Menjajal Sensasi Kereta Cepat Negeri Tiongkok
Selasa, 16 Agustus 2016 | 14:03 WIB

Beritatran 15_08_2016 Menjajal Sensasi Kereta Cepat Negeri TiongkokSejarah perkeretaapian Tiongkok nomor 3 di Asia, setelah India dan Indonesia yang lebih dulu mengoperasikan.

“Namun, sekarang laju pembangunan kereta apinya luar biasa. Jaringan kereta api (KA) cepat udah mencapai panjang 15.000 km. Sementara panjang jalan tol sudah mencapai 120.000 km,” kata Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah, Djoko Setyowarno saat menceritakan pengalamannya melanglang ke Negeri Tirai Bambu itu kepada beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans.

Ia bercerita, CRH (China Railway Highspeed) yang mengoperasikan kereta cepat di Tiongkok. Kereta cepat ini dapat melaju dengan kecepatan mencapai 300 km per jam.

Beijing-Tianjin yang berjarak 150 km dapat ditempuh 40 menit. Lintas ini cukup ramai penumpang. Setiap 15 menit ada kereta cepat yang berangkat. Tianjin merupakan kota pelabuhan di timur Beijing. Tarifnya hanya 54,5 Yuan, setara Rp110 ribu.

“Ketika berkunjung ke Tiongkok, Presiden Joko Widodo sudah menjajal jalur ini sekalian melihat kondisi pelabuhan internasional di Kota Tianjin,” kata Djoko.

Cepat dan murah, mungkin ini yang membuat Presiden Joko Widodo merintis kereta cepat di Indonesia, Jakarta-Bandung.

Sementara lintas Beijing-Shanghai berjarak 1.200 km, cukup ditempuh dalam 5 jam 15 menit. Sebelum ada kereta cepat dengan kereta biasa ditempuh 17 jam lamanya. Jarak 1.200 kilometer, kira kira Merak-Banyuwangi-Denpasar. Tarifnya 553 Yuan atau setara Rp1.106.000,00.

Berperjalanan dengan kereta cepat di Tiongkok memang nyaman sekali. Goyangan dan getaran selama perjalanan tidak begitu terasa seperti naik kereta di Indonesia. Suara mesin sangat halus. Seperti naik pesawat terbang.

Ada juga kereta magnet yang menghubungkan Bandara Internasional Pudong dengan Kota Shanghai berjarak 34 km, cukup ditempuh 7 menit.

Pembangunan kereta cepat di Indonesia masih ada pro dan kontra. Mungkin krarena pilihan jalurnya. Sudah kebutuhan atau hanya keinginan sebagai rintisan awal.

“Terpenting, jangan abaikan persoalan lingkungan agar lebih cermat. Juga perhitungan kelayakan finansialnya. Jangan sampai keduanya nanti jadi persoalan serius di kemudian hari,” tutur Djoko, menutup kisahnya.

Tautan : http://beritatrans.com

Kategori: