Arsitektur Nusantara Tak Kalah dari Barat
Senin, 8 Agustus 2016 | 13:03 WIB

KR 08_08_2016 Arsitektur Nusantara Tak Kalah dari BaratGuru besar arsitektur Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) Prof Dr Ir Josep Prijotomo MArch mengkritisi dan mengkritik keras akan ‘ketololan’ orang-orang Indonesia, di antaranya di bidang arsitektur. Jelas-jelas Barat mengembangkan arsitektur Barat disesuaikan dengan kondisi alam 4 musim di Eropa dan Amerika yang akhirnya membuat bangunan kokoh dengan sistem fondasi kuat dan tembok agar bangunan terhindar dari cuaca ekstrem dingin, juga membuat AC sebagai alat untuk memanaskan ruangan di Barat saat musim dingin.

Indonesia hanya 2 musim, tidak 4 musim dan cuacanya sangat bersahabat, tidak ekstrem. Harusnya tidak perlu tembok kokoh maupun fondasi superkuat yang malahan membahayakan bangunan kalau pas gempa atau banjir atau bencana lainnya. Cukup dengan penutup bambu (tirai) tidak usah tembok, cukup sistem rumah panggung yang oleh nenek moyang orang Indonesia sudah sangat jenius dibuat sejak lamaĆ® ujar Prof Josep Prijotomo saat pidato Dies pada acara Dies Natalis ke-34 Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang di kampus setempat, kemarin yang dibuka Rektor Unika Prof Dr Y Budi Widianarko MSc.

Menurut Prof Josep Prijotomo, masyarakat Indonesia sebetulnya tahu akan kekeliruan tersebut tetapi tidak mau mengakui kesalahan ini sehingga dengan agak keras dirinya menyebut orang Indonesia untuk hal ini ‘tolol’. Josep berharap masyarakat Indonesia yang berkecimpung dengan masalah arsitek mau mengajarkan sebanyak-banyaknya ilmu arsitektur nusantara yang sangat kaya, beragam dan jenius. Contoh nyata akan kejeniusan arsitektur nusantara yaitu pemakaian umpak (semacam paku dari kayu) yang dulu banyak dipakai bangunan nusantara, sementara cara itu sekarang ditinggalkan dan diganti dengan paku serta material ala Barat lainnya yang sebetulnya tidak ramah lingkungan dan tidak cocok bagi kondisi Indonesia.

Sementara itu Rektor Unika Soegijapranata Semarang Prof Budi Widianarko MSc menyatakan, segera mengembangkan kampus baru Unika di BSB City Semarang seluas 5 hektare yang sudah tuntas proses pembeliannya. Dalam waktu dekat segera dipakai untuk proses belajar mengajar di antaranya untuk Soegijapranata Catholic Universitu College (SCU College) . (Kedaulatan Rakyat, 8 Agustus 2016, hal. 10)

Kategori: