Kantor Seperti Gudang – Pelayanan BRT Sulit Optimal
Rabu, 3 Agustus 2016 | 14:08 WIB

WWS 03_08_2016 Pelayanan BRT Sulit Optimal

Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang dinilai sulit mewujudkan program layanan optimal.
Penilaian itu disampaikan pengamat transportasi Semarang Djoko Setijowarno kepada Wawasan di Balaikota, Selasa (2/8). Menurutnya, dari kondisi kantornya saja sudah mencerminkan kekurangan optimalnya kinerja mereka.

“Saya melihat kondisi kantor BRT Trans Semarang yang terletak di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda Kota Semarang, seperti gudang. Saya rasa ini akan mempengaruhi kinerja para personel yang ada di dalamnya,” terangnya.

Dijelaskan, selama kesejahteraan yang layak belum dirasakan pengelola Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, sepertinya akan sulit menyajikan pelayanan yang maksimal. Dari kon disi kantor yang kurang manusiawi, buruknya sistem penerimaan personel serta belum pahamnya kru akan kebutuhan armada transportasi massal, menjadi penyebab lainnya.

Disinyalir, buruknya kondisi ini karena dukungan dari Pemkot Semarang juga belum maksimal. Karenanya, Djoko menyarankan agar penyediaan fasilitas untuk pengelola BRT Trans Semarang untuk bisa diperbaiki agar orang-orang yang bekerja di dalamnya bisa fokus dalam penyediaan layanan kepada masyarakat.

“Sediakan kantor yang standar, sekelas perbankan, bukan seperti sekarang yang selayaknya gudang dengan kursi reot. Gaji mereka harus berada di atas UMK. Gaji sopir standar Rp 4 juta per bulan dengan delapan jam kerja tiap hari dan satu hari libur dalam sepekan,” tambahnya.

■ Jalan Terus
Di sisi lain, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin memastikan jika proses hukum terhadap kru BRT yang melakukan pemukulan, akan tetap dilanjutkan. Meski demikian, pihaknya belum bersedia merinci perkembangan kasus yang menimpa Budiyono, warga Ungaran tersebut.

Menurutnya, anggotanya masih mengumpulkan sejumlah keterangan untuk penyelidikan. Saat ini, ia mengaku belum bisa menjelaskan perkembangan kasus tersebut sehingga belum bisa memberikan keterangan lengkap soal kasus tersebut.

“Pasti ditindaklanjuti laporan itu tapi saya belum bisa sampaikan detilnya sampai mana. Yang jelas prosesnya terus berjalan,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Budiyono menjadi korban pemukulan yang dilakukan petugas tiket atas (PTA) bernama Aditya (20) di halte Ngesrep, Minggu (31/7) hingga menderita luka di bagian dahi. Pelaku mengaku terpaksa memukul korban karena tersulut emosi lantaran komplain penumpang tersebut disampaikan dengan kata-kata kasar. (Wawasan 3 Agustus 2016, hal. 17, 18)

Kategori: