UNIKA SOEGIJAPRANATA RAYAKAN DIES NATALIS ke- 34
Senin, 15 Agustus 2016 | 12:40 WIB

IMG_0443Sesuai dengan tema karya pada Tahun 2015-2016 yakni Ugahari Mandiri, dalam perayaan Dies Natalis ke-34, Unika Soegijapranata menyelenggarakannya dengan penuh kesederhanaan. Dies yang berlangsung pada hari Jumat (5/8) dan bertempat di 5uang Theater Gd. Thomas Aquinas ini mengundang seluruh jajaran karyawan dan dosen serta tamu undangan yang berasal dari perguruan tinggi lain di sekitar Unika Soegijapranata.

“Kami akan mempersiapkan diri demi menyinergiskan kegiatan Dies Natalis yang akan mendatang. Kami berusaha untuk memberikan diri yang terbaik bagi masyarakat, hal ini terbukti dengan pencapaian kami menjadi PTS terbaik nomor 10 se-Indonesia, menjadi kluster utama dalam penelitian yang diberikan oleh Kemenristekdikti serta ditempatkan menjadi PTS Terbaik se-Jawa Tengah versi salah satu media massa di Indonesia.”

Meskipun digelar dengan sederhana, tak menghalangi kemeriahan acara Dies Natalis ke-34 Unika Soegijapranata ini. Seluruh dosen dan karyawan mengikuti perayaan yang diawali dengan sidang Senat Terbuka dengan antusias. “Banyak Target yang harus dikejar pada tahun-tahun yang akan datang. Dan berharap dengan banyaknya jalinan kerjasama yang dimiliki oleh Unika Soegijapranata, semoga dapat meningkatkan mutu dan kualitas serta memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakat.”

Orasi Ilmiah

Tak ketinggalan pula, dalam Puncak Perayaan Dies Natalis, terdapat Orasi Ilmiah yang dibawakan oleh Prof. Josef Prijotomo, M.Arch Guru Besar ITS Surabaya dengan materinya “Kearifan Arsitektur Nusantara, ataukah Kejeniusan Arsitektur Nusantara”. Menurut Prof. Josef, gaya Arsitektur di Indonesia ini lebih merujuk pada gaya Arsitektur Eropa dan Amerika yang menganut 4 Musim, sedangkan Indonesia hanya terdapat 2 musim saja.

“Hal tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia yang notabenenya tidak memiliki cuaca yang ekstrem. Indonesia memerlukan bangunan yang kokoh untuk menghadapi banjir serta gempa bumi. Cukup dengan penutup bambu (tirai) tidak usah tembok, juga tanpa pondasi kuat tetapi cukup menancap tiangnya di tanah atau sistem rumah panggung yang oleh nenek moyang orang Indonesia sudah sangat jenius dibuat sejak lama” jelasnya.

“Masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mau menggunakan Arsitektur Nusantara, dan lebih memilih menggunakan Arsitektur Eropa karena pengaruh globalisasi. Untuk itulah tugas kita untuk melestarikan Arsitektur Nusantara supaya lebih dikenal dan dicintai oleh masyarakat kita” paparnya. (Ign)

Kategori: ,