Ternyata Kesurupan Bukanlah Kemasukan Roh Jahat, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Rabu, 22 Juni 2016 | 9:08 WIB
TRB 22_06_2016 Ternyata Kesurupan Bukanlah Kemasukan Roh Jahat, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata menggelar bedah buku Psikologi Kesehatan Mental Awas Kesurupan! , Jumat (10/6/2016) di Gedung Antonius ruang 402 Fakultas Psikologi Unika.

Kesurupan, bukanlah kata asing bagi masyarakat Indonesia. Orang awam banyak yang percaya fenomenakesurupan adalah kemasukan roh atau arwah. Oleh karena itu, kesurupan dekat kaitannya dengan hal mistis, misterius, dunia roh, setan, klenik, dan lain sebagainya.

Ingin mengubah pandangan tersebut, Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata menggelar bedah buku “Psikologi Kesehatan Mental Awas Kesurupan!”, Jumat (10/6/2016) di Gedung Antonius ruang 402 Fakultas Psikologi Unika.

Dalam bedah buku karangan Siswanto, S Psi, M Si, fenomenakesurupan dijelaskan dan diteliti lebih lanjut dari kajian ilmu pengetahuan dan sudut pandang ilmu psikologi. Pengarang buku dihadirkan langsung didampingi Dra Emmanuela Hadriami, M Si dan Drs HM Edy Widiyatmadi, MSi sebagai pengkaji.

Siswanto sebagai pengarang buku menjelaskan, dia melakukan riset dan penelitian yang mendalam tentang fenomena kesurupan di berbagai tempat dan kasus serta membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ia juga harus menyambungkan fenomena kesurupan yang ada di masyarakat dengan melihat dari sudut pandang psikologi seperti dari sudut pandang ilmu psikoanalisa, behaviour, humanistik, dan biopsikologi.

Menurutnya dari sisi ilmiah kesurupan merupakan gangguan mental disosiatif. Kesurupan terjadi karena dua faktor utama yaitu faktor budaya dan faktor gangguan mental. Jika diteliti dari faktor gangguan mental, kesurupan terjadi karena orang tersebut berada di lingkungan yang tidak sehat dan mendukung, ditambah stress dan ketakutan yang mempengaruhi kondisi emosionalnya.

Jika sudah demikian, orang lebih mudah kesurupan karena berusaha untuk keluar dari masalahnya.

“Bisa ambil contoh kasus kesurupan massal murid sekolah ketika mendekati Ujian Nasional (UN). Dulu banyak kasus kesurupanmassal satu sekolahan terjadi ketika akan UN, tetapi ketika kebijakan tentang UN diperbarui bahwa UN tidak mempengaruhi kelulusan, bisa dilihat jarang atau tidak ada kasus tentangkesurupan massal,” terang Siswanto seperti tertulis dalam keterangan pers kepada Tribun Jateng, Selasa (21/6/2016).

Ia berkesmipulan, siswa-siswa yang kesurupan massal tersebut mengalami tekanan dan stress yang hebat dan berkepanjangan karena takut tidak akan lulus yang berdampak pada kondisi emosional mereka.

“Kesurupanlah sebagai jalan keluarnya, dan ketika satu orangkesurupan akan menimbulkan reaksi berantai kepada yang siswa yang lain yang mengalami kondisi serupa,” jelas Siswanto. (*)

Tautan : http://jateng.tribunnews.com

Kategori: