Belajar Transportasi di Negeri Tiongkok – Oleh: Djoko Setijowarno
Rabu, 24 Agustus 2016 | 12:03 WIB

RDRS 22_08_2019 Belajar Transportasi di Negeri Tiongkok

SELAMA lima hari (7-11/8) lalu, penulis mendapat kesempatan mengikuti Program Studi Banding Melihat Tiongkok dalam Persepektif Perkeretaapian, Beijing-Shanghai. Program ini rutin diselenggarakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan sudah berjalan lima tahun lebih. Setiap tahun memberangkatkan 5 gelombang. Setiap gelombang kisaran 60-100 peserta.

Sejak 2001, sepeda motor dilarang beroperasi di Kota Beijing, Tiongkok. Yang dibolehkan melintas di jalan raya hanya sepeda listrik. Untuk menjamin keselamatan pengguna sepeda dan sepeda listrik disediakan jalur khusus yang diberi pembatas fisik dengan jalur mobil.

Satu kebijakan angkutan yang ramah lingkungan dan mengurangi kemacetan. Selain itu juga berwawasan keselamatan yang tinggi, karena sepeda motor dirancang hanya untuk angkutan jarak dekat. Yang pasti, lebih mengutamakan keselamatan pengguna jasa atau naik angkutan umum.

Harga sepeda listrik di Beijing 4.000 Yuan atau Rp 8 juta per unitnya. Kekuatan baterai bisa sampai 3 jam. Bergerak dengan laju tidak melebihi 60 km per jam. Satu tingkat kecepatan yang masih dalam taraf aman dan bisa ditoleransi oleh pengguna jalan lainnya. Artinya, pemerintah memberikan perlindungan optimal buat pengguna kendaraan tidak bermotor.

Sementara jalur bus tidak diberi pembatas. Cukup diberi marka menerus hingga dua lapis. Dan diberi marka bertuliskan 06.00-22.00. Yang artinya, selama pukul 06.00-22.00 dilarang kendaraan selain bus masuk atau manfaatkan lajur ini. Jika ada yang melanggar, dapat dengan mudah terpantau. Selain ada kamera di belakang setiap bus. Juga dipasang kamera CCTV di setiap persimpangan untuk membantu memantau bagi kendaraan lain yang melanggar.

Sanksi atau dendanya cukup tinggi. Jika melanggar tidak perlu sidang pengadilan. Cukup membayar denda yang dapat diambil dari debet langsung uang pemilik kendaraan yang disimpan di bank.

Di setiap halte bus ada pemandu berbaju kuning yang memandu pengguna bus umum. Pemandu tersebut umumnya orang yang sudah tua dilengkapi dengan bendera merah dan di beberapa tempat ada yang menggunakan pengeras suara. Penumpang diminta masuk pintu depan, keluar pintu belakang. Pembatas jalan di areal lebar jalan yang terbatas dapat menggunakan pagar besi. Tidak harus dengan separator yang terkadang bisa mencelakakan.

Di Shanghai dapat menikmati wisata Sungai Huang Pu yang membelah Kota Shanghai. Menyusuri Sungai Huang Pu di malam hari dengan kapal merupakan paket wisata yang dapat dinikmati pelancong. Setiap orang dikenakan 120 Yuan (setara Rp 420 ribu) untuk perjalanan menyusuri Sungai Huang Pu selama lebih kurang 1 jam.

Sama seperti menyusuri Sungai Seine di Paris. Bedanya, di Sungai Seine aktivitas menyusuri dapat dilakukan mulai pagi hingga malam. Sedangkan di Sungai Huang Pu hanya dapat dilakukan malam hari. Pagi hingga sore, sungai ini melayani aktivitas kapal-kapal barang. Pada malam hari juga terkadang masih ada kapal barang yang melintas, sehingga kapal pesiar sungai harus berhati-hati. Jika ingin berbelanja mencari cenderamata dapat mengunjungi Chenhuangmiao tidak jauh dari Kawasan The Bund yang cukup terkenal di Kota Shanghai.

Menjajal Kereta Cepat
Sejarah perkeretaapian Tiongkok nomor 3 di Asia, setelah India dan Indonesia yang lebih dulu mengoperasikan. Namun sekarang laju pembangunan kereta apinya luar biasa. Jaringan kereta api (KA) cepat sudah mencapai panjang 15.000 km. Sementara panjang jalan tol sudah mencapai 120.000 km.

CRH (China Railway High-speed) yang mengoperasikan kereta cepat di Tiongkok. Kereta cepat ini dapat melaju dengan kecepatan mencapai 300 km per jam. Beijing-Tianjin yang berjarak 150 km dapat ditempuh 40 menit. Lintas ini cukup ramai penumpang. Setiap 15 menit ada kereta cepat yang berangkat. Tianjin merupakan kota pelabuhan di timur Beijing. Tarifnya hanya 54,5 Yuan, setara Rp110 ribu. Setiap rangkaian dapat menarik 8 kereta.

Ketika berkunjung ke Tiongkok, Presiden Joko Widodo sudah menjajal jalur ini sekalian melihat kondisi pelabuhan internasional di Kota Tianjin. Cepat dan murah, mungkin ini yang membuat Presiden Joko Widodo merintis kereta cepat di Indonesia, Jakarta-Bandung.

Sementara lintas Beijing-Shanghai berjarak 1.200 km, cukup ditempuh dalam 5 jam 15 menit. Sebelum ada kereta cepat dengan kereta biasa ditempuh 17 jam lamanya. Jarak 1.200 kilometer, kira-kira Merak-Banyuwangi-Denpasar. Tarifnya 553 Yuan atau setara Rp 1,1 juta. Setiap rangkaian bisa menarik hingga 16 kereta.

Berpergian dengan kereta cepat di Tiongkok memang nyaman sekali. Goyangan dan getaran selama perjalanan tidak begitu terasa seperti naik kereta di Indonesia. Suara mesin sangat halus, seperti naik pesawat terbang. Ada juga kereta magnet yang menghubungkan Bandara Internasional Pudong dengan Kota Shanghai berjarak 34 km, cukup ditempuh 7 menit.

Pembangunan kereta cepat di Indonesia masih ada pro dan kontra. Mungkin krarena pilihan jalurnya. Sudah kebutuhan atau hanya keinginan sebagai rintisan awal. Terpenting, jangan abaikan persoalan lingkungan agar lebih cermat. Juga perhitungan kelayakan finansialnya. Jangan sampai keduanya nanti jadi persoalan serius di kemudian hari. (*)

Peneliti Laboratorium Transportasi Unika Soegijapranata
(djokosetijowarno@yahoo.com)

Tautan : http://www.radarsemarang.com

Kategori: