Bunda Teresa – Mgr. Soegijapranata : Visualisasi Ajaran Kasih
Kamis, 20 Oktober 2016 | 10:48 WIB

 

Inspirasi 146 Visualisasi Ajaran KasihInspirasi 146 Visualisasi Ajaran Kasih2

Ulil Abshar Abdalla, Cendekiawan Muslim sekaligus Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), memiliki kekaguman yang luar biasa pada Ibu Teresa dari Kalkuta (1910-1997). Bagi Ulil, Ibu Teresa adalah salah satu visualisasi ajaran kasih, cinta, dan belarasa dengan cara yang sangat baik. Dia adalah Kasih yang mendaging. Keteladanannya tidak hanya konsep, melainkan menjadi praktik konkret tindakan sehari-hari.

Ibu Teresa diangkat menjadi Orang Kudus (Santa) dalam Gereja Katolik di Vatikan (Minggu, 4/9). Paus Fransiskus, dalam homili penetapan Ibu Teresa sebagai orang kudus, menegaskan bahwa Ibu Teresa berkomitmen untuk membela kehidupan dan model kekudusan zaman modern ini.

“Hari ini, saya menyampaikan inilah sosok simbol kewanitaan dan hidup bakti ke seluruh dunia : Semoga dia menjadi model kekudusan! Semoga pekerja tak kenal lelah dalam belas kasih ini membantu kita untuk semakin memahami bahwa kriteria untuk beraksi adalah cintakasih, bebas dari setiap ideologi dan semua kewajiban, ditawarkan untuk semua orang tanpa membedakan bahasa, budaya, ras atau agama”, ujar Paus di hadapan ratusan ribu orang di Lapangan Basilika Santo Petrus di Vatikan, Roma.

Ibu Teresa, lanjut Paus Fransiskus, berkomitmen tak henti-hentinya memberitakan janin adalah yang paling lemah, yang terkecil, yang paling rentan. Dia turun sebelum mereka yang letih, dibiarkan mati di sisi jalan, melihat di dalam mereka martabat yang diberikan Tuhan. Untuk Ibu Teresa, belas kasihan adalah ”garam” yang memberi rasa untuk pekerjaannya; hal itu adalah “terang” yang bersinar dalam kegelapan bagi banyak orang yang tidak lagi meneteskan air mata untuk kemiskinan dan penderitaan mereka. Misinya ke pinggiran kota dan karya yang tetap bisa dilihat hari ini menjadi bukti kedekatan Allah untuk yang termiskin dari yang miskin.

Kelaparan Kasih

Dunia sekarang ini sedang jungkir balik dan sangat menderita karena sedikit kasih di dalam rumah, di dalam kehidupan keluarga. Orangtua tidak punya cukup waktu untuk anak-anak, tidak punya waktu untuk diri sendiri, dan tidak cukup waktu untuk menikmati kebersamaan. Orang sibuk dengan pekerjaannya. Sibuk dengan bisnisnya. Sibuk dengan egonya. Sibuk dengan gadgetnya. Yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh.

Situasi yang demikian itu oleh Ibu Teresa disebut sebagai kelaparan kasih. Ibu Teresa pernah mengungkapkan, “Kemiskinan yang terburuk adalah kesepian dan merasa tidak dicintai. Penyakit terbesar saat ini bukanlah penyakit lepra ataupun TBC, tetapi perasaan tidak dikehendaki. Ada banyak kelaparan kasih dan apresiasi di dalam dunia saat ini dibandingkan kelaparan makanan”.

Realitas dewasa ini diwarnai keadaan memprihatinkan. Awal milenium III ditandai pembunuhan, penjarahan, pembohongan, dan pemerkosaan. Secara tegas Ignacio Ellacuria, filsuf dan teolog El Salvador, Amerika Tengah, mengungkapkan orang zaman ini hidup dalam “dunia yang sakit”. Bahkan Paus Yohanes Paulus II pernah menyebut pada awal milenium baru ini manusia menghadapi “saat yang penuh cobaan dan ketegangan”.

Laporan perkembangan tahun 2000-an dari UNDP memperlihatkan 54 negara menjadi lebih miskin daripada keadaan pada tahun 1900-an, 12 negara mengalami penurunan jumlah anak yang mendaftar ke Sekolah Dasar, penduduk 34 negara mengalami penurunan rentang hidup, lebih dari 25% dari penduduk di 9 negara tidak mempunyai akses pada air bersih, dan lebih dari 25% dari penduduk 15 negara tidak mempunyai jaminan kesehatan. Terkait kematian, 14 negara memiliki lebih banyak anak meninggal pada usia balita, 30.000 anak per hari meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dan 500 ribu perempuan meninggal ketika hamil atau melahirkan.

 

Kesadaran Keluarga Besar Manusia

Kemiskinan, kelaparan, dan penderitaan merupakan situasi yang sampai sekarang masih terjadi. Situasi itu menggerakkan banyak orang untuk peduli dan mewujudkan belas kasih (solidaritas) kepada sesamanya. Gerakan kepeduliaan itu perlu didasari iman, tidak sekedar rasa kasihan (Jawa: mesakke). Salah satu contoh pribadi yang peduli pada nasib sesamanya dan bangsanya adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (1896-1963).

Pada tahun 1950, Mgr. Soegijapranata pernah membuat refleksi yang sangat inspiratif dan masih relevan sampai saat ini. Betapa pentingnya orang mempunyai kesadaran bersama tentang kepedulian atau belaskasih sebagai keluarga besar umat manusia. Dikatakannya demikian: “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan”.

Sebagaimana Santa Teresa dari Kalkuta, Mgr. Soegijapranata juga mengajak orang untuk mendasari setiap tindakan sosialnya itu dengan cinta kasih. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesamanya. Terkait dengan hal ini, ada prinsip hidupnya yang masih terdokumentasi dengan sangat baik di gedung Memorial (Museum) Mgr. Soegijapranata di Kampus Unika Soegijapranata. Prinsip hidup itu adalah “In dubius, libertas; in necesariis, unitas; in omnibus, caritas”. Artinya: Dalam hal yang belum pasti, kebebasan; dalam hal yang penting, persatuan; dan dalam segala hal, cinta kasih.

Event perayaan kanonisasi Ibu Teresa menjadi orang Kudus tahun ini mempunyai makna yang istimewa. Orang diingatkan akan makna kasih, belarasa, dan kemiskinan. Benar ujar Ibu Teresa, “Kadang kita berpikir bahwa kemiskinan hanya berkaitan dengan kelaparan, tidak punya pakaian dan tidak punya rumah. Kemiskinan atas rasa tidak dikehendaki, tidak dikasihi dan tidak dipedulikan adalah kemiskinan yang paling besar, kita harus memulainya dari keluarga sendiri untuk memperbaiki kemiskinan jenis ini”.

‘Santa Kaum Papa’ ini mengungkapkan bahwa orang zaman modern ini butuh mencari Tuhan, dan Dia tidak dapat diketemukan dalam kebisingan dan ketergesaan. Tuhan adalah teman dari ketenangan. “Lihatlah pepohonan, bunga, rumput –mereka tumbuh di dalam ketenangan, lihatlah bintang, bulan dan matahari– bagaimana mereka bergerak dalam ketenangan. Kita membutuhkan ketenangan agar dapat menyentuh jiwa”, tuturnya.

Semasa hidupnya Ibu Teresa sering mengatakan, “Mungkin aku tidak berbicara bahasa mereka, tapi aku bisa tersenyum.” Mari kita membawa senyuman dan memberikannya kepada sesama kita, terutama mereka yang menderita. Dengan demikian, kita bisa menghadirkan wajah Tuhan yang berbelas kasih sebagai bentuk visualisasi ajaran kasih Yesus. #

 

Yohanes Gunawan, Pr
Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata
dan Anggota The Soegijapranata Institute

(INSPIRASI, Nomor 146, Tahun XIII, Oktober 2016, hlm 19-20.)

Kategori: ,