Batasi Kendaraan di Kota Lama
Rabu, 21 September 2016 | 9:37 WIB

SM 21_09_2016 Batasi kendaraan di Kota Lama

■ Picu Kerusakan Bangunan

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang diminta membatasi kendaraan yang melintas di kawasan Kota Lama. Selain itu, memberlakukan parkir terpadu bagi wisatawan.

Pakar transportasi dari Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno mengatakan, kendaraan berat yang melintas di kawasan Kota Lama memicu kerusakan bangunan di sana. ”Getaran kendaraan yang cukup besar, sedikit banyak pasti mengganggu kondisi bangunan di kawasan Kota Lama. Yang jelas, dengan jumlah kendaraan yang dibatasi, kerusakan jalan di tempat tersebut dapat diminimalisasi, dan biaya perawatan dapat ditekan,” kata Djoko, kemarin.

Dia mengatakan, perawatan bangunan bersejarah dengan cara membatasi kendaraan yang melintas di kawasan itu bisa menjadi salah satu cara. Terlebih lagi, Wali Kota menargetkan Kota Lama menjadi warisan budaya dunia pada 2020 mendatang.

Kantong Parkir

Pemkot, kata dia, juga perlu menyediakan kantong parkir dan shuttle bus menuju tempat itu. Menurutnya, Kota Lama cocok dibuat sebagai kawasan pejalan kaki dan hanya kendaraan umum yang diperbolehkan melintas dengan pembangunan halte di beberapa sudut kawasan. ”Dapat disediakan kendaraan khusus yang mengitari kawasan Kota Lama secara terjadwal untuk melayani pelancong yang tak kuat jalan kaki, anakanak, dan lansia. Dalam jangka panjang, jika perlu kendaraan tersebut tidak berisik, berenergi listrik atau baterai,” katanya.

Wali Kota Hendrar Prihadi menyatakan jika target Kota Lama menjadi warisan budaya dunia tak bisa mulus begitu saja. Dibutuhkan dukungan banyak pihak untuk merealisasikan gagasan besar ini. Sebab, salah satu permasalahannya, gedung peninggalan Belanda di Kota Lama memang sudah menjadi milik perorangan atau perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Untuk itu, dia menilai perlu kerja sama dari para pemilik agar gedungnya mau dikelola swasta, pemerintah atau dikelola sendiri. Sebelumnya, arsitek yang juga tim ahli cagar budaya Kota Semarang Widya Wijayanti menyatakan Pemkot perlu mengajak para pemilik gedung untuk membuat komitmen bersama terkait pengelolaan dan pemertahanan kondisi bangunan. Musababnya, bangunan tersebut bernilai sejarah tinggi. Sementara, jika tak memiliki komitmen kuat, para pemiliknya dapat mengubah bentuk asli bangunan. Namun demikian, menurut dia, kepemilikan pribadi atas sejumlah bangunan di kawasan Kota Lama, juga tempat bersejarah lain di Kota Semarang, semestinya bukan menjadi kendala menjadikannya sebagai cagar budaya maupun warisan budaya dunia. (http://berita.suaramerdeka.com, Suara Merdeka 21 September 2016, Hal.18 )

Kategori: ,