Dampak Buruk Trauma Anak
Senin, 10 Oktober 2016 | 11:32 WIB

img_2285Trauma yang dirasakan anak bisa muncul sebagai akibat dari bencana alam dan pengalaman buruk yang mereka alami seperti misalnya kekerasan, kehilangan, atau perpisahan, dan eksploitasi. Dalam kondisi tersebut anak yang mengalami trauma memerlukan terapi karena jika tidak dilakukan terapi, trauma dapat berdampak buruk pada perkembangan otak anak, yang pada gilirannya akan meningkatkan ‘arousal’ atau kewaspadaan yang berlebihan, agresi, hiperaktifitas, impulsifitas, dan sulit berkonsentrasi. Semua itu akan berdampak buruk terhadap pencapaian keterampilan, prestasi akademik, integrasi sosial, pemecahan masalah dan kesehatan mental umumnya dan akan menjadi penghalang langkah seorang anak menuju masa depan yang baik.

Untuk mensosialisasikan perihal terapi trauma anak maka UKM Centre for Trauma Recovery (CTR) Unika Soegijapranata mengadakan Workshop Terapi Anak yang disampaikan  oleh Christa Vidya Rana Abimanyu, S.Psi., M.Psi, pada hari Senin (3/10) bertempat di ruang kelas 402 gedung Antonius.

Dijelaskan oleh Abimanyu bahwa terapi trauma pada anak, penyampaiannya bisa dilakukan sesuai dengan dunia anak melalui yaitu cerita, sehingga anak-anak tidak merasa sedang melakukan terapi namun terkesan seperti sedang bermain. Dengan demikian anak-anak akan merasa lebih rileks dan gembira setelah melakukan terapi ini.

Teknik terapi trauma anak bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan terapi menghirup bunga, dalam teknik terapi ini anak-anak diajak untuk membayangkan sedang memegang bunga di telapak tangannya. Kemudian anak-anak diminta untuk menarik napas dalam-dalam agar dapat menghirup wangi bunga yang dibayangkan sedang ada di telapak tangan mereka. Terapi menghirup bunga tersebut bertujuan untuk mengajak anak-anak bernapas dengan teratur. Pernapasan yang digunakan adalah pernapasan perut karena pernapasan inilah yang dinilai paling baik untuk menenangkan tubuh.

Teknik terapi lainnya adalah terapi membentuk benda, bertujuan untuk mengencangkan dan meregangkan otot tubuh anak-anak. Karena anak-anak dalam kondisi trauma cenderung dalam keadaan tegang dan siaga. Maka dari itu, anak-anak diminta untuk menggerakkan bagian tubuh sesuai dengan bentuk benda yang diminta agar tubuh terasa lebih rileks. Benda yang dibentuk merupakan benda yang umum dan menarik bagi anak-anak seperti membentuk bunga bersama teman-teman, bergerak seperti kapas yang beterbangan dan mengencangkan tubuh seperti tiang listrik.

Sedangkan teknik terapi yang lain adalah terapi menghalau singa, bertujuan untuk mengajak anak-anak melepaskan emosi mereka dengan menggunakan cerita pengantar. Anak-anak diajak untuk berteriak sekencang mungkin untuk menghalau singa yang ingin masuk ke desa mereka.

Sebenarnya masih banyak terapi sederhana yang mudah dilakukan tetapi cukup efektif membantu anak-anak lepas dari perasaan trauma mereka. Salah satunya menurut Abimanyu yaitu, terapi sentuhan. “Pada dasarnya, semua orang bisa melakukan terapi sentuhan ketika mereka mengetahui titik mana yang membuat seseorang menjadi lega,” ungkap Abimanyu.

“Tetapi, terapi sentuhan ini juga harus memperhatikan nilai dan norma di titik mana seseorang merasa nyaman dan lega untuk disentuh. Bagian yang umumnya menjadi titik nyaman seseorang adalah pundak, tulang belakang dan kepala,” tambahnya.

“Materi terapi anak ini merupakan terapi yang sederhana dan mudah untuk dipraktikkan oleh semua orang,” tandasnya.

Mengenai rencana kegiatan serupa, Aisyah Gita selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa CTR akan mengadakan seminar terapi dewasa dalam skala yang besar dan terbuka untuk umum sebagai lanjutan dari terapi anak. (Ast)

Kategori: ,