Menu Lokal Jadi Tantangan di Tengah Perkembangan Kuliner
Selasa, 12 Juli 2016 | 7:52 WIB

TRB 11_07_2016 Menu lokal jadi tantangan di tengah perkembangan kuliner

SAAT ini perkembangan kuliner khususnya di Kota Semarang semakin terasa, dengan dibukanya berbagai gerai makanan modern yang menawarkan berbagai ciri khas.

Dengan keunggulan dalam tampilan, kepraktisan, dan proses pengolahan yang unik membuat makanan modern dan fastfood menjadi tren masa kini.

Tren itu berkembang menjadi suatu gaya hidup yang melekat dengan modernisasi. Demikian juga dengan penggunaan istilah-istilah asing untuk penamaan makanan semakin menambah kesan modern. Perkembangan dunia kuliner juga didukung keberadaan media. Tidak dapat dipungkiri, semakin mudahnya akses informasi baik melalui media cetak, elektronik dan media lain memberi dampak yang nyata bagi pertukaran informasi dalam berbagai bidang.

Sebagai contoh yaitu kemudahan akses informasi mengenai berbagai jenis makanan lokal maupun mancanegara, berikut dengan cara pembuatannya.

Munculnya berbagai media sosial memberikan pengaruh terhadap kebiasaan atau perilaku masyarakat. Mengambil gambar makanan sebelum dikonsumsi serta menyebarkan di media sosial sebagai satu kebiasaan baru yang muncul.

Kebiasaan ini membawa efek positif bagi perkembangan dunia kuliner. Satu dampak yaitu dan segi pemasaran, khususnya pada keputusan pembelian.

Berdasarkan teori pemasaran, ada pengaruh marketing mix terhadap keputusan pembelian. Tujuh faktor marketing mix meliputi produk, harga, promosi, tempat, orang, lingkungan, dan proses.

Kehadiran media sosial dan ber-bagai aplikasi smartphone dapat menggantikan faktor-faktor itu. Saat ini, media sosial menjadi media promosi yang mampu menyampaikan informasi sekaligus menghubungkan antara produsen dan konsumen.

Penelitian yang dilakukan Wafda dkk menyatakan, penggunaan Instagram untuk proses pemasaran dapat menyampaikan pesan gambar atau visual dengan tingkat interaktif yang tinggi.

Media sosial ini mampu menyebarkan pesan secara luas, membentuk interaksi antara pemasar dan target pasar, memudahkan akses informasi dengan hashtag, serta memiliki kekuatan untuk men-dorong terjadinya pembelian.

Di Kota Semarang sendiri muncul media sosial khusus untuk mempromosikan kuliner seperti Instagram ©jakulsemarang atau Jajanan Kuliner Semarang serta Group Facebook: Kuliner Semarang.

Dengan adanya media ini, pertukaran informasi mengenai tempat kuliner yang menyediakan jenis makanan baru, makanan yang rasanya khas dan enak, sekaligus yang harganya murah dan terjangkau menjadi semakin mudah.

Adanya tampilan visual yang menarik, mampu menggugah minat penggunanya untuk klik like, menuliskan komentar atau testimonial dan merekomendasikan kepada teman hingga berdampak dari memfollow akun online shop yang dipromosikan atau mengunjungi tempat kuliner itu.

Pengembangan Kawasan Kuliner
Dengan melihat geliat dunia kuliner di Semarang, Pemkot Semarang telah menyiapkan kawasan-kawasan tertentu sebagai pusat kuliner. Selain itu, kekayaan kuliner dari suatu daerah saat ini dapat dikembangkan sebagai tempat wisata.

Tentunya ketika orang berkunjung ke suatu daerah, makanan khas daerah itu akan menjadi pilihan utama. Melihat peluang itu, maka dikembangkan kawasan kuliner di Kota Semarang.

Dalam hasil penelitian Pujiyati & Minta Harsana menyatakan, terdapat lima kawasan yang dapat dijadikan sebagai tujuan wisata kuliner di Semarang, yaitu kawasan Jalan Pandanaran, Simpanglima, Jalan MT Haryono, Taman KB, dan Pasaraya Sri Ratu pemuda.

Selain itu, masih banyak kawasan yang menjadi pusat kuliner di waktu-waktu tertentu. Misalnya kawasan Semawis (Pecinan) yang selalu ramai dikunjungi pecinta kuliner setiap akhir pekan.

Demikian juga ketika diadakannya festival-festival jajanan atau kuliner di beberapa tempat, seperti kawasan Banjir Kanal Barat, Balaikota, atau area mall. Kawasan-kawasan itu mendadak dipadati masyarakat umum.

Tantangan bagi pelaku bisnis
Perkembangan teknologi menuntut pula para pelaku bisnis bidang kuliner terus berinovasi menciptakan makanan-makanan yang unik. Satu contoh inovasi terkait dengan proses pengolahan adalah es krim roll.

Es krim yang dibuat secara live sangat menarik dan membuat orang penasaran untuk mencobanya. Inovasi juga dapat dilakukan dengan penambahan cita rasa baru seperti red velvet dan matcha.

Produk cake atau minuman menimbulkan sensasi unik dan menarik ketika ada penambahan cita rasa red velvet dan matcha green tea di dalamnya.

Tetapi di sisi lain, modernisasi dunia kuliner menyebabkan masyarakat lebih condong mengonsumsi makanan modern. Ada kecenderungan semakin orang mengenal kuliner yang berasal dari negara lain, justru kekayaan kuliner daerah sendiri menjadi terlupakan.

Hal ini menyebabkan makanan-makanan tradisional semakin terdesak dan menjadi langka. Kurangnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional dan mindset makanan tradisional sudah kuno dan ketinggalan zaman turut andil dalam kelangkaan makanan khas Semarang.

Tantangan bagi pebisnis kuliner adalah melestarikan kekayaan kuliner daerah dan khas kota Semarang sebagai aset budaya dan iden-titas daerah. (*) (Tribun Jateng, 11 Juli 2016, hal. 2)

Kategori: