Kristiana Haryanti: Masyarakat Indonesia Gampang Tersugesti
Senin, 24 Oktober 2016 | 9:00 WIB

SM 23_10_2016 Kristiana Haryanti - Masyarakat Indonesia Gampang TersugestiKasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi boleh jadi cuma gejala puncak gunung. Yang tak terungkap lebih besar, lebih banyak, lebih merugikan. Bagaimana praktik dan respons khalayak terhadap model penggandaan uang berbau ”mistik” atau bahkan ”klenik” itu? Bagaimana menyikapi dan menakar persoalan itu dari perspektif psikologis? Berikut perbincangan dengan ahli psikologi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Dr Kristiana Haryanti MSi Psi.

Bagaimana psikologi memandang dan menyikapi praktik penggandaan uang?

Psikologi mengenal istilah sugesti yang bisa menjelaskan fenomena ini. Istilah itu merujuk pada betapa mudah orang memercayai sesuatu, terlebih ketika dibumbui hal yang irasional. Penelitian guru besar dari Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Yuana Prawitasari, membuktikan kondisi itu dialami sebagian masyarakat. Riset yang berkaitan dengan body language itu hendak memotret perilaku umumnya bangsa kita.

Faktanya, suatu ketika orang gampang terperdaya untuk meyakini sesuatu. Kondisi itu akhirnya dimanfaatkan orang yang tak bertanggung jawab. Terlebih tingkat pendidikan di Indonesia juga belum merata. Ketika diiming- imingi sesuatu, ya pasti terlena. Rakyat juga mudah terprovokasi serta gampang diarahkan, sehingga praktik semacam itu seperti memperoleh ruang.

Kenapa praktik itu ”menarik” bagi orang, baik terpelajar maupun tidak?

Kalau perkara ini sudah masuk ranah pola pikir. Pola pikir seseorang yang dapat terbangun dari rasa keyakinan (believe) untuk mengakui praktik itu nyata. Bisa jadi orang tertarik karena merasa sudah pernah membuktikan uangnya berlipat ganda. Entah pelaku bermain sulap, menggunakan uang palsu, atau trik lain yang membuatnya percaya.

Rasa percaya atau trust dibumbui kombinasi keyakinan penuh ibarat magnet. Tak peduli orang berpendidikan atau tak mengenal bangku sekolah membutuhkan. Sepertinya saat dikaitkan dengan hal irasional atau supranatural, sebagian besar orang kehilangan akal jernih.

Faktor apa saja yang membuat praktik semacam itu muncul dan ”berterima”?

Saya melihat faktor jalan pintas yang sangat dominan. Orang tak juga paham untuk bisa mencapai sesuatu, entah itu bisnis, karier, bahkan rumah tangga, semua pasti berproses. Tak ada sistem instan atau tiba-tiba. Permasalahannya, tak banyak orang yang menyadari. Belum lagi tuntutan gaya hidup yang disimbolkan oleh pemenuhan materi berlimpah.

Itu semua merangsang orang mengandalkan jalan pintas. Mereka berlomba ingin punya mobil mewah, kedudukan tinggi, dan harta melimpah. Namun enggan membanting tulang untuk mendapatkan. Akhirnya cukup dengan cara instan. Ya, akhirnya mudah dibujuk rayu dengan model penggandaan uang.

Kenapa sepertinya kasus semacam itu selalu terulang dan baru heboh setelah ketahuan manipulatif?

Kondisi itu meneguhkan konsepsi atas teori permintaan dan penawaran. Ketika masyarakat masih tetap membutuhkan hal yang bersifat terabas, pastilah akan muncul pihak yang mencoba memberi jawaban seperti itu. Karena modelnya juga mencari jalan pintas, yang ditemukan adalah praktik-praktik kotor penuh risiko.

Psikologi mengenal pengertian reward dan modelling, yang menggambarkan motif seseorang melakukan sesuatu karena dorongan orang lain. Bisa jadi mereka menggandakan uang juga karena tertarik orang lain. Kendati itu mungkin hanya kedok penipuan dari pelaku. Masyarakat, yang masuk ke dalam perangkap itu, sepertinya juga karena kondisinya desperate atau putus asa. Itu untuk menggambarkan mereka sudah banyak berusaha, tetapi hasilnya tak kunjung baik. Walhasil, mereka menempuh cara-cara yang tak masuk akal.

Bagaimana semestinya penanganan kasus semacam itu?

Saya menilai harus dibenahi dari individu masing-masing. Sebab, saya yakin sebenarnya masyarakat Indonesia masih memiliki keteguhan iman. Rakyat di negeri yang menjunjung nilai-nilai ketuhanan ini juga sangat religius. Itu sejatinya modal besar untuk makin mengarahkan dan membangun keyakinan masyarakat betapa penting menjauhi hal-hal seperti itu.

Siapa saja yang semestinya terlibat penanganan kasus?

Pemerintah tentu harus terdepan, tanpa melupakan peran semua pihak. Seluruh pemangku kepentingan, termasuk kalangan akademisi, mesti berperan dengan menyumbangkan saran dan pemikiran serta rekonstruksi pemikiran yang lebih baik. Selebihnya, juga keterlibatan pemuka agama untuk menguatkan nilai-nilai moral dan tingkat spiritualitas rakyat. Arahkan supaya cara berpikir orang cenderung positif. Dengan tujuan, tidak lari menuju ketidakpastian yang mengakibatkan hanyut dalam mistik atau klenik.

Adakah lembaga yang mengedukasi masyarakat untuk tak terjebak praktik penggandaan uang?

Pasti banyak lembaga yang dapat dikaitkan untuk memberikan edukasi. Tak cukup hanya kampus dan sekolah yang memang menjadi tumpuan membentuk karakter dan kemampuan akademik seseorang. Lebih dari itu, juga lembaga penegak hukum melalui banyak sosialisasi yang mendidik. Kemudian sentuhan iman dan moral dari organisasi keagamaan di Tanah Air. Mari bersama-sama menyadarkan tentang perilaku tak terpuji dalam praktik semacam itu.

Bagaimana seyogianya menyikapi kasus semacam itu?

Sadarlah, untuk mencapai sesuatu butuh proses. Tanpa proses tak bakal meraih keberhasilan, apalagi secara tiba-tiba. Penggadaan uang pasti mengingkari upaya seseorang melakukan proses untuk bisa kaya atau sukses. Jadi sudah pasti tak boleh tergiur untuk melakukan. Jangan menyalahi hukum hanya karena dorongan naluri menumpuk harta berlebihlebihan. ( http://berita.suaramerdeka.com , Suara Merdeka 24 Oktober 2016, hal. 6  )

Kategori: ,