MIRA DAN ZONA NYAMANNYA YANG LUAR BIASA
Senin, 14 November 2016 | 11:39 WIB

mira3“Keluarlah dari Zona Nyaman-mu” mungkin begitulah pernyataan yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana ia bisa sampai di Unika Soegijapranata.

Miroslava Rizmanova, atau biasa disapa Mira adalah dara kelahiran 26 tahun silam yang berasal dari sebuah kota yang berada di bagian utara Negara Slovakia, Martin. Saat ini, Mira tengah menempuh pendidikan ekonomi untuk tingkat master degree di Matej Bel University, Banská Bystrica. Sedangkan pendidikan tingkat sarjana di bidang ekonomi telah ia selesaikan di universitas yang sama.

Setelah lulus sebagai Sarjana Ekonomi, Mira bekerja sebagai product manager. Di tengah kesibukannya sebagai seorang manager,  Mira mencoba untuk merenungi mengenai apa yang telah ia capai saat ini. Dari perenungan itulah yang meyakinkannya untuk mencoba untuk sesuatu yang baru. Ia ingin mencoba keluar dari zona nyaman yang telah ia jalani dalam aktivitas sehari-hari yang bekerja dari jam 08.00-17.00 itu. Untuk itulah, sebagai wujud dari keinginannya, ia mendaftarkan dirinya sebagai Darmasiswa yang belajar tentang  jamu. Ia sengaja memilih untuk mempelajari jamu dikarenakan pada kesukaannya pada pengobatan tradisional. Untuk itu, ia memandang pengobatan yang baik adalah yang dapat menggabungkan western medicine dan eastern medicine.

Pertama kali ia mendengar program Darmasiswa adalah dari pengumuman yang ia baca di universitas tempat ia kuliah. Sewaktu mendengar lokasi negaranya adalah Indonesia, bayangan yang muncul di benaknya adalah Bali. Hal ini didasari oleh keinginannya yang kuat untuk berlibur di Bali. Akan tetapi, ia menyadari  bahwa ia kurang mampu dalam berbahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi. Maka, ketika ia mendengar bahwa ada kesempatan belajar mengenai jamu sekaligus bahasa Indonesia di Semarang, tanpa ragu-ragu, ia langsung mendaftarkan diri untuk program Darmasiswa Traditional Herbal Medicine di Unika Soegijapranata.

mira2“Di Slovakia, juga terdapat semacam pengobatan tradisional akan tetapi tidak menjadi suatu budaya seperti yang dilakukan di Indonesia dan di negara kami juga tidak terdapat minuman yang seperti jamu. Hanya saja ketika saya sakit, biasanya saya membiasakan untuk minum teh jahe atau biasanya kakek ataupun nenek kami memiliki semacam resep yang dapat digunakan untuk mengobati flu. Tetapi, orang-orang saat ini lebih memilih langsung merujuk ke dokter ketika sakit. Western medicine lebih mengobati penyakit yang dialami bukan pada penyebab penyakit itu sendiri” papar Mira.

Di luar kegemarannya untuk mempelajari jamu Mira memiliki hobi mendaki gunung. Hal ini dikarenakan jarak rumahnya dekat dengan pegunungan sehingga ketika ia memiliki waktu yang luang ia selalu isi waktu luangnya dengan hobinya tersebut.

“Slovakia merupakan negara kecil dengan jumlah penduduk kira-kira 5.000.000 jiwa dan di Slovakia juga terdapat rangkaian Pegunungan Tatra yang indah dimana di sekitar pegunungan tersebut terdapat danau yang sangat indah. Air yang tersedia juga sangat bersih, kita dapat mengonsumsi air tersebut langsung dari kerannya bahkan air sungai yang mengalir dapat langsung dikonsumsi” papar Mira yang mencoba mengenalkan wisata yang terdapat di Slovakia.

“Indonesia merupakan  negara yang besar dengan beragam bahasa dan kepulauan. Ketika saya datang ke sini, saya melihat betapa indahnya negeri ini. Tapi di Eropa, mereka lebih banyak mengenal Bali, banyak orang pergi ke Bali ataupun Lombok. Jadi menurut saya, keduanya merupakan daerah yang paling terkenal di Indonesia” jelas Mira tentang Indonesia. Maka selain mempelajari jamu, Mira akan menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk bisa mengunjungi berbagai tempat wisata di Indonesia. Untuk sementara ini, ia sudah berkesempatan untuk melihat langsung candi Borobudur, candi Prambanan, pantai Krakal, Keraton Yogyakarta, dan baru-baru ini dapat ke Sumenep untuk melihat festival budaya.

mira1“Antara Slovakia dengan Indonesia sungguhlah berbeda, Slovakia memiliki 4 musim. Saat musim dingin suhu dapat mencapai 15OC hingga -10OC. Ketika aku tiba di Semarang, disini suhu sangatlah panas sepanjang waktu. Untuk budaya, Slovakia tidak memiliki budaya yang benar-benar kuat. Berbeda dengan Indonesia yang masih memegang budaya dengan kuat. Yang menarik, di Indonesia, kondisi lalu lintas sungguh gila seperti tidak memiliki aturan. Banyak motor jalan dengan tidak teratur. Sedangkan di Slovakia, segalanya lebih teratur, tidak banyak orang yang mengendarai motor dikarenakan suhu di Slovakia sendiri yang cenderung dingin sehingga orang lebih memilih untuk mengendarai mobil, maka kondisi lalu lintas lebih teratur. Di Slovakia seluruhnya diharuskan mematuhi aturan, apabila kita mencoba melanggar peraturan, kita akan dicaci maki” jelas Mira.

Saat ini, Mira memberikan kesempatan bagi mahasiswa di Unika Soegijapranata untuk hadir di kelasnya tentang Budaya Slovakia setiap hari Kamis mulai jam 17.00-19.00 di ruang Chicago, gedung Henricus Constant. “Di Slovakia, mulanya terdapat kaum komunis, hal ini dipengaruhi oleh Rusia sampai dengan tahun 1993. Kaum komunis terdapat di era Cekoslovakia, hanya saja di tahun 1993, Slovakia dan Republik Ceko berpisah” papar Mira mengakhiri ceritanya sembari mengajak warga Unika untuk mau mempelajari negaranya, Slovakia. (Cal)

Kategori: ,