Aktivitas Anak di Luar Rumah Rangsang Perkembangan Otak dan Panca Indra
Sabtu, 19 November 2016 | 13:10 WIB
SM 12_11_2016 Aktivitas Anak di Luar Rumah Rangsang Perkembangan Otak dan Panca Indra

Workshop Introduction to Sensory Processing Intervention dengan narasumber Vonny Susanti Amd OT MPsi di Hotel Neo Semarang.

Perkembangan zaman disertai dengan perkembangan teknologi dan kesibukan orang tua, merubah pola asuh pada anak-anak. Anak pada saat ini berbeda dengan anak zaman dulu, banyak bermain di luar rumah dan aktivitas lainnya.

Konsultan Tetap Klinis Anak Pusat Psikologi Terapan (PPT) Soegijapranata Lily Marlina MPsi Psikolog mengatakan, aktivitas yang banyak di luar rumah merangsang perkembangan otak dan panca indra. Otak berkembang karena kita bergerak demikian pula semua panca indra dan sensory, penciuman, pendengaran, penglihatan, perabaan dan bahkan gerak tubuh harus berjalan bersamaan.

“Misalnya anak mendengar kata bola, tidak hanya sekedar membayangkan visualisasinya tetapi juga rasanya dan fungsinya,” kata Lily di sela-sela Workshop Introduction to Sensory Processing Intervention di Hotel Neo Semarang.

Anak-anak pada era saat ini sambungnya, banyak diantara mereka yang mengalami gangguan di bidang sensory dan hal tersebut mempengaruhi tumbuh kembang. Misalnya anak sudah kelas 2 SD gerakan tubuhnya masih tidak seimbang.

Workshop yang dilaksanakan selama dua hari dengan narasumber seorang Psikolog yang menekuni bidang tersebut Vonny Susanti Amd OT MPsi, dari Jumat-Sabtu (11-12/11) itu ditujukan pada profesi psikolog, agar seorang psikolog mengetahui proses tumbuh kembang anak karena banyak yang belum tahu. Agar lanjut Lily, seorang yang berprofesi Psikolog tahu dan lebih jeli ketika menemui misal, anak lambat bicara itu karena apa serta mengetahui ada penyertaan sebelumnya.

“Kalau anak yang tumbuh kembangnya sesuai, sama dengan anak seusianya itu typically sesuai umur.  Tetapi jika ada satu yang perkembangannya masih satu tingkat di bawah maka butuh distimulasi dan jika jauh di bawahnya maka perlu distimulasi,” paparnya.

Jika anak perkembangannya tertinggal jauh, tidak diintervensi maka tidak berkembang dan terus tertinggal. Anak yang sudah tertinggal perkembangannya masih kata dia, perlu distimulasi dan kalau sudah terlalu jauh diintervensi psikolog dan dokter.

Sementara Direktur PPT Soegijapranata Dr Kristiana Haryanti MSi Psi menyatakan, workshop ini menyangkut pelatihan lebih detil mempelajari bagaimana indra-indra dari tubuh berfungsi dengan baik. Tuhan menciptakan indra pendengaran, penglihatan, peraba, perasa itu tujuannya untuk mempertahankan diri.

“Reflek mempertahankan hidup dan bertahan hidup. Ketika reflek-reflek atau sensory itu bermasalah akan terjadi masalah karena indra itu berfungsi seumur hidup. Dalam workshop peserta akan melihat gangguan-gangguan yang bisa terjadi dan penanganannya,” tuturnya.

Ia melanjutkan, Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata mngembangkan PPT untuk menjembatani teori dan praktek. Psikolog yang berkarya di sana dosen dari Fakultas Psikologi dan psikolog tetap yang diperbantukan untuk menangani klien. Selain mahasiswa S1 dan S2 juga berkarya agar ketika mereka lulus sudah ada bekal praktek. ( http://berita.suaramerdeka.com )

Kategori: