Semarang Kota Tak Ramah bagi Pengemudi, Apa Tanggapan Wali Kotanya?
Kamis, 22 September 2016 | 11:39 WIB

Kompas 18_09_2016 Semarang Kota Tak ramah bagi pengemudiBerdasarkan riset aplikasi transportasi Waze, yakni aplikasi peta berbasis Global Posititioning System(GPS), indeks kepuasan pengemudi di kota Semarang, Jawa Tengah, masih rendah.

Dalam paparan Waze, rating indeks kepuasan mengemudi di Semarang rendah, setara dengan Malang, Yogyakarta dan Medan. Tercatat rating indeks kota Semarang 4,58. Di Malang 4,56. Di Yogyakarta 4,42. Dan di Medan 3,75. Skala kepuasan pengemudi yakni 1-10.

Namun, rating rendah di Semarang belum separah di Bogor, Denpasar, Bandung, Surabaya dan Jakarta yang masuk dalam 10 besar kota terburuk di dunia bagi pengemudi, menurut paparan Waze tersebut.

“Wuits, Semarang masuk kategori juga?” kata Hendi, panggilan akrab Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat dikonfirmasiKompas.com, Minggu (18/9/2016).

Hendi menyadari sepenuhnya bahwa salah satu problem kota besar adalah jalan macet.

Semarang yang berpenduduk sekitar 1,7 juta jiwa juga menghadapi problem pelik lain yang terkait dengan mobilitas dan aksesibilitas, salah satunya adalah fenomena banjir rob yang kerab terjadi di jalur pantura Semarang.

“Salah satu program ke depan adalah upaya mengatasi macet lewat pembangunan infrastruktur jalan, pelebaran jalan, simpang susun dan juga penambahan transportasi umum yang nyaman,” kata Hendi.

Tantangan Serius

Sebelumnya, pakar transportasi sekaligus Dosen Universitas Soegijapranata Katolik (Unika) Semarang, Djoko Setijowarno pernah mewanti-wanti sebuah tantangan serius para pemimpin kota Semarang adalah masalah transportasi.

Menurut Djoko, masalah tansportasi di Semarang bukan masalah remeh temeh yang bisa diatasi dengan program yang asal-asalan.

“Kebutuhan akan layanan transportasi yang layak sudah setara dengan kesehatan dan pendidikan,” kata Djoko.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa titik kemacetan di Semarang kian bertambah. Hal itu menyebabkan waktu tempuh perjalanan makin lama. Bahkan, diperparah dengan layanan angkutan umum yang masih buruk.

“Terlebih lagi, tarif parkir tak jelas, trotoar termakan PKL, jalur sepeda sebatas alur, perhatian fasilitas buat disabilitas masih buruk. Ini semua perlu dibenahi secara serius,” jelasnya. (http://regional.kompas.com)

Kategori: