OPINI: Kesiapan Infrastruktur Menahan Serbuan Pemudik
Sabtu, 2 Juli 2016 | 12:30 WIB

Liputan6 01_07_2016 Opini - Kesiapan Infrastruktur Menahan Serbuan PemudikSetiap musim Lebaran, pemerintah selalu disibukkan untuk menyiapkan infrastruktur yang memadai. Ada kemauan kuat menjadwalkan perbaikan infrastruktur tersebut.

Jalur pantura tidak luput dari pantauan, karena jalur ini yang paling padat digunakan pemudik. Walaupun dalam tahun ini, tidak semua infrastruktur di pantura dapat diselesaikan tepat waktu sebelum mudik Lebaran.

Tahun ini Kementerian Perhubungan memprediksi ada kenaikan pemudik 1,04 persen dibanding tahun lalu. Pada 2015 ada 17.404.575 pemudik, tahun ini diprediksi 17.995.412 pemudik. Diprediksi pula pemudik menggunakan mobil pribadi meningkat 1,04 persen, sedangkan sepeda motor 1,48 persen.

Untuk seluruh Indonesia, titik beratnya angkutan jalan di 14 provinsi dengan layanan 48 terminal penumpang, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan dengan 7 lintas utama. Angkutan laut menyiapkan 52 pelabuhan, angkutan udara 35 bandara udara dan angkutan kereta api di Jawa dan Sumatera.

Dari total 48 terminal yang disiapkan untuk pelaksanaan angkutan Lebaran 2016, 18 di antaranya telah diperbaiki pelayanannya pada 2015.

Terminal penumpang yang disiapkan sebanyak 48 terminal tipe A. Seiring dengan pengambilalihan terminal tipe A sesuai amanah UU No. 23/2016 tentang Pemerintah Daerah, baru 18 terminal yang dapat dibenahi dari 143 terminal tipe A seluruh Indonesia.

Beberapa terminal yang diperbaiki yakni Terminal Rajabasa (Lampung), Terminal Merak (Banten), Terminal Harjamukti (Cirebon), Terminal Indihiang (Tasikmalaya), Terminal Tegal, Terminal Tirtonadi (Surakarta), Terminal Osowilangun, Terminal Purabaya (Sidoarjo), Terminal Purboyo (Madiun), Terminal Arjosari (Malang), Terminal Ir. Soekarno (Klaten), Terminal Cilacap, Terminal Jati (Kudus), Terminal Purworejo, Terminal Tamanan (Kediri), dan Kertonegoro (Ngawi).

Perbaikan 18 terminal itu meliputi signage, pagar sterilisasi, fasilitas difabel, fasilitas umum, pembangunan toilet baru, boom gate, dan elektrikal.

Jika benar-benar bisa dioperasikan, akan sangat membantu pemudik untuk mendapatkan layanan terminal yang nyaman. Meski belum seluruh terminal dibangun dan dioperasikan seperti Terminal Tirtonadi di Surakarta.

Di simpul transportasi juga dilakukan ramp check terhadap kelaikan jalan, sarana, dan kesehatan awak kendaraan. Dapat dikatakan semua moda transportasi, kecuali angkutan jalan dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan pada saat dilakukan ramp check. Hasil yang kurang menggembirakan, sekitar 83 persen angkutan umum bus AKAP belum memenuhi persyaratan laik jalan.

Masih ada waktu untuk memperbaiki kekurangan itu, sehingga pada saat mudik Lebaran jumlah armada yang tidak laik jalan berkurang.

Untuk moda yang menggunakan jalan, tahun lalu disediakan 44.871 armada bus (AKAP, AKDP, dan Pariwisata). Sementara tahun 2016 ada penambahan 1.607 armada bus menjadi 46.478 bus.

Sedangkan angkutan penyeberangan tahun ini ada penambahan 8 kapal Ro-Ro (Pada 2015 ada 187 kapal Ro-Ro dan di 2016 disediakan 196 kapal Ro-Ro).

Pemudik yang akan menggunakan moda angkutan laut disiapkan 1.273 kapal. Ada penambahan 11 kapal dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 1.262 kapal. Kapal-kapal tersebut berasal dari kapal milik PT Pelni, Kapal Ro-Ro swasta, kapal swasta, kapal swasta jarak dekat, dan kapal perintis.
Untuk moda kereta api, tahun ini disediakan 1.563 rangkaian. Jumlahnya bertambah dibandingkan pada 2015 sebanyak 1.523 rangkaian.

Untuk mengurangi pemudik menggunakan sepeda motor, PT Kereta Api (KA) meningkatkan layanan angkutan motor gratis. Tahun 2015 KA mengangkut 5.436 sepeda motor. Tahun ini disediakan tiga kali lipat menjadi 15.834 sepeda motor gratis menggunakan moda KA.

Pengangkutan melalui truk saat mudik, targetnya 16.800 penumpang dan 8.400 sepeda motor. Sementara untuk arus balik, targetnya mengangkut 7.200 penumpang dan 3.600 sepeda motor.

Untuk kecepatan rata-rata bus AKAP di ruas Tol Jakarta-Cikampek pada 2014 tercatat 56,72 km/jam, pada 2015 meningkat menjadi 53,03 km/jam. Sedangkan ruas Cikampek-Cirebon untuk 2014 lajunya 32,79 km/jam, tapi di 2015 menjadi 44,21 km/jam.

Sementara di ruas Tol Cipularang pada 2014 tercatat 65,75 km/jam, pada 2015 lajunya menurun menjadi 53,63 km/jam. Demikian pula untuk ruas Cileunyi-Banjar pada 2014 hanya 30,10 km/jam, sedangkan pada 2015 turun menjadi 28,38km/jam.

Untuk ruas non tol lebih banyak gangguan samping yang mengakibatkan hambatan perjalanan. Entah itu pasar tumpah atau aktivitas lain yang sulit dikontrol tanpa bantuan dari pemerintah daerah.

Target penyelesaian pekerjaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menghadapi musim Lebaran 2016, ada enam ruas jalan tol. Namun yang siap operasi hanya tiga, yakni ruas Pejagan-Brebes Timur (20,2 km), ruas Kertosono-Mojokerto (23 km), dan ruas Mojokerto-Surabaya (13 km).

Sisanya, ruas Bawen-Salatiga (17,6 km), ruas Solo-Kertosono (10 km), dan ruas Gempol-Pasuruan (13 km) belum dapat difungsikan. Jika dipaksakan harus digunakan, hanya bisa searah dalam kondisi pagi hingga sore.

Pasalnya, tidak ada penerangan memadai, sehingga malam hari tidak direkomendasikan untuk dilewati. Semoga harapan mudik Lebaran 2016 zero accident untuk transportasi umum dapat terwujud. Lebih baik setor muka di kampung halaman daripada setor nyawa di jalan raya.

Tautan : http://bisnis.liputan6.com

Kategori: