Menelisik Makam Para Pahlawan
Senin, 22 Agustus 2016 | 9:25 WIB

SM 21_08_2016 Menelisik Makam Para PahlawanMakam Bercungkup

Adapun di Kota Semarang, di bagian timur Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal ada cungkup berkaki empat berukuran 6 x 6 meter yang berdiri kukuh. Cungkup itu menaungi makam Mgr Albertus Soegijapranata SJ. Dialah uskup pribumi pertama di Indonesia yang berjuang pada masa revolusi di Semarang dan Yogyakarta. Itulah makam satu-satunya yang bercungkup.

Peletakan batu pertama cungkup dilakukan 10 November 1963, saat peringatan Hari Pahlawan, oleh Kepala Staf Kodam VII/Diponegoro (kini Kodam IV/Diponegoro) Kolonel Sudjonopada. Ketua The Soegijapranata Institut (TSI) Unika Soegijapranata, Theodorus Sudimin, menyatakan ada perubahan ornamen makam oleh Dinas Sosial. Namun tidak fundamental.

”Pagar besi diganti alumunium. Lantai tegel diganti keramik,” ujarnya. Cungkup makam yang dibuat berdasar persetujuan Presiden Soekarno. Cungkup itu sederhana dan bercorak nasional serta mengandung makna filosofis, melambangkan perjuangan hidup sang uskup untuk gereja dan Republik Indonesia. Sudimin menuturkan selama pendudukan Jepang di Semarang, Soegija melindungi masyarakat, geriliyawan, dan gereja. ”Setiap babak perjuangan revolusi, Soegija berperan. Dia dihargai karena mendorong umat Katolik mencintai Indonesia.

” Soegijapranata lahir di Surakarta, 25 November 1896, dan meninggal di Steyl, Belanda, 22 Juli 1963 pada usia 66 tahun. Soekarno menetapkan dia sebagai pahlawan nasional, 26 Juli 1963, dan dimakamkan di TMP Giri Tunggal, 30 Juli 1963. ”Dia juga dianugerahi gelar jenderal TNI tituler.” Di Kota Semarang pula bersemayam Dokter Kariadi. Dialah tokoh Pertempuran Lima Hari Semarang. Dia meninggal 14 Oktober 1945, tertembak serdadu Jepang yang menduduki Semarang.

Kepala Laboratorium Rumah Sakit Central Burgelijke Ziekeninrichting (lalu berganti nama jadi RS Purusara) ini, pada mada itu, hendak memeriksa Reservoir Siranda yang dikabarkan diracun. Namun sebelum tiba lokasi dia diberondong peluru. Peristiwa ini memicu kemarahan warga Semarang hingga memicu Pertempuran Lima Semarang. Tiga hari setelah meninggalk, 17 Oktober 1945, jenazahnya dimakamkan di halaman RS Purusara (kini RSUP dr Kariadi). Diduga di sekitar kamar mayat saat ini.

Jenazahnya dipindah ke TMP Giri Tunggal, 15 November 1961, atas usul Gubernur Jawa Tengah Mochtar. Dan, namanya digunakan sebagai nama RS Kariadi. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1968, Kariadi dianugerahi Satyalencana Kebaktian Sosial secara anumerta oleh Presiden Soeharto. Meski, sampai saat ini, dia belum diakui sebagai pahlawan nasional. (Suara Merdeka 22 Agustus 2016, hal. 1, 9)

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com, http://epaper.suaramerdeka.com

Kategori: ,