Aktivis MTI Menilai Sejumlah Persoalan Di Terminal Bus Harus Diselesaikan
Rabu, 27 Juli 2016 | 14:55 WIB

Bisnisnews.id 25_07_2016 Aktivis MTI Menilai Sejumlah Persoalan Di Terminal Bus Harus DiselesaikanSejumlah persoalan serius di terminal penumpang bus harus dibenahi guna memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pengunjung maupun calon penumpang. Harus merubah pandangan masyarakat bahwa terminal bukan lagi sebagai sarang penyamun,  kotor,  kumuh, sumpek.bau dan menyeramkan tapi terminal bus adalah temapat paling nyaman untuk disinggahi

Padahal kita tahu terminal adalah pangkalan kendaraan bermotor umum yang digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan  dan menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda, sehingga  ada terminall penumpang dan terminal barang atau keduanya bisa dalam satu lokasi.

Di Jabodetabek terdpt 10 terminal penumpang, yaitu Baranangsiang (Bogor), Bekasi, Depok, Kalideres, Kampung Rambutan, Pondok Cabe, Poris, Pulogadung, Pulogebang dan Rawamangun. Berikut pandangan aktivis Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Joko Setijowarno mengungkapkannya pada Bisnisnsws.

Dari banyaknya terminal, yang cukup representatif adalah Terminal Pulogebang. Sayangnya sejumlah persoalan di terminal  itu harusnya dibenahi. Seperti konflik lalu lintas kendaraan umum, kendaraan  pribadi dan pegerakan orang,  baik di area terminal maupun pintu masuk dan keluar terminal.

Aktivitas turun naik penumpang tidak pada tempatnya. Parkir kendaraan tidak tertata. Ruang istirahat awak kendaraan kurang manusiawi, pengawasan kesehatan dan identitas awak kendaraan belum dilakukan.

Bagi penumpang, segala bentuk informasi dinilainya masih sangat kurang memadai. termasuk juga soal kebersihan  Kebersihan. Fasilitas disabilitas belum ada. selain itibjuga masih banyaknya calo.

Tarif tidak ada kepastian, karena tidak  teraturnya sistem penjualan tiket. Aktivitas kriminal, seperti copet, hipnotis, obat bius masih aerjbg terjadi  di terminal. Dampaknya, terminal jadi tempat kurang nyaman dan kurang disukai masyarakat.

Kondisi seperti itu sangat tidak menguntungkan untuk pengembangan transportasi umum. Terlebih upaya mengajak masyarakat menggunakan transpoetasi saat bepergian untuk perjalanan jarak menengah dan jauh kurang mengena.

Hasil pengamatan, para calon penumpang akhirnya lebih senang naik dari pool bus stau terminal bayangan ketimbang  dari terminal resmi yang dibangun pemerintah.

Pemda di Jabodetabek, terutama DKI Jakarta memang sedang gencar kembangkan layanan transportasi umum Busway Transjakarta. Namun lupa menata terminal sebahai awal dan akhir pemberangkatan.
Peraturan Menteri Perhubungan No. 132/2015 tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan mengatur pembagian zona unyuk menyamankan penumpangnya. Seperti di stasiun dan bandara. Ada zona penumpang sudah bertikey, zona penumpang belum bertiket, zona pindahan dan pengendapan.

Selain itu juga telah diterbitkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 40 Tshun 2015 tentanh SPM Terminal Penumpang Angkutan Jalan. Sesuai UU 23/2014 tentang Pemda, pengelolaan terminal tipe A diambil alih ke pusat (Kemenhub).  Dengan diambil alihnya terminal tipe A, terdapat  143 terminal tipe A se Indonesia yang harus  diurus dan dibenahi oleh Ditjenhubdat, Kemenhub.

Harus diakui, ketika dikelola Pemda, banyak terminal yang mangkrak dan tdak terurus. Terminal dikelola sebagai sumber pendapatan (revenue) bukan untuk pelayanan publik.
Dampak buruknya layanan terminal juga berimbas pada penumpanng, terutama saat lebaran. Data Kemenhub, jumlah pemudik yang mengginaka bus menurun 12,25 pesen. Tahun 2015 tercatat sebanyak 4.832.000 orang menjadi 4.239.000 orang. Selain itu ada juga faktor bus AKAP yang sebagian tidak laik operasi.

Terminal-terminal di Jabodetabek memang harus segera dibenahi, agar  para oenumpag mau naik bus umum.Setidaknya harus ada perbaikan.

Hal tersebut, dapat dilaukan oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) selaku badan otoritas yang baru dibentuk untuk mengelola transportasi di Jabodetabek berdasar Peraturan Presiden No. 103 Tahun 2015 dapat ikut menata dan membenahi terminal di Jabodetabek. Perbaikan dan pembenahan terminal di Jabodetabek sudah sangat  mendesak. Harus segera dianggarkan, agar tahun 2017 sudah dapat dikerjakan, sehingga masyarakat yang akan melakukan perjalanan erutama saat mudik lebaran dapat menikmati terminal yang layanannya senyaman stasiun atau bandara.

Tautan : http://www.bisnisnews.id

Kategori: