TERJADI KESOMBONGAN KALANGAN TERDIDIK “Jangan Rendahkan Masyarakat Desa”
Selasa, 31 Mei 2016 | 15:39 WIB

KR 31_05_2016 Terjadi Kesombongan Kalangan TerdidikSEMARANG – Anggota DPR RI yang juga salah satu pemrakarsa UU Desa, Budiman Sudjatmiko berharap masyarakat Indonesia terutama kaum intelektual dan birokrat pemegang kekuasaan di Indonesia tidak memandang rendah kemampuan masyarakat desa. Bila dibimbing, diasistensi, didampingi dengan baik maka masyarakat desa bisa menjadi pelopor pembangunan di desa masing-masing dan tokoh-tokoh pembangunan nasional.

Hal tersebut disampaikan Budiman Sudjatmiko pada seminar ‘Pemberdayaan Desa Dalam Konteks Implementasi UU Desaí yang diselenggarakan Unika Soegijapranata Semarang di kampus setempat, Senin (30/5). Tampil pula sebagai pembicara lainnya Ketua Yayasan Obor Tani Budhi Dharmawan, Pendiri Yayasan Qoryah Thoyibah Bahrudin dan Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc (moderator).

Menurut Budiman, selama ini terjadi kesombongan intelektual atau akademis karena banyak intelektual kampus serta kalangan terdidik yang ada di birokrasi menganggap masyarakat desa tidak memiliki kemampuan mengelola anggaran dengan dikucurkannya dana cukup besar bagi tiap desa sesuai UU Desa. Mereka bisa dan mampu asal diajari dan didampingi dengan baik. Sangat banyak pejabat, pengusaha, profesional terkemuka asalnya dari desa tetapi sayangnya mereka enggan balik dan membangun desanya tetapi lebih senang berkarir di kota-kota.

Harusnya, lanjut Budiman, dana besar diberikan ke desa-desa untuk menciptakan kelas menengah baru di desa-desa, intelektual-intelektual dan profesional baru tetapi tetap tinggal dan membangun desanya. “Ini tujuan utama UU Desa. Bukan hanya persoalan duit ke desa saja atau untuk persoalan pengentasan kemiskinan semata,” tegasnya.

Tokoh yang pernah dipenjarakan pemerintah saat Orde Baru itu memberi gambaran tentang potensi dan kemampuan warga desa dengan kondisi menembak babi hutan perusak tanaman di suatu wilayah terpencil di Bawen, Jateng. Tentu saja para penembak jitu yang banyak di Jakarta tidak akan sampai bisa menembak babi dari Jakarta mengenai sasaran di Bawen. Sehingga para penembak jitu harus memberi pelatihan kepada warga desa akan kemampuan berburu, menggunakan senapan buru babi hutan, tahu ilmu kapan biasanya babi turun cari makan dan lain sebagainya. Dipastikan warga desa akan mampu jika dilatih. Demikian halnya dengan pengelolaan anggaran dan pembangunan desa mereka sendiri akan mampu dilaksanakan kalau dilatih dan didampingi dengan benar. (Kedaulatan Rakyat, 31 Mei 2016, hal. 18)

Kategori: