Ruang Publik Sarana Rekonsiliasi Perdamaian
Senin, 17 Oktober 2016 | 13:03 WIB

Spektrum 17_10_2016 Ruang Publik Sarana Rekonsiliasi PerdamaianPemanfaatan ruang publik di Kota Ambon saat ini belum maksimal dinikmati masyarakat Kota Ambon. “Untuk itu, diupayakan menjadikan ruang publik untuk meningkatkan rekonsiliasi perdamaian di Kota Ambon untuk mencapai level integritas sosial yang kuat harus didiskusikan," kata Lurah Nusaniwe Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, Erna Waliulu saat membuka kegiatan Promoting Peace Education In Ambon Through Developing Strategic Alines, inugu (16/10).

Kegiatan yang dipusatkan di halaman Kantor Kelurahan Nusaniwe, merupakan kerjasama antara Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata dengan Fakultas Hukum Universitas Patimura.

Kegiatan ini bertujuan, mempromosikan pemanfaatan ruang publik sebagai tempat adanya pertemuan masyarakat Kota Ambon yang heterogen.

Sementara itu Yulita Titik Sunarimahinggsi, peneliti ruang publik di Kota Ambon dari Unika Soegijapranata kepada Spektrum menjelaskan, kondisi masyarakat Kota Ambon yang terdiri dari berbagai suku bangsa ras mauptun agama merupakan suatu hal yang harus disyukuri. "Namur juga dapat menjadi ancaman sehingga berkaitan dengan kondisi plural maka pemanfaatan ruang public sebagai tempat petemuanan berbagai individu dan kelompok dapat dijadikan wahana membangun komunikasi sehingga perdamaian itu dapat tetap terjaga.

Berkaitan dengan itu juga, Prof. A. WatIoli menyampaikan, Kota Ambon pada awalnya hidup dalam keterbukaan dan menerima siapapun. Dan ini berlangsung sejak abad ke 15. Saat itu, para migran internasional yang datang di Kota Ambon juga migran lokal dari sejumlah pulau di Maluku.

Oleh sebab itu, terkait kegiatan promosi pemanfaatan ruang public sebagai tempat pertentuan warga Kota Ambon yang heterogen maka konsep ruang public dapat beranjak dari filosofi pertemuan orang bersaudara.

“Filosofi orang basudara adalah nilai kearifan lokal yang harus kita pertahankan sehingga berkaitan dengan ide pemanfaatan ruang public sebagai tempat berkumpulnya orang bersudara diarasakan cocok, sekaligus menjawab kebutuhan Ambon Water From City," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan, Dr Abidin Wakano bahwa kondisi heterogen serta pernamfaatan simbol-simbol perdamaian adalah secara terbuka dapat memungkinkan adanya hubungan kekerabatan yang erat, "Dalam penerapannya, pemanfaatan ruang public mestilah dibarengi dengan kode etik penggunaan ruang public, sehingga kapasitas Pemerintah Kota Ambon diperlukan," katanya.

Untuk itu, keberadaan Kelurahan Nusaniwe yang terdiri dari berbagai etnis dan agama dapat dijadikan sebagai pilot project menunjang program kerjasama antara dua lembaga pendikan ini sehingga masyarakat Kota Ambon dapat merasakannya. (Spektrum 17 Oktoner 2016)

Kategori: