Jangan Hanya Belajar Peraturan Kesehatan di Thailand
Selasa, 11 Oktober 2016 | 14:58 WIB

SM 11_10_2016 Jangan Hanya Belajar Peraturan Kesehatan di ThailandSebuah seminar bertema ”Berburu Ilmu ke Negeri Gajah Putih” digelar di Gedung Thomas Aquinas, Universitas Katolik Soegijapranata, Jumat (7/10).

Acara bersubtema ”Praktik Mandiri Keperawatan di Thailand Sampai dengan Multidisciplinary Theraphy di Rumah Sakit Milik Kerajaan” itu membahas tiga laporan dari hasil kuliah kerja nyata (KKL), yakni ”Perbandingan dan Penerapan Regulasi Keperawatan di Thailand dan Indonesia”, ”Keamanan Pangan di Thailand dan Indonesia”, dan ”Perbandingan Regulasi Pelayanan Rumah Sakit di Thailand dan Pelayanan Rumah Sakit di Indonesia”.

Ada beberapa simpulan dari diskusi itu. ”Setelah mempelajari apa pun yang dilakukan di King Chulalungkorn Memorial Hospital, The Red Cross College of Nursing dan Nusing Faculty of Assumption, sistem pendidikan di Thailand lebih menekankan pada mutu dan etika. Peralatan-peralatannya juga lebih canggih.

Perawat tidak boleh memberi resep, tetapi praktisi perawat boleh memberi obat,” kata Abdur Rosyid, mahasiswa Program Magister Hukum Kesehatan Angkatan Ke-22, pembicara dalam seminar itu. Ada juga simpulan lain. ”Regulasi pelayanan rumah sakit di Thailand sudah bagus dan sudah diterapkan dengan baik,” ujar Jansje Grace M, pembicara lain.

Selain itu, ditinjau dari perihal ketahanan pangan, Thomas Christian B, salah satu pembicara, menyatakan, ”King Mongkutís Institute of Technology Ladkrabang (KMITL) merupakan salah satu perguruan tinggi di Thailand yang memiliki program studi agro-industri yang dengan penelitiannya terpusat pada pengolahan makanan tersebut dipasarkan.

Secara umum, impor makanan untuk dijual di kerajaan membutuhkan izin impor dan pelabelan standar menurut peraturan dalam negeri Thailand.”

Dekan Pascasarjana Dr Lindayani menanggapi simpulan itu. ”Membandingkan Thailand dengan Indonesia boleh saja dilakukan. Kita memang mesti menemukan kelebihan dan kekurangan kedua negara. Namun yang lebih penting dari itu adalah: apa saran yang kita berikan kepada Indonesia.”

Kecermatan di Lapangan

Upaya untuk melakukan penelitian yang cermat telah coba dilakukan. Sebanyak 34 mahasiswa pada 26-30 September, didampingi dosen pendamping (Dr Endang Wahyati, Dr Lindayani, dan Drs Hermawan Pancasiwi MSi) mengunjungi dan melakukukan observasi di Thai Red Cross Nursing College, Faculty of Nursing Assumption University, King Mongkutís Institute of Agriculture, dan King Chulalongkorn Memorial Hospital. Selain itu mereka juga berkunjung ke Wat Pho, Bangkok, salah satu pusat pengobatan tradisional yang diawasi oleh Thailand Food and Drug Administrasion (FDA). ”Kunjungan ke rumah sakit kerajaan juga mendapatkan hasil.

Setidaknya mahasiswa tahu di rumah sakit milik kerajaan itu terdapat pengobatan yang mereka sebut sebagai multidiciplinary theraphy yang menggabungkan terapi modern dan tradisional. Kami mencoba memburu obat palsu. Para penjual kesulitan menunjukkan,” kata Dr Endang Wahyati, Sekretaris Program Studi Magister Hukum Kesehatan Unika Soegijapranata.

Terhadap KKL dan seminar itu, Ketua Prodi Magister Hukum Kesehatan Prof Dr Agnes menyatakan, ”Jangan buru-buru menyimpulkan Thailand segalanya lebih baik ketimbang Indonesia. Jangan hanya melihat peraturan di atas kertas. Kita harus meriset yang terjadi di lapangan juga.” Itu berarti jangan belajar (hukum kesehatan) di Thailand dari peraturan- peraturannya saja.

( Suara Merdeka 11 Oktober 2016 hal.22,  http://berita.suaramerdeka.com )

Kategori: ,