Enam Mahasiswa Ilmu Komunikasi Kampanye Peduli Sampah Plastik
Minggu, 20 November 2016 | 15:40 WIB

SM 20_11_2016 Kampanye Peduli Sampah Plastik

 

Hari Peduli Sampah Nasional jatuh pada 21 Februari, tapi bukan berarti kesadaran ihwal sampah tak bisa dilakukan tiap saat. Salah satu bentuk kesadaran tersebut adalah menciptakan Iingkungan yang bersih dari sampah plastik. Sampah jenis ini termasuk sampah yang tidak ramah Iingkungan.

Penyebabnya karena sampah plastik butuh waktu 200-400 tahun untuk bisa hancur secara alami, juga sulit didaur ulang sehingga mudah mencemari Iingkungan. Celakanya, hingga kini masyarakat masih kerap menggunakan plastik di segala situasi.

Fakta yang memprihatinkan itu menggugah niat enam mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2014 Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), yakni Wiwi Nuraeni, Cristalia Novita, Daniel Okhsa, Merlin Nathania, Maria Yestamila, dan Maya Christian, untuk berkampanye peduli sampah plastik.

Minggu (6/11) lalu, Wiwi dan timnya beraksi. Mereka berkampanye saat Car Free Day (CFD) di kawasan Simpanglima Semarang dengan sasaran utama ibu-ibu dan anak muda. Meski kelompok inti hanya beranggota enam orang, mereka turut dibantu kawan-kawan lain dari jurusan llmu Komunikasi Unika.

Agar efektif, tim dan partisipan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Lapangan Simpang lima dan Jalan Pahlawan. "Tukarkan dua botol bekas air mineral dengan satu botol cantik. Segera tukarkan untuk Semarang yang lebih baik," teriak tim kampanye ke pengunjung CFD.

Ya, selain berkeliling membawa poster dan sesekali meneriakkan kepedulian tentang sampah, mereka juga memancing pengunjung untuk menukarkan dua botol air mineral bekas dengan satu botol minuman ramah lingkungan yang berwama-wami menarik.

Makanya banyak yang enggan menghampiri sehingga tim kampanye jemput bola mendatangi pengunjung CFD yang tengah bersantai. Setelah mengenalkan diri dan menjelaskan tujuan, tim menyerahkan botol cantik secara cuma-cuma.

Kurang Sosialisasi
Pemberian botol ramah lingkungan tanpa barter itu menjadi rencana cadangan tim kampanye jika kemungkinan pengunjung tidak membawa botol bekas. Mereka mengaku sebelumriya kurang sosialisasi sehingga banyak pengunjung CFD tidak mengetahui kampanye tersebut.

Meski begitu, pemberian botol secara "gratis" itu berjalan lancar. Pengunjung yang dihampiri tim kampanye khidmat menyimak penjelasan tentang manfaat menggunakan botol minuman ramah lingkungan.

Setelah separuh waktu berkeliling, mulailah tim kampanye dihampiri beberapa pengunjung CFD yang ingin menukarkan botol. Dalam waktu kurang dari dua jam, 100 botol ramah lingkungan tersebut habis dibagikan.

"Kami terkenang saat didatangi dua lelaki remaja yang berniat menukar botol. Setelah proses barter selesai, rupanya mereka gantian minta kami membeli produk yang mereka jual. Ya sudah akhimya saya beli produk mereka," cerita Wiwi geli.

Kampanye yang telah disiapkan sejak dua bulan lalu tersebut berawal dari tugas mata kuliahPublic Relations Campaign. Kala tugas dibagikan, Wiwi mengajukan diri jadi ketua. Tiap ketua berhak memilih tema yang sudah ditentukan, yakni sampah plastik, kesetaraan gender, keselamatan berkendara, kemiskinan, tata ruang, atau narkoba.

Lantaran menyukai persoalan lingkungan, Wiwi tak pikir panjang memilih kampanye sampah plastik. Gagasan kampanye itu langsung mengalir. Wiwi teringat, dirinya kerap menemukan masyarakat ringan tangan membuang sampah tidak pada tempatnya saat CFD.

"Saya sering bertanya-tanya, kenapa saat CFD masyarakat lebih suka membeli minuman di lokasi ketimbang membawa sendiri botol minuman ramah lingkungan. Memang alasannya agar lebih praktis, namunpermasalahannya, merekabelum tentu peduli dengan gelas ataubotol plastik yang mereka timbulkan," keluh Wiwi.

Ya, setelah menghabiskan minuman maupun makanan, pengunjung CFD acapkali meninggalkan wadahnya begitu saja. Memang, kantong sampah hanya berada di titik-titik tertentu sehingga kerap menyulitkan proses pembuangan. Pun demikian, itu tak selayaknya jadi alasan untuk membuang sampah sembarangan

"Tiap hujan deras dan agak lama, kawasan Simpang lima dan sekitamya sering tergenang. Saya melihat salah satu faktomya adalah banyak sampah plastik, terutama botol air mineral, yang menyumbat saluran air," papar Wiwi.

Meski hanya berlangsung beberapa jam, Wiwi dan kawan-kawan berharap aksinya tersebut bisa memengaruhi masyarakat untuk sadar menggunakan botol minuman ramah lingkungan. Kebiasaankecil yang dilakukan berulang-ulang dengan massa yang banyak tentu akan membawa perubahan. (http://berita.suaramerdeka.com,  Suara Merdeka 20 November 2016 hal. 14)

Kategori: