Kereta Bandara Kurang Efektif di Bandara A Yani
Rabu, 1 Juni 2016 | 13:12 WIB
RDRS 01_06_2016 Kereta Bandara Kurang Efektif di Bandara A Yani

KULIAH UMUM: President Director PT Railink, Heru Kuswanto yang didampingi pakar transportasi Djoko Setijowarni saat pemberikan kuliah umum, di ruang Theater, Gedung Thomas Aquinas lantai 3 kampus Unika, (26/5).

SEMARANG – Kereta Api (KA) Bandara sebagai alternatif transportasi modern memang sangat efektif diterapkan di Bandara Kualanamu Medan Sumatera Utara (Sumut) dan sekarang dalam tahapan untuk diterapkan di Bandara Soekarno Hatta (Soetta) Jakarta. Namun tidak cukup efektif untuk diterapkan di Bandara A Yani Semarang. Hal ini karena jarak antara bandara dengan Stasiun KA Poncol dan Tawang yang terlalu dekat.

Hal tersebut ditegaskan oleh President Director PT Railink, Heru Kuswanto selaku pemberi kuliah umum bertemakan ”Seminar Kereta Bandara Integrasi Transportasi Modern” yang digelar Fakultas Teknik, Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, di ruang Theater, Gedung Thomas Aquinas lantai 3 kampus Unika, beberapa hari lalu (26/5).

 

Menurutnya, PT Railink yang merupakan perusahaan patungan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero dan PT Angkasa Pura II (Persero) ini, bertugas membangun bisnis utama berupa transportasi berbasis rel. Kendati pada akhirnya bisa mengembangkan usaha di bidang lain seperti properti maupun perhotelan.

”Karena itulah, dalam mengelola bisnis Kereta Bandara ini, kami tetap memperhitungkan kebutuhan masyarakat maupun keuntungan dan kerugian sekaligus. Kalaupun terpaksa mengelola Kereta Bandara yang kurang menguntungkan, tetap bisa. Hanya saja harus ada peran serta atau subsidi dari pemerintah terkait,” tuturnya.

Demikian juga dengan Kereta Bandara jika diterapkan di Bandara A Yani dengan jarak yang terlalu pendek dengan stasiun. Menurutnya, kalaupun pemerintah daerah tetap menginginkannya, bisa direalisasikan asal ada subsidi. ”Kereta Bandara membutuhkan investasi yang sangat besar. Kalau di Semarang, harus menghadapi kendala soal pembebasan lahan,” tuturnya.

Ditegaskan, jauh berbeda dengan Kereta Bandara Kualanamu Medan. Investasi kecil, namun kebutuhan masyarakat sangat tinggi dan traffic-nya juga cukup padat. ”Budaya masyarakat Sumut yang suka bepergian ramai-ramai bersama keluarga, turut meningkatkan load factor Kereta Bandara Kualanamu. Ini cukup potensial untuk dikembangkan,” katanya.

Sedangkan saat ini, imbuhnya, PT Railink sedang membangun Kereta Bandara di Bandara Soetta Jakarta dengan investasi sekitar Rp 4 triliun. Rutenya, Stasiun Manggarai-Sudirman Baru, lalu Batu Ceper hingga Bandara Soetta dengan jarak sekitar 26,3 km dan waktu tempuh kurang dari satu jama atau sekitar 58 menit. Frekuensinya akan ada 124 KA yang ditambah panjang rangkaian gerbongnya. Rencananya, rangakaian baru tersebut datang Agustus mendatang. ”Kami perkirakan, semester pertama tahun 2017 sudah bisa beroperasi,” tandasnya.

 

Kendati traffic dan kebutuhan masyarakat pengguna tranpsortasi modern tersebut diperkirakan tinggi, imbuhnya, namun Kereta Bandara Soetta membutuhkan waktu hingga 10 tahun untuk bisa Break Even Point (BEP) atau capaian titik impas keadaan jumlah pendapatan dan biaya yang seimbang tanpa keuntungan. ”Berdasarkan hasil riset kami, BEP baru tercapai 10 tahun kemudian,” tandasnya.

Sementara itu, pakar transportasi yang juga dosen Fakultas Teknik Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengamini Heru Kuswanto. Bahwa, Kereta Bandara A Yani Semarang memang kurang efektif, karena rute yang terlalu pendek. ”Secara hitung-hitungan bisnis tidak menguntungkan. Namun pemerintah daerah tetap wajib memberikan alternatif pilihan layanan transportasi yang memadai. Bisa tetap dibangun Kereta Bandara, tapi dengan subsidi,” tandasnya.

Tautan : http://www.radarsemarang.com

Kategori: