Pengelola Wajib Jamin Keamanan
Selasa, 14 Juni 2016 | 8:49 WIB

SM 14_06_2016 Pengelola Wajib Jamin KeamananWacana Terboyo Jadi Terminal Truk

SEMARANG – Wacana peralihan fungsi Terminal Terboyo yang semua diperuntuhkan untuk bus dialihkan untuk bongkar muat ditanggapi oleh pakar transportrasi secara kritis.

Pengelola diwajibkan menjamin keamanan barang muatan dan kendaraan di sana. Pakar Transportrasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, faktor keamanan menjadi daya tarik utama sopir truk untuk memarkirkan kendaraan.

Selama ini, kata Djoko, dari hasil survei yang dilakukan Laboratorium Transportasi Unika yang dipimpinya, keamanan untuk truk di Semarang belum memuaskan. ”Dari survei kami, sopir truk lebih nyaman parkir di jalan arteri di Demak dan Kaliwungu, Kendal. Mereka lebih nyaman di sana, karena kalau ditinggal tidur, barang tidak ada yang hilang. Kalau parkir di Semarang, ban serep, terpal dan lainnya bisa hilang,” katanya.

Kasus pencurian pernah terjadi di Jalan Madukoro, dekat Jalan Arteri Yos Sudarso, Semarang Barat. Sepeda motor yang merupakan muatan truk hilang dicuri. Kejadian ini terjadi pada awal 2015. Anggota Polsek Semarang Barat telah mengungkap kasus pencurian dengan modus baru itu.

Djoko meminta memperhatikan aspek keamanan. Di sisi lain, pengelola juga harus memperhatikan dampak dari pasang air laut (rob) yang menjangkau Terminal Terboyo. Saat ini, belum ada kepastian penanganan rob, sehingga bila dipaksakan pembangunan terminal hanya sia-sia. ”Harus realistis. Mampu tidak menangani rob di Terboyo.

Kalau tidak, lebih baik cari lahan lain dan gunakan saja Terboyo sebagai polder tambahan dalam sistem penanggulangan rob,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, Terminal Bus Terboyo akan beralih fungsi menjadi tempat bongkar muat barang. Hal ini seiring dengan diberlakukannya Surat Mendagri Nomor 120/253/SJ, tanggal 16 Januari 2015, tentang Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan. Kepala Bidang Perencanaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang M Farchan mengatakan, pihaknya telah menerima surat persetujuan tersebut.

Namun dalam surat itu, Kemenhub melarang penggunaan nama terminal barang karena pengelolaannya Pemkot Semarang. Jika menggunakan nama terminal barang, pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah pusat. ’’Sebutannya harus tempat bongkar muat barang dan parkir truk. Kabar ini tentu saja menggembirakan Pemkot dan masyarakat Semarang,’’ujarnya.

Aset Daerah

Dengan adanya ketentuan tersebut, selain masih dikelola Pemkot, Terminal Terboyo masih menjadi aset daerah. Kemenhub hanya akan mengambil alih pengelolaan Terminal Mangkang sebagai terminal penumpang. ’’Karena Kota Semarang punya dua terminal tipe A, yaitu Terboyo dan Mangkang.

Dengan Terboyo tempat bongkar muat dan Mangkang diambil alih pusat, maka Mangkang yang selama ini sepi akan menjadi lebih ramai,’’ papar Farchan.

Bappeda saat ini menunggu petunjuk lanjutan dari Kemenhub setelah persetujuan tersebut. Untuk itu, butuh pembenahan menyeluruh karena kondisi Terminal Terboyo selama ini kumuh dan sering terendam rob.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang Agus Harmunanto menilai keberadaan terminal barang memang sangat dibutuhkan di ibu kota Jateng ini. Banyak truk selama ini diparkir sembarangan di pinggir-pinggir jalan.

Pemilihan Terboyo daripada Mangkang sebagai terminal barang karena lokasinya lebih dekat dengan Pelabuhan Tanjung Emas. Selain itu, banyak kawasan industri di sekelilingnya yang akan memudahkan pengiriman barang. ’’Setelah disetujui (jadi terminal barang-Red), Bappeda nanti akan menindaklanjuti perencanaan pembangunannya, penganggaran harus jauh hari,’’ujarnya.

Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi mengatakan, lebih setuju jika Terminal Terboyo tetap sebagai terminal angkutan penumpang.

Keberadaannya sangat dibutuhkan untuk menjangkau angkutan penumpang yang masuk Semarang dari arah timur. Kecuali, kata dia, Pemkot mempersiapkan terminal pengganti untuk bus yang masuk dari arah timur. Jika tidak, alih fungsi sebagai terminal barang akan menyulitkan pengguna angkutan umum yang mau turun di daerah Terboyo. Belum lagi pertanggung jawaban retribusinya. ’’Kalau memang tidak ada solusi lain, Terboyo bisa dibenahi untuk kemudian dibagi dua sebagai terminal barang dan terminal penumpang,’’ katanya. (Suara Merdeka 14 Juni 2016, hal. 19)

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: