Menyelami Pesona Washington DC
Minggu, 20 November 2016 | 15:06 WIB

SM 20_11_2016 Menyelami PesonaWashington DCKunjungan saya ke Washington DC pada awal November 2016 karena kota ini merupakan salah satu pilihan untuk transit sebelum kami melanjutkan ke Negara Bagian Ohio untuk kepentingan riset dan publikasi ilmiah bersama dengan salah satu professor di Youngstown, Ohio.

Perjalanan ini merupakan salah satu bagian dari hibah penelitian Kerja Sama Luar Negeri (KLN) dengan topik Teknologi Pembelajaran yang dikerjakan oleh saya dan Dr Cecilia Titiek Murniati dari Unika Soegijapranata dengan Prof Kristine Blair dari Youngstown State University (YSU).

Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta ke Tokyo, Tokyo ke Houston, dan dilanjutkan Houston ke Washington dengan waktu kurang lebih selama 24 jam, kami memilih singgah sebentar di Washington DC, Ibu Kota Amerika Serikat yang dalam dua bulan ke depan akan berganti presiden.

Dengan selisih perbedaan waktu 12 jam lebih lambat dibandingkan dengan Waktu Indonesia Barat (WIB), perjalanan tampaknya cukup singkat yaitu berangkat di pagi hari dari Jakarta dan sampai pada saat malam hari di Washington, sebelum lewat pergantian hari. Namun dalam kenyataannya, Jakarta sudah berganti hari pada saat kami tiba di kota itu.

Paska kemenangan Trump, kota ini juga disebut-sebut oleh media massa di Tanah Air tidak luput dari demo besar yang terjadi di 25 kota Amerika Serikat.

Namun selama kami di sana, tidak terlihat tanda-tanda demo besar tersebut, terutama di pusat pemerintahan yaitu wilayah Gedung Putih dan sekitarnya. Rumah kepresidenan ini bahkan tampak tidak terlalu ramai seperti yang saya bayangkan.

Terlihat sedikit renovasi sedang dilakukan di bagian depan dan terdapat sekelompok masyarakat dari Myanmar yang terlihat menyampaikan permintaannya ke pemerintah Amerika untuk membantu perjuangan hak asasi di Myanmar. Namun jumlah pendemo tidak banyak dan dilakukan tanpa keramaian yang berarti.

Bagi wisatawan, White House (Gedung Putih), Monumen Washington, World War II Memorial (Peringkatan Perang Dunia Kedua), Abraham Lincoln Memorial Hall, dan gedung parlemen Capitol merupakan tempat yang menjadi tujuan saat datang ke Washington. Selain sebagai tempattempat yang paling penting di sana, lokasi kelima tempat tersebut cukup berdekatan.

Gedung Putih sebagai rumah kepresidenan merupakan salah satu tempat yang paling berkesan dalam film-film box office seperti White House Down (2013), Olympus Has Fallen (2013), Lee Daniels’The Butler (2013), dan Independence Day (1996).

Bahkan dalam beberapa hari belakangan ini, Gedung Putih menjadi tempat yang paling menyentuh bagi sebagian besar masyarakat Amerika yang telah memilih presiden baru.

Berjalan Kaki

Kami memulai perjalanan dengan berjalan kali dari Gedung Putih menuju ke Monumen Washington, dilanjutkan ke World War II Memorial dan berhenti sejenak di Abraham Lincoln Memorial.

Dengan jarak kurang dari 3,5 km dan memakan waktu kurang dari 1 jam, perjalanan keempat lokasi ini bukan merupakan perjalanan yang panjang apalagi melelahkan.

Di tiga lokasi terakhir ini, jumlah wisatawan lokal dan mancanegara terlihat lebih banyak dibandingkan dengan saat kami berada di Gedung Putih.

Patung marmer Abraham Lincoln di dalam Abraham Lincoln Memorial dengan tinggi 5,8 meter menjadi salah satu objek favorit bagi wisatawan untuk berfoto.

Lokasi ini cukup berkesan bagi saya ketika menonton akhir film remake Planet of Apes (2011) saat Captain Leo Davidson (Mark Wahlberg) mendarat di Abraham Lincoln Memorial setelah melalui badai elektromagnetik namun ternyata mendapati patung Abraham Lincoln yang di depannya bukanlah dalam versi manusia.

Dari pelataran Abraham Lincoln Memorial, terlihat kolam memanjang Lincoln Memorial Reflecting Pool, dengan keberadaan monumen Washington dan puncak Gedung Capitol dalam satu garis pandang. Pemandangan ini menjadi ikon yang paling menakjubkan dan sering dipakai untuk mewakili Kota Washington DC selain Gedung Putih.

Setelah dari tempat itu, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Gedung Capitol dan Library of Congress (Perpustakaan Kongres), melewati taman dengan daun-daun maple yang berubah warna menjadi merah karena musim gugur. Perjalanan ke US Capitol membutuhkan waktu kurang dari satu jam berjalan kali dengan jarak sekitar 3,8 km.

Saat kami datang, bagian depan gedung sedang dalam renovasi dan dikelilingi kawat pembatas. Gedung Capitol yang menjadi tempat bagi para senator dan dewan perwakilan rakyat bekerja ini, tampaknya tengah mempersiapkan acara inagurasi presiden terpilih.

Perpustakaan Kongres di belakang Gedung Capitol merupakan perpustakaan yang didirikan oleh John Adams dan awalnya berada di Gedung Capitol dengan koleksi 740 buku.

Namun sejak serangan Inggris yang menghanguskan perpustakaan pada 1984, perpustakaan berpindah ke gedung yang baru pada 1897 dengan sumbangan koleksi lebih dari 6.000 buku berasal dari Thomas Jefferson.

Saat ini koleksi Perpustakaan Kongres telah berkembang menjadi lebih dari 162 juta barang, meliputi buku, material tercetak, rekaman suara, fotografi, peta, lembar musik, film, dan manuskrip lebih dari 470 bahasa.

Yang menarik dari gedung ini, selain koleksi bukunya, adalah arsitektur, interior, serta lukisan-lukisan yang menyatu dengan dinding serta atap gedung perpustakaan.

Ruang baca utama yang bisa dilihat melalui galeri pengunjung di lantai dua, terlihat sangat artistik dan klasik sehingga langsung mengingatkan saya pada film National Treasure (2007) yang dibintangi oleh Nicholas Cage.

Perpustakaan Kongres menjadi tempat kunjungan terakhir kami pada hari itu karena waktu tanpa terasa telah menunjukkan pukul 16.30 saat perpustakaan tutup.

Kata-kata Thomas Jefferson, ”I cannot live without books”, di salah satu ruang perpustakaan tampaknya telah mengikat kami berada lebih lama di Perpustakaan Kongres dibandingkan lima tempat yang menjadi awal tujuan sebelumnya. (http://berita.suaramerdeka.com , Suara Merdeka 20 Nov. 2016, hal. 17)

— Ridwan Sanjaya (Dosen program studi Sistem Informasi Unika Soegijapranata)

Kategori: ,