Melestarikan Budaya Srawung
Senin, 7 November 2016 | 8:20 WIB

TRB 5_11_2016 Melestarikan Budaya Srawung

Srawung adalah sebuah istilah Jawa yang mengandung arti kumpul atau pertemuan yang dilakukan lebih dari satu orang atau kelompok. Dalam tradisi masyarakat pedesaan, istilah ‘srawung’ sudah akrab di telinga mereka, karena hal itu merupakan media untuk saling bercerita tentang realitas kehidupan.

Srawung mengandung filosofi yang mendalam. Srawung tidak hanya dimaknai sebuah perjumpaan. Dari srawung itulah ada sebentuk rasa yang muncul, yakni belajar, menimba inspirasi (ngangsu kawruh).

Dengan demikian, srawung merupakan bagian dari tatanan nilai yang melekat secara khas dalam khazanah kesadaran di kalangan masyarakat. Dalam srawung, masyarakat bisa saling ngudoroso atau menyampaikan realitas yang terjadi di sekitarnya. Tidak hanya apa yang ada dalam pikiran, tetapi apa yang ada dalam perasaan mereka pun semua bisa diungkapkan.

Srawung juga merupakan pengalaman-pengalaman batin yang kadang sulit dibahasakan, tapi terasa di hati. Maka, dengan adanya srawung inilah banyak permasalahan dalam realitas kehidupan ini bisa dibicarakan, dicarikan solusi secara bersama.

Didorong atas kerinduan ibu pertiwi Indonesia yang damai dan penuh toleran, hampir seratus mahasiswa dari perguruan tinggi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta bertemu. Mereka duduk bersama menggelar kegiatan “Angkringan Lintas Iman & Tour Kampung”.

Apresiasi pantas diberikan kepada Campus Ministry Universitas Sanata Dharma yang memfasilitasi kegiatan ini pada Sabtu-Minggu, (29-30/10). Acara Angkringan Lintas Iman ini mengangkat tema: “Bersama Merawat Keberagaman”.

Kampus Srawung Kampung

Menjelang kegiatan Pilkada 2017 di beberapa tempat, suhu politik memanas. Suasana masyarakat pun ikut bergejolak. Kaum muda sebagai kaum intelektual yang sedang menggembleng diri dalam dunia kampus, perlu menyadari diri sebagai bagian dari keluarga besar umat manusia kendati berbeda agama dan etnis.

Kampus adalah rumah belajar. Di sana banyak hal yang bisa dipelajari. Termasuk belajar hidup bertoleransi. Belajar merawat keberagaman. Belajar menjadi pribadi nasionalis sekaligus religius. Juga menjadi pribadi cerdas yang humanis.

Bangsa ini memiliki seorang pahlawan yang nasionalis sekaligus religius. Oleh Presiden Soekarno ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal Semarang. Ia lahir 120 tahun yang lalu, tepatnya, 25 November 1896. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ namanya.

Dalam Film Soegija karya Garin Nugroho (2012), diangkat pesan moral dari Mgr Soegijapranata yang masih aktual dengan kondisi Indonesia masa kini. Dikatakan,

“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan”.

Kesadaran sebagai keluarga besar umat manusia ini penting untuk mewujudkan kehidupan bersama yang toleran, harmonis, rukun, dan damai. Mengutip filsuf Prof. N. Driyarkara SJ (1913-1967), perlu manusia membangun kota, dan kota membangun manusia. Baik buruknya sebuah kota, mentalitas macam apa yang berkembang, tergantung manusia yang mengelola kota itu.

Apa yang dibuat para mahasiswa lintas iman itu menjadi ‘oase kasih’ bagi ibu pertiwi yang sedang bergolak di ibu kota. Pada hari Minggu pagi, dengan membawa dua bendera merah putih seluruh peserta Angkringan Lintas Iman mengadakan tour kunjungan ke kampung Gowongan dan Kampung Rejowinangun.

Kampung Gowongan dicanangkan sebagai Kampung Pancasila oleh Walikota Yogyakarta pada tahun 2011. Sementara Kampung Rejowinangun dikenal sebagai pemenang lomba kampung ketahanan pangan tingkat DIY, baik bidang kerajinan, herbal (toga), sayuran, budaya, dan kuliner.

Di sana diadakan dialog, sarasehan dan sharing bersama upaya warga kampung dalam mewujudkan toleransi dan persaudaraan. Para mahasiswa menimba inspirasi dari upaya warga kampung dalam mewujudkan kampung yang toleran. Di situlah tampak nyata Kampus ‘Srawung’ Kampung, atau Kampus Kumpul Kampung. Dengan srawung, kesalahpahaman bisa diretas. Dengan srawung, kecurigaan antar pemeluk agama bisa diatasi. Di sana ada komunikasi yang terjadi.

Pada akhir acara mereka dengan mantap menyanyikan ‘Pancasila Rumah Kita’ (Franky Sahilatua). “Pancasila rumah kita / rumah untuk kita semua/ nilai dasar Indonesia rumah kita selamanya//. Untuk semua puji namanya/ untuk semua cinta sesama/ untuk semua warna menyatu/ untuk semua bersambung rasa/ untuk semua saling membagi/ pada semua insan, sama dapat sama rasa/ oh indonesiaku (oh indonesia)”.

Semoga makin banyak orang yang tergerak mewujudkan toleransi dan sikap saling menghargai perbedaan yang ada di bumi NKRI yang ber-Pancasila ini. ( http://jateng.tribunnews.com  )

________________________

Y Gunawan
Pengajar Religiositas dan Filsafat
di Unika Soegijapranata Semarang

Kategori: , ,