Guru dan Dosen Perlu Recharging Demi Meneguhkan Profesinya
Kamis, 15 September 2016 | 8:33 WIB
SM 14_09_2016 Guru dan Dosen Perlu Recharging Demi Meneguhkan Profesinya

Praktisi Pendidikan Prof Dr H Arief Rachman MPd saat mengisi Seminar Pedagogi dan Andragogi Inspiratif ‘the Truth of Education: Intelligence Plus Character’ di ruang Theater Gedung Thomas Aquinas, Rabu (14/9)

Seorang pendidik, guru atau dosen perlu recharging untuk meneguhkan profesi yang telah dipilihnya. Ada enam hal umum yang perlu diperhatikan. Praktisi Pendidikan Prof Dr H Arief Rachman MPd mengatakan, hal pertama yang perlu diperkuat adalah tingkat spiritual.”Spiritual dalam hal ini adalah pengabdian kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak menganggap seorang itu sebagai pendidik jika tidak mempunyai kekuatan spiritual,” kata Ketua Harian Nasional Unesco itu kepada dosen Unika Soegijapranata yang mengikuti Seminar Pedagogi dan Andragogi Inspiratif ‘the Truth of Education: Intelligence Plus Character’ di ruang Theater Gedung Thomas Aquinas, Rabu (14/9).

Perkuatan kedua seorang dosen atau pendidik, harus mempunyai kekuatan intelektual dibidang studinya dan harus mumpuni. Dosen tidak hanya mengajar, tetapi terlibat penelitian. Kalau tidak, bisa jalan di tempat. Kekuatan intelektual ini menurutnya, sangatlah penting.

“Dosen juga harus mempunyai kepekaan emosional, harus cerdas bagaimana membawa diri di hadapan mahasiswa. Bisa mengendalikan emosi meski sedang mengalami masalah pribadi, di depan mahasiswa harus diatur agar tidak terbawa,”  tuturnya.

Menjadi seorang guru atau pendidik itu profesional, yaitu profesionalisme dibangun dari nilai, etika, sikap, kebiasaan ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Menurutnya lebih mudah profesional jika menjadi guru atau pendidik di bidang eksakta. Tetapi jika di bidang ilmu humaniora akan lebih sulit, karena lebih mudah terbawa.”Tidak sedikit dosen yang menghabiskan waktunya untuk bercerita tentang dirinya,” tambah guru besar Universitaa Negeri Jakarta itu.

Seorang pendidik atau dosen juga mempunyai kepekaan sosial, dimana tidak boleh mengajar saja di universitas atau sekolahan. Kepekaan sosial ini juga tidak hanya untuk satu gololongan atau kelokpok saja.

Terakhir adalah kesehatan, tidak sedikit dosen harus dibaca peta kesehatannya seperti apa. Kesehatan kadang oleh universitas tidak dijadikan program rutin.

Sementara itu Psikolog Dr Augustina Sulastri M Psi menyatakan, di tengah dasyatnya kemajuan teknologi informasi serta arus globalisasi. Sekolah dan Perguruan Tinggi kehilangan kedigdayaan dan monopolinya sebagai pengantara tunggal ilmu dan penyedia tenaga pendidik.

Dosen mestinya harus senantiasa belajar. Jika tidak, bukan mustahil akan semakin ditinggalkan mahasiswanya yang dapat dengan mudah belajar sendiri dengan perangkat yang dimiliki. Hakekatnya, universitas atau sekolah terkait dua hal, kemampuan intelektual dan pemekaran serta penguatan diri. (http://berita.suaramerdeka.com)

Kategori: