Arsitek Belanda Ini Ungkap Rahasia Bangunan Belanda-Indonesia di Hadapan Mahasiswa Unika
Selasa, 14 Juni 2016 | 8:26 WIB
TRBJ 13_06_2016 Arsitek Belanda Ini Ungkap Rahasia Bangunan Belanda-Indonesia di Hadapan Mahasiswa Unika

Meski hujan mengguyur Semarang, Minggu (3/1/2016), Lawang Sewu tak sepi pengunjung

SEMARANG – Fakultas Arsitektur dan Design (FAD) Unika Soegijapranata menggelar kegiatan bedah buku karya penulis Belanda, Cor Passchier, dengan judul Building in Indonesia (1600-1960), di ruang B.4.1. Gedung Henricus Constant, Kampus Unika Jalan Pawiyatan Luhur Semarang, Senin (13/6/2016).

Dalam kesempatan tersebut, arsitek asal Belanda Cor Passchier datang langsung untuk membagikan hasil rangkumannya tentang berbagi bangunan bersejarah di Indonesia yang dibangun sejak tahun 1600 hingga 1960.

Seluruh bangunan peninggalan Belanda dari ujung barat ke timur indonesia dikupasnya dalam kesempatan tersebut.

“Bangunan lama di Indonesia memiliki keunikan masing-masing karena bercampur nilai dari Belanda dan Indonesia,” tutur Passchier dalam pemaparannya.

Dalam kesempatan itu tak luput ia mengupas beberapa bangunan di Semarang diantaranya adalah Lawang Sewu, Pasar Johar hingga Sobokartti.

Ia berpendapat, meski awalnya pengembangan kota-kota di Indonesia banyak terpengaruh dari budaya Belanda, namun, perencanaan bangunan harus tergantung pada berbagai keadaan unik tiap wilayah.

“Misalnya saja di daerah Minangkabau yang terkenal dengan arsitektur atap, tidak bisa semua gedung lalu sembarangan diberi aksen yang sama tanpa adanya jiwa ketika proses desain dan pembangunan,” imbuhnya.

Di lain sisi, salah satu dosen FAD, Ratih Dian Saraswati, menjelaskan kegiatan ini sengaja diselenggarakan untuk menambah wawasan mahasiswa arsitektur Unika tentang berbagi arsitektur masa lampau hasil perpaduan Belanda dan Indonesia.

“Ternyata banyak bangunan yang belum terekspose, di sini, Cor menguliknya bukan hanya dari segi konsep bangunan dan nilai estetisnya, namun dari sejarah, hingga kearifan lokal yang ikut berpengaruh dalam setiap pembangunan gedung pada masa itu,” imbuh Ratih. (*)

Tautan : http://jateng.tribunnews.com

Kategori: