2016 | 15:02 WIB

neoWorkshop yang diadakan oleh Pusat Psikologi Terapan Unika Soegijapranata pada (11-12/11) berlangsung dengan sangat “panas”. Dalam arti bahwa peserta sangat antusias dalam mengikuti berbagai dinamika yang ada karena begitu banyak informasi yang dapat diperoleh dari workshop berjudul “Introduction to Sensory Processing Intervention”. Workshop yang membahas secara mendalam mengenai keterlambatan tumbuh kembang anak ini diikuti sekitar 27 peserta, yang terdiri dari psikolog, terapis, dan alumni dari program Magister. Menurut Lily Marlina M.Psi.,Psikolog, selaku ketua acara, mengatakan bahwa kegiatan ini memang sengaja dikhususkan untuk kalangan tertentu saja karena materi yang disampaikan cukup banyak dan berat. Berdasarkan pengalaman beliau sebagai konsultan di bidang anak, saat ini ada semakin banyak kasus mengenai keterlambatan tumbuh kembang anak, namun pengetahuan mengenai hal tersebut dirasa masih kurang. Maka dari itu beliau berinisiatif untuk mengadakan acara semacam ini.

Pembicara dari workshop ini adalah Vonny Susanty, Amd. OT., M.Psi., beliau merupakan praktisi yang sudah memiliki pengalaman kurang lebih 15 tahun dalam bidang anak. Maka dari itu materi yang disampaikan juga dibuat sepadat mungkin sehingga para peserta bisa mendapatkan informasi yang total. Hari pertama yaitu Jumat (11/11) membahas kepada teori dasar dari sensory processing sendiri, dimana terbagi menjadi sensori pendengaran, penglihatan, peraba, pembau, dan pengecap. Semua sensori tersebut dipengaruhi oleh otak, dan semuanya saling berkaitan karena jika ada masalah di salah satu bagian maka akan sangat mempengaruhi bagian yang lainnya. Selain menyampaikan faktor penyebab dan keterkaitan antar sensori, pembicara juga menyampaikan mengenai solusi untuk bagaimana menangani berbagai kasus terkait. Menurut pembicara, ada 3 tipe anak dalam proses tumbuh kembangnya, pertama adalah anak tipikal, di mana anak mengalami proses yang normal dan baik serta semua organ sensoriknya berfungsi sesuai dengan usianya. Kemudian tipe kedua yaitu anak yang butuh distimulasi, yaitu ada sedikit keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Namun anak pada tipe ini masih dapat ditangani dengan stimulasi dari orang tua. Lalu tipe yang terakhir adalah anak yang butuh diintervensi, yaitu anak yang sensorisnya memiliki gap yang jauh dengan usianya. Disinilah peran dari psikolog untuk melakukan intervensi atau terapi bagi anak tersebut. Karena jika dibiarkan saja maka gap yang terjadi akan panjang dan sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Maka dari itu pembicaraan di hari pertama cukup menguras pikiran dan berat. Walaupun begitu peserta sangat antusias dan bersemangat khususnya karena mereka melontarkan banyak pertanyaan terkait  materi tersebut. Sedangkan di hari kedua, pembahasan lebih mengarah kepada contoh nyata dalam bentuk studi kasus. Di mana disini  peserta diminta untuk lebih banyak menganalisis mengenai permasalahan keterlambatan tumbuh kembang anak.

Acara ini sebenarnya merupakan acara puncak dari serangkaian kegiatan yang diadakan oleh PPT di tahun ini. Di awal tahun ini PPT telah mengadakan gathering khusus bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan orang tua, dimana dalam kegiatan tersebut anak akan melakukan gathering yang berisi beragam kegiatan, sementara itu para orang tua diajak untuk mengikuti talkshow. Kemudian pada pertengahan tahun, telah diadakan liburan khusus selama kurang lebih 1 minggu bagi ABK. Selama 1 minggu tersebut anak akan diajak untuk melakukan kegiatan bersama sekitar 3 hingga 4 jam per harinya. Kemudian acara puncaknya adalah workshop yang dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Introduction to Sensory Processing Intervention dan The Readiness to Handwriting Skills for Kindergaten.

Antusiasme dari para peserta workshop yang begitu besar dan diikuti oleh masih kurangnya informasi dalam mengenai tumbuh kembang anak saat ini membuat PPT merasa perlu untuk mengadakan kegiatan serupa lagi di tahun depan. “Mungkin ke depannya plannya lebih besar lagi cuma memang belum tahu akan membahas mengenai anak lagi atau bukan”, ujar Lily Marlina M.Psi.,Psikolog. (Ast)

Kategori: ,