Heboh Fenomena Pokemon Go oleh Ridwan Sanjaya
Selasa, 26 Juli 2016 | 9:10 WIB

SM 26_07_2016 Heboh Fenomena Pokemon Go”Ada banyak cara yang membuat Pokemon datang ke suatu lokasi, sehingga pemain tidak perlu berkejaran dengan cara-cara yang membahayakan diri.”

FENOMENA game Pokemon Go saat ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ada pihak-pihak yang khawatir dengan data geospasial yang disimpan oleh server pembuat game, ada yang mengkhawatirkan efek kecanduan yang ditimbulkan, ada pula yang mengkhawatirkan waktu kerja yang tersita karena digunakan untuk memainkan Pokemon Go.

Jika dilihat dari sisi teknologi, game dengan jenis Augmented Reality (AR) sebetulnya bukan hal baru. Augmented Reality menggabungkan lingkungan nyata dengan karakter atau objek di dalam game sehingga keduanya tampak terkait satu sama lain.

Teknologi dan jenis game ini sudah bisa ditemukan sejak beberapa tahun lalu. Namun baru meledak saat tokoh Pokemon menjadi karakter dalam permainan tersebut. Sebagai sesuatu hal yang dianggap baru, Pokemon Go menjadi perbincangan di masyarakat pengguna media sosial.

Tak ayal, banyak orang yang kemudian ingin tahu agar tidak dianggap tertinggal dalam pembicaraan. Ditambah lagi, game ini secara resmi belum dirilis untuk publik di Indonesia. Sehingga bisa memiliki sesuatu hal yang baru dan belum resmi tersedia merupakan tantangan dan kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.

Pada prinsipnya Pokemon Go sama dengan game-game yang lain. Memang yang membedakan, game dengan jenis Augmented Reality (AR) tidak banyak ditemui seperti halnya game lainnya. Sehingga jenis game yang baru dirasakan menarik bagi orang-orang. Terlebih, stimulasi publisitas di media sosial dan media massa semakin mendorong masyarakat untuk memainkan.

Bagi mereka yang belum pernah memainkan merasa perlu memainkan jika ingin dianggap kekinian atau tidak kekunoan. Efek ini akan selesai jika ternyata pemain tidak mendapatkan tantangan atau kejutan seperti yang dibayangkan atau diinformasikan orang-orang melalui media sosial. Dalam beberapa waktu yang akan datang pasti ada sebagian pemain yang tidak lagi menghidupkan Pokemon Go di dalam gawainya.

Sama seperti game yang lain, waktu untuk memainkan game dan lokasi untuk memainkannya perlu dikelola dengan bijaksana oleh masing-masing pribadi atau orang tua anak-anak yang memainkan. Namun tidak perlu membuat aturan baru yang hanya khusus untuk Pokemon Go. Toh, memainkan game pada jam kerja dari dulu juga sudah tidak dianggap etis dan elok bagi masyarakat. Hal itu sudah ada sejak sebelum Pokemon Go.

Permainan Pokemon Go sebetulnya mengingatkan para orang tua pada perburuan jangkrik pada masa kecil. Jangkrik yang didapatkan kemudian disimpan dalam bambu yang khusus dibuat agar jangkrik bisa tinggal di sana. Setelah dilatih, jangkrik kemudian bisa menjadi jagoan aduan yang diandalkan.

Ganti Karakter

Di dalam permainan Pokemon Go, jangkrik berubah menjadi berbagai karakter monster yang dapat disimpan. Jika dahulu jangkrik disimpan di dalam bambu, sekarang ini karakter monster disimpan di dalam bola.

Melalui latihan di dalam gym yang baru bisa diakses setelah pemain mencapai level 5, karakter Pokemon dapat menjadi jagoan yang bisa diandalkan. Memang yang perlu diedukasi terkait dengan lokasi memainkan Pokemon Go. Jangan sampai terjadi seperti cerita-cerita berlebihan dan dramatis seperti pengejaran dengan alat transportasi ojek atau berburu di tengah jalan.

Karena hal tersebut menunjukkan bahwa orang yang memainkan masih tergolong pemula. Ada banyak cara yang membuat Pokemon datang ke suatu lokasi, sehingga pemain tidak perlu berkejaran dengan cara-cara yang membahayakan diri. Cara mendatangkan Pokemon tersebut bahkan bisa diarahkan ke lokasi-lokasi tertentu seperti tempat wisata atau daerah komersial yang ingin menjadi tempat kunjungan.

Untuk pencurian data lokasi oleh game seperti ini tidak perlu dikhawatirkan. Data yang lebih hebat saat ini sudah tersedia dan dibuka lebar di dalam layanan Google Street View, Google Earth, Google Map. Jika yang dikhawatirkan adalah foto-foto yang di lokasi penangkapan pokemon dapat diabadikan, fitur kamera di dalam game tersebut bisa dimatikan.

Tanpa adanya akses ke kamera, game tetap dapat dijalankan dan kekhawatiran untuk mengambil foto lokasi tidak perlu terjadi. Pemain-pemain yang lebih mahir malah lebih menyukai tanpa ada fitur kamera. Dengan mematikan akses ke kamera ternyata membuat proses penangkapan Pokemon jauh cepat dan tidak memberatkan gawai.

Setelah beberapa saat memainkan, keasyikan menangkap Pokemon dengan latar belakang lokasi memang kemudian menurun karena ternyata membuat gawai menjadi lebih berat dan karakter yang ingin ditangkap bisa lepas. Pokemon Go sebetulnya seperti permainan digital yang lain. Penggunaannya oleh pemainnya perlu disikapi dengan bijaksana. Pengaturan waktu dan prinsip kehati-hatian dalam memainkan di lokasi tertentu perlu dikelola dengan baik. Namun tidak perlu sampai paranoid menghadapi fenomena ini. (Suara Merdeka 26 Juli 2016, hal. 4)

Dr Ridwan Sanjaya, dosen Game Technology Unika Soegijapranata.

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: ,