Membuka Mata Sejarah yang ”Digelapkan”
Rabu, 28 September 2016 | 13:45 WIB

SM 28_09_2016 Membuka Mata Sejarah yang ”Digelapkan”

PUISI berjudul ”Pantai Sanleko” karya Hersri Setiawan, menjadi pembuka film Pulau Buru Tanah Air Beta saat diputar di Gedung Thomas Aquinas, Unika Soegijapranata, Semarang, Selasa (27/9).

Film itu disutradarai Rahung Nasution. Aktor utamanya Hersri Setiawan, sastrawan yang karyanya saat itu tak diakui pemerintah. Puisi-puisi Hersri menghiasi di setiap klip. Sastrawan penerima pengharagaan ”Inspirasi Perjuangan HAM bagi Generasi Muda” dari UGM itu, kemarin hadir di tengah
penonton.

Film tersebut menceritakan kisah Hersri di Pulau Buru saat jadi tahanan politik. Dia tak pernah berniat kabur, memilih dibebaskan atau mati dipenjara. ”Harapan saya adalah bertahan lebih lama supaya bisa pulang,” katanya. Gayung bersambut, pada 1977-1979 tahanan Buru dibebaskan.

Penonton disuguhi pemandangan Pulau Buru dengan langit yang biru, sekaligus perjalanan Hersri dan teman sesama eks tapol, Tedjabayu Sudjojono.

Mereka mengunjungi suatu gedung kesenian yang dibangun para tapol. Satusatunya monumen yang tersisa monumen kecil di Desa Savanajaya. Di situ tertera nama-nama tentara yang bertugas di sana. ”Padahal yang bikin tapol,” ungkap Tedjabayu. Film ditutup saat Hersri menyambangi makam rekannya, Heru. Suasana haru ketika doa dipanjatkan di depan nisan yang terlantar.

Produser Ita Fatia Nadia yang juga istri Hersri, dan Ketua Program Studi Magister Lingkungan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata, Donny Danardono menjadi pemateri diskusi. Mahasiswa Unika, UIN Walisongo, pegiat HAM, peneliti, pecinta sejarah, dan jurnalis memadati ruangan.

”Film ini bertujuan membuka mata generasi muda tentang sejarah yang digelapkan dan dibungkam. Ini bukan cerita angin, tetapi narasi perjalanan hidup dari sisi korban. Tidak ada kemarahan, tetapi recalling history bukan bicara soal komunisme,” kata Ita.

Donny mengatakan, film ini mengandung makna yang dibangun lewat narasi. ”Secara sinematografi sangat menyentuh. Tidak ada latihan akting, sangat natural,” ujarnya. Hersri mengakui, keberadaan eks tapol maupun kegiatan untuk mengungkap sejarah masih diliputi trauma. (Suara Merdeka 28 September 2016, hal. 23)

Kategori: