Perlu Dilakukan Terapi Trauma pada Anak
Selasa, 11 Oktober 2016 | 16:57 WIB

terapi-traumaTrauma pada anak muncul karena bencana alam dan pengalaman buruk yang dialami antara lain, mengalami kekerasan, kehilangan, perpisahan dan eksploitasi.

Anak yang mengalami trauma seharusnya memerlukan terapi karena jika tidak, trauma dapat berdampak buruk pada perkembangan otak dan akan meningkatkan ‘arousal’ atau kewaspadaan yang berlebihan, agresi, hiperaktifitas, impulsifitas dan sulit berkonsentrasi.

Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata CVR Abimanyu M Psi menyatakan, trauma akan berdampak buruk terhadap pencapaian keterampilan, prestasi akademik, integrasi sosial, pemecahan masalah, kesehatan mental dan akan menjadi penghalang langkah seorang anak menuju masa depan yang baik.

Untuk itu perlu dilakukan terapi, diantaranya dengan cerita sesuai dengan dunia anak-anak sehingga mereka tidak merasa sedang diterapi tapi terkesan sedang bermain.

“Anak-anak akan merasa lebih rileks dan gembira setelah melakukan terapi ini. Ada beberapa teknik terapi trauma lainnya untuk anak-anak,” kata pria yang akrab disapa Abi dalam Workshop Terapi Anak yang digelar oleh UKM Centre for Trauma Recovery (CTR) Unika Soegijapranata di kampus setempat.

Teknik terapi lainnya antara lain, terapi menghirup bunga. Dalam teknik terapi ini anak-anak diajak untuk membayangkan sedang memegang bunga di telapak tangannya. Kemudian anak-anak diminta untuk menarik napas dalam-dalam agar dapat menghirup wangi bunga yang dibayangkan sedang ada di telapak tangan mereka.

“Terapi ini bertujuan untuk mengajak anak-anak bernapas dengan teratur. Pernapasan yang digunakan adalah pernapasan perut karena pernapasan inilah yang dinilai paling baik untuk menenangkan tubuh,” tambahnya.

Teknik terapi lainnya adalah membentuk benda, bertujuan untuk mengencangkan dan meregangkan otot tubuh anak-anak. Otot tubuh anak-anak dalam kondisi trauma cenderung dalam keadaan tegang dan siaga.

Ada lagi bentuk terapi lainnya, disebut terapi menghalau singa. Bertujuan untuk mengajak anak-anak melepaskan emosi mereka dengan menggunakan cerita pengantar. Mereka diajak untuk berteriak sekencang mungkin untuk menghalau singa yang ingin masuk ke desanya.

Menurutnya masih banyak terapi sederhana yang mudah dilakukan dan cukup efektif membantu anak-anak lepas dari perasaan trauma. Satu di antaranya menurut Abi, terapi sentuhan, di mana bisa dilakukan oleh semua orang, ketika tahu titik mana ketika disentuh membuat seseorang itu menjadi lega.

(http://berita.suaramerdeka.com/)

Kategori: