Lulusan Perguruan Tinggi Dalam Era Globalisasi
Rabu, 2 November 2016 | 15:48 WIB

forum-doktorTuntutan masyarakat terhadap perguruan tinggi semakin besar, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah diimplementasikan, yang mau tidak mau menjadi penguji terhadap kualitas dan daya saing produktifitas bangsa Indonesia sehingga perguruan tinggi pastinya akan dituntut menyiapkan generasi muda yang profesional dan berdaya saing, agar mampu menjadikan bangsa Indonesia sebagai pemenang dalam persaingan ekonomi bebas.

Mengkritisi keterkaitan perguruan tinggi dengan profesionalisme dan daya saing bangsa Indonesia dalam persaingan ekonomi bebas, maka Forum Doktor Unika Soegijapranata pada hari Kamis (27/10) bertempat di Lobby Gedung Mikael lantai 2, telah mengadakan diskusi dengan tema “Pengelolaan Pendidikan Tinggi Ditengah Arus Perubahan”, yang dihadiri oleh beberapa pejabat universitas, akademi, sekolah tinggi baik swasta dan negeri di kota Semarang, yang meliputi antara lain : Universitas Pandanaran, Stikes Karya Husada, Universitas Ngudiwaluyo, Akpelni Semarang, Akademi Farmasi Theresiana, ASM Santa Maria, Stikes Telogorejo, Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang.

”Forum doktor ini memberikan inspirasi, bagaimana kita menginspirasi para pengelola pendidikan tinggi agar bisa mengelola lebih baik” ujar Dr. Ika Rahautami ketua penyelenggara diskusi.

Dalam diskusi Forum Doktor ini turut diundang pula sebagai narasumber adalah Prof. Dr. Y Budi Widianarko, M,.Sc selaku Rektor Unika Soegijapranata dan Prof. Sudharto PH sebagai Rektor Undip periode 2010-2015.

Globalisasi dan Solusinya

Dalam pandangan Prof. Budi terkait globalisasi yang melanda Indonesia, Ia berpendapat : “Saya kira untuk seluruh universitas dimanapun juga termasuk universitas di Indonesia, sejak dulu persoalan globalisasi itu keniscayaan. Tetapi dengan arus globalisasi yang sekarang semakin kuat, banyak fenomena menarik. Seperti halnya dalam salah satu ilusterasi ada seorang lulusan Unika selama 9 tahun berkutat di sebuah pabrik makanan di kota Pati, namun tahun ke-10 dan ke-11 dia telah memimpin sebuah perusahaan di Pataling Jaya milik perusahaan Multinasional di Selangor Malaysia. Itu artinya, bahwa kompetensi hardskill maupun softskill sekarang banyak dicari” tutur Prof Budi.

Hal lain Prof. Budi juga menjelaskan, “Terkait kerangka kualifikasi nasional memang penting, tetapi  bahwa kenyataannya orang-orang yang tidak harus melalui jalur itu juga bisa, maka ketakutan-ketakutan yang terlalu dibesar-besarkan itu tidak penting, semestinya kita harus fokus tentang bagaimana membuat universitas kita menjadi excellent, harus memberikan program-program yang terbaik, baik kompetensi hard skill maupun soft skill,” tambahnya.

Menyikapi banyaknya penawaran study oleh Universitas Luar Negeri di Expo Pendidikan di Indonesia, Prof. Sudharto PH berpendapat, “Komponen pendidikan itu dianggap adalah bagian dari komponen globalisasi yaitu perdagangan bebas yang tidak ada lagi batas-batasnya, maka kita mesti harus hati-hati menyikapinya karena tugas perguruan tinggi adalah membangun karakter dan tugas pemikiran serta bukan pada orientasi mencari keuntungan semata. Jadi bukan hanya global demand university,”jelasnya.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh perguruan Tinggi di Indonesia menanggapi kebutuhan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai, menanggapi hal tersebut Prof. Budi menjelaskan, ”Pengertian siap pakai itu kan langsung bekerja di Industri tanpa industri melakukan program training, padahal dalam kenyataannya mereka-mereka yang mempunyai prestasi akademik yang baik dan ditunjang dengan pengertian soft skill yang aktif di dalam organisasi dan seterusnya, jarang perusahaan mengalami masalah dengan mereka, mereka bisa langsung diterima oleh lapangan kerja. Pada saat yang sama memang industri harus mau meluangkan waktu untuk training, dan saya kira belum pernah ada suatu lembaga yang menerima karyawannya tanpa training. Namun ada solusi mengenai hal tersebut yakni Dikti mulai membuka ruang bahwa program-program 3+1 ini mulai diperbolehkan. Program 3+1 itu adalah 3 tahun dibangku kuliah dan yang 1 tahun bisa digunakan untuk magang di industri atau riset. Jadi tergantung lulusannya, mau menjadi cendikiawan ya riset dan yang mau langsung ke dunia industri ya magang ke industri. Ini sebenarnya adalah pekerjaan besar bersama, dan industri harus mau menerima anak-anak magang ini. Terkait hal tersebut, maka dalam level nasional bisa dibuat suatu skema kemudian juga ada insentif yang diberikan kepada industri supaya tidak merasa terlalu direpoti dengan program magang,”papar Prof. Budi. (dsa)

Kategori: ,