Ziarah yang ‘Nancep’ dan Bisa Membangun Kedewasaan Iman
Senin, 9 Mei 2016 | 17:51 WIB

 

CIMG7257Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh, Paroki Sragen telah dikunjungi oleh Keluarga Besar Dosen dan Tenaga Kependidikan Unika Soegijapranata pada hari Kamis lalu (5/5), sebagai kunjungan dalam rangka ziarah yang dilaksanakan satu tahun sekali.

Jika dilihat sekilas, tampak bahwa proses pembangunan Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima, Ngrawoh, Paroki Sragen tampak masih berjalan dan masih terus dilakukan. Keseluruhan bangunan yang sudah selesai, antara lain yaitu bangunan inti dari Taman Doa, seperti Kapel Adorasi St. Aloysius, Lingkaran tak berujung St. Perawan Maria di Fatima, Salib Milennium, Taman Getsemani, stasi Jalan Salib dan makam (kubur) batu Yesus.

“Pemikiran untuk membuat sebuah Taman Doa sudah lama namun karena terbentur pada pembiayaan dan lain sebagainya maka baru tahun 2011 dibentuk panitia pembangunan, sedangkan  untuk gereja atau kapel sudah sejak lama ada yaitu sejak tahun 1970-an” ungkap Agustinus Subarjo sebagai ketua pembangunan Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh, Sragen.

Taman Doa yang Ibadat Pemberkatannya dilakukan oleh Vikjend Keuskupan Agung Semarang: Romo FX. Sukendar Wignyosumarto, Pr pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015 ini, mempunyai luas tanah kurang lebih 6.500 m2.

Nama tokoh Katolik disekitar Ngrawoh, sekaligus prodiakon setempat yaitu Mbah Karto adalah pendorong berdirinya Taman Doa Ngrawoh, Sragen. Mbak Karto memiliki saudara serta keponakan yang ditahbiskan menjadi romo atau pastur. selain itu dikenal sebagai tokoh umat katolik, yang sangat dihormati di Ngrawoh.

Misa pertama kali di Taman Doa dipimpin oleh Rm. L. Issri Purnomo Murtyanto, Pr dan Rm. Christophorus Tri Wahyono Djati Nugroho, Pr yang sekarang masih berkarya di Gereja Santo Yusup, Bandung, Gunung Kidul.

Dalam pembangunan Taman Doa Ngrawoh ini, sejak awal hingga saat ini hampir tidak ada kendala, bahkan pembangunan Taman Doa juga sudah mempunyai IMB.

Harapan di masa yang akan datang, Taman Doa Ngrawoh ini dapat menjadi tempat berkunjung umat dan mendalami pertobatan. Karena konsep pembangunan Taman Doa ini mengambil kesaksian dari Santa Perawan Maria di Fatima, sehingga pembangunan Taman Doa ini mencoba mengacu pada penampakan Bunda Maria di Portugal.

Hal yang berbeda lainnya, yaitu di Taman Doa ini tidak ada Gua Maria. Yang terdapat di Taman Doa Ngrawoh adalah Gua Makam (kubur) Yesus di Perhentian ke-14. Gua makam Yesus tersebut memanjang masuk kurang lebih sejauh 7 meter, yang menandakan 7 sakramen.

Tusiroh

Dalam homilinya Romo Yohanes Gunawan menegaskan kembali tentang bagaimana kita menghadirkan kerahiman Allah dalam sikap dan hidup kita. “Paus Fransiskus dalam tahun Yubilium kerahiman Ilahi ini, mengajak kita untuk melakukan aksi rohani yang disebut “Tusiroh” yang berarti Tujuh Aksi Rohani yaitu (1) menasehati orang yang ragu-ragu, (2) mengajar orang yang belum tahu (katekese), (3) menegur pendosa, (4) menghibur orang yang menderita (termasuk yang sakit dan difabel), (5) mengampuni orang yang menyakiti, (6) menerima dengan sabar orang yang menyusahkan kita, dan yang terakhir (7) kita berdoa untuk manusia yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia”jelas Romo Gunawan.

Lebih lanjut Romo Gunawan juga berharap, “Bagaimana kedewasaan kita diuji, kesabaran kita diuji, agar kita sungguh-sungguh dapat mengikuti ziarah bukan hanya sekedar ritual tahunan, tetapi sungguh-sungguh ‘nancep’ meresap dalam hati kita dan juga batin kita masing-masing. Seperti pesan Bunda Maria kepada tiga anak kecil di Fatima, diharapkan kita bisa membangun kedewasaan iman kita dengan : (1) membangun pertobatan, (2) berdoa rosario, (3) berserah diri pada hati Maria yang tak bernoda” tandasnya. (Fys)

Kategori: