FAD Unika Soegijapranata – Pameran Arsitektur Asmat
Kamis, 20 Oktober 2016 | 9:09 WIB

WWS_19_10_2016 Pameran Arsitektur AsmatBENDHAN DHUWUR – Berbagai karya mahasiswa Fakultas Arsiktektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata, dipamerkan dalam Pameran dan Diskusi Budaya ‘’Melihat Asmat Suroba Lebih Dekat’’ di Selasar Gedung Thomas Aquinas, 17-24 Oktober 2016.

“Kegiatan ini awalnya bertujuan mempublikasikan karya para mahasiswa FAD, kepada alumni dan tenaga profesional di luar Unika, dengan harapan dapat meningkatkan peran dari bahan alami seperti kayu dan bahan alami lainnya agar turut disertakan dalam model arsitektur modern. Pada acara ini, FAD berusaha menampilkan keilmuan yang mengandung unsur kultur Indonesia di dalamnya,’’ papar Dekan FAD Unika Dra Tyas Susanti PhD, Selasa (18/10).

Ditambahkan, pameran yang menjadi bagian dari perayaan Dies Natalis ke-49 FAD Unika tersebut merupakan hasil pengamatan, pencarian dan rekaman karya arsitektur dua suku Papua.

“Ini merupakan karya para mahasiswa angkatan 2014, yang selama beberapa bulan melakukan pendalam dan penelitian
karya arsitektur khas Indonesia termasuk suku Asmat dan suku Suroba,”lanjutnya.

Pameran tersebut juga didukung oleh Yayasan Rumah Asuh, sebuah yayasan yang bergerak dalam preservasi arsitektur di Indonesia.
Termasuk dalam penelitian model arsitektur rumah adat Indonesia, dengan mengirimkan dua mahasiswa FAD Unika ke desa Suku Asmat dan Suroba, yang terletak di Lembah Baliem, Papua.

■ Diskusi Budaya
Ketua Panitia Pameran Ir Chris tophorus Koesmartadi menambahkan, selain pameran juga akan digelar diskusi budaya
terkait penelitian mengenai model arsitektur Asmat dan Suroba, Senin (24/10) mendatang.

Hadir sebagai narasumber yakni Fajar dan Valerie (Ekskursi Asmat) serta Sandy dan Yoga (Ekskursi Suroba), dengan moderator Yori Antar, IAI dan pakar arsitektur Prof Dr Ir Josef Prijotomo M Arch.

“Saat ini banyak arsitektur asli Indonesia dan diburu asing sebagai kajian penelitian hingga rekam karya. Padahal pengetahuan arsitek atau pakar asing tentang Indonesia, terutama budaya maupun bahasa daerah sangat minim sehingga kita khawatirkan hasil mereka tidak sempurna seperti kalau diteliti, direkam jejak dan disampaikan oleh arsitek asal Indonesia. Untuk itu ini menjadi kesempatan dan peluang kita untuk menelitinya,’’ pungkasnya. (Wawasan 19 Oktober 2016, Hal. 19)

Kategori: