Bangunan Bukan Sekedar Tumpukan Material
Selasa, 14 Juni 2016 | 8:32 WIB
SM 13_06_2016 Bangunan Bukan Sekedar Tumpukan Material

Penulis buku “Building In Indonesia 1600 – 1960″ Cor Passchier, seorang arsitek asal Belanda saat membedah bukunya di Gedung Hendricus Constanta Kampus Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata, Senin (13/6).

SEMARANG, – Suatu kota tidak akan hidup jika tak mempunyai bangunan-bangunan lama, demikian juga seorang arsitek tidak hanya medesain bangunan baru dengan menghancurkan bangunan lama tetapi juga mengerti sejarah dari bangunan tersebut. Menurut arsitek asal Belanda Cor Passchier, melihat bangunan tidak hanya melihat jendela atau pintunya saja tetapi juga kontek dibalik dibangunnya bangunan tersebut.

“Bangunan bisa mulai dari apa bangunan itu, dimana dibangun, kenapa dibangun dan siapa yang merancangnya. Bangunan di Indonesia yang masih bertahan sampai sekarang dan disaksikan, merupakan bangunan-bangunan yang dibangun pada saat VOC datang ke Indonesia,” kata Cor dalam bedah buku “Building In Indonesia 1600 – 1960″ di Gedung Hendricus Constanta Kampus Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata, Senin (13/6).

Bangunan yang dibangun pada masa VOC, rata-rata berupa gudang dan benteng serta bangunan komersial lainnya. Mengingat pada masa itu pemerintah Belanda melalui VOC datang ke Indonesia pada awalnya ingin berdagang.

“Pada era berikutnya bangunan-bangunan kolonial setelah VOC bangkrut, diantaranya bangunan untuk pemerintahan, gereja dan benteng. Bangunan yang ada, tidak bisa lepas dari infrastruktur di sekelilingnya seperti jalan kota dan sanitasi,” paparnya.

Ketika itu Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels juga membangun jalan dari Anyer Banten sampai Pamanukan di ujung timur Pulau Jawa. Pembangunan jalan ribuan kilometer itu diselesaikan hanya dalam waktu dua tahun.

“Daendels saya kira hanya membangun jembatan dan menghubungkan jalan-jalan yang sudah lebih dulu ada,” tambahnya.

Era berikutnya menuju bangunan modern, di antaranya Gereja Blenduk di Semarang dan Gereja Immanuel di Jakarta. Di Gereja Blanduk di Semarang misalnya, selain adanya kubah di atas bangunan, juga dipasang tangga besi yang didatangkan langsung dari Belanda.

Periode berikutnya dibangun bangunan-bangunan yang merupakan proyek dari pemerintah kolonial, untuk menjelajah seluruh pelosok negeri. Bangunan-bangunan tersebut masih dapat ditemui sampai saat ini, antara lain stasiun kereta api dengan bahan-bahan dari dalam negeri karena industrialisasi saat itu sudah terjadi.

Bangunan-bangunan selain mempunyai arti dan mengandung nilai sejarah yang tidak ternilai, juga perlu diberi arti. Tujuannya masih kata dia, bangunan dapat bertahan supaya tidak hilang.

“Misalnya saja hotel Oranje (Majapahit) di Surabaya, hotel tersebut mempunyai arti bagi masyarakat Indonesia. Di hotel tersebut sempat terjadi insiden penyobekan bendera usia Perang Dunia II sehingga masih bertahan sampai saat ini,” paparnya.

Bangunan lama, sambungnya, perlu dibangkitkan meaningnya (arti) di balik bangunan tersebut sehingga tidak hanya sekedar tumpukan material belaka. Konservasi menurutnya, bukan hanya urusan arsitek belaka tetapi juga urusan profesi lainnya.

“Pengusaha juga tidak asal hanya membongkar begitu saja untuk kepentingan ekonomi. Banyak bangunan bersejarah yang sudah tidak bisa disaksikan lagi karena dibongkar dan dibangun bangunan lain di atas tanahnya,” papar Cor.

Dekan Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata B Diah Susanti MA PhD menyatakan, bedah buku ini sangat dekat dengan fakultasnya yang concern pada masalah lingkungan, sejarah dan kontek urban perkotaan.

Sementara Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Tengah Satrio Nugroho menyatakan, buku yang ditulis Cor Passchier sangat menarik. Bedah buku ini merupakan kesempatan bagus dan langka. Bisa dijadikan referensi karena sangat sulit mendapatkan dokumentasi antara 1600-1960.

Tautan : http://berita.suaramerdeka.com

Kategori: