Angkringan Lintas Iman : Praktekkan Toleransi di Kalangan Muda
Jumat, 4 November 2016 | 8:52 WIB

angkringan-iman

“Kota harus tumbuh dengan ide toleransi dan di bagian lain toleransi itu juga harus menjangkau mereka yang lebih luas, yaitu mereka yang miskin, mereka yang tidak punya akses terhadap kesehatan, mereka yang punya  problem terhadap hak layak hidup, dan seterusnya”- Akhmad Ramdhon, Sosiolog dan penggiat Kampungnesia.

Begitulah potongan pembicaraan dalam talkshow kegiatan Angkringan Lintas Iman yang diselenggarakan oleh Campus Ministry Universitas Katolik Sanata Dharma pada hari Sabtu hingga Minggu (29/10-30/10) dan yang dihadiri pula oleh anggota Campus Ministry Universitas Katolik Soegijapranata.

Pada awalnya kegiatan ini bernama FORMALIN (Forum Mahasiswa Lintas Iman) yang ada sejak tahun 2010. Kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan gaya anak muda, maka tercetuslah gagasan ‘angkringan’ yang sudah dimulai sejak tahun 2013. Dibawakan secara santai dan bergaya kekinian acara yang berlangsung selama 2 hari ini sangat inovatif. Teman-teman disuguhi oleh gerobak khas angkringan lengkap dengan hidangannya siap menemani selama sesi talkshow. Ada tiga pembicara yang akan membawa pada kesadaran terhadap toleransi, yaitu Pak Supriyadi yang merupakan aktivis kemasyarakatan Kampung Rejowinangun, Pak Akhmad Ramdhon  (Sosiolog dan penggiat Kampungnesia), dan yang terakhir adalah Romo In Nugroho Budisantoso, SJ yang adalah Dosen Magister Management Universitas Sanata Dharma.

Tak banyak yang mengetahui bahwa di kota budaya,Yogyakarta, menyimpan cerita mengenai praktek intoleran yang cukup menyita perhatian selama sesi pertama dan kedua. Bahwa di tengah kebisingan kota masih banyak kasus pelarangan pendirian rumah ibadat, ketimpangan ekonomi yang kentara dan berbagai kasus intoleran lainnya. Maka hal inilah yang membuat Campus Ministry Universitas Sanata Dharma lebih mengembangkan kepada gerakan dalam menyalakan api toleransi. Karena dengan membangkitkan cerita-cerita mengenai toleransi kita dapat melawan begitu banyak isu-isu intoleransi. Karena praktek toleransi mencakup hal-hal yang sifatnya sangat luas, tidak hanya terikat kepada hal-hal yang sifatnya mendasar seperti agama, suku atau ras saja. Melainkan bahwa toleransi lebih kepada cara pandang kita bagaimana harus menyikapi suatu hal.

Kemudian di malam harinya teman-teman disuguhi oleh renungan malam yang dilakukan di pinggir Jalan Gejayan. Suasana semakin larut karena seluruh rangkaian kegiatan hari itu ditutup dengan doa malam yang diwakili oleh semua agama yang hadir, ada Islam, Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik.

Konkretkan Toleransi

Di balik gedung-gedung tinggi yang ada di kota Yogyakarta, ternyata masih ada pula kampung yang tetap berusaha melestarikan kesederhanaan, toleransi semangat khas orang desa zaman dahulu. Kegiatan di hari kedua membawa kita semua untuk flashback ke zaman ketika kita masih sering bermain kelereng, layangan, kemudian dalam pengambilan keputusan bersama masih menerapkan musyawarah mufakat. Ada dua kampung yang menjadi tempat kami belajar, yaitu Kampung Pancasila di daerah Gowongan dan Kampung Rejowinangun di daerah Kota Gede. Bahwa kekuatan mereka adalah pada rekonsiliasi, yaitu saat dimana jatuh kemudian berusaha untuk bangun kembali. Hal ini ditemukan lewat anak-anak yang sejak dini dilatih untuk diberi tanggung jawab untuk melaksanakan sebuah kepanitiaan. Ditemukan ketika membuat suatu keputusan dan menimbulkan luka pada sebagian orang, memunculkan sebuah kata ‘maaf’.

“Acara angkringan kemarin yakni acara yang mempertemukan orang-orang dari lintas agama dalam suasana karya khas Jogja yang selalu erat dengan kata guyubnya, untuk membahas hal-hal yang menyangkut kemanusiaan”, ujar Yohanes Budi, salah satu anggota Campus Ministry Universitas Katolik Soegijapranata. “Dan harapan acara kemarin adalah untuk membangun kepentingan bersama lewat toleransi. Karena membangun toleransi tidak pernah cukup dengan bicara semata” lanjutnya. Seperti yang dikatakan oleh Pak Akhmad Ramdhon bahwa intoleransi tidak bisa dilawan dengan intoleransi. Maka semakin gencar mereka mengkampanyekan  tentang intoleransi maka kita harus lebih gencar lagi untuk mengkampanyekan toleransi. (Ast)

Kategori: ,