PPT Psikologi Unika Bahas Penanganan Anak Temper Tantrum
Selasa, 31 Mei 2016 | 12:31 WIB

TempertantrumSebagian dari orang tua mungkin pernah menghadapi kondisi buah hatinya yang mengalami temper tantrum. Lantas apa itu temper tantrum? Mungkin sebagian orang tidak mengetahui apa itu temper tantrum. Untuk lebih mengedukasi mengenai temper tantrum, maka Pusat Psikologi Terapan (PPT) Unika Soegijapranata menyelenggarakan Mini Workshop yang dibawakan oleh Lita Widyo Hastuti, S.Psi, M.Si dengan topik : “Temper tantrum, Siapa Takut?” bertempat di lantai 3 Gedung PPT Unika pada hari Sabtu (28/05).

Workshop dibuka oleh Lita Widyo Hastuti dengan membagikan sticky note kepada peserta yang akan menuliskan mengenai apa yang ditakutkan mengenai anak temper tantrum dan langkah apa yang biasanya ditempuh dalam menghadapi anak temper tantrum.           “Temper tantrum atau yang biasa dikenal dengan nama tantrum saja merupakan ekspresi frustasi dan bentuk ketidakmampuan anak untuk mengungkapkan kebutuhan secara verbal dengan disertai unsur marah serta ledakan emosional. Temper tantrum ini biasanya dialami oleh anak-anak usia 1-4 tahun, terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka akibat tidak terpenuhinya keinginan mereka, atau hanya sekedar ingin untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya saja” jelas Lita.

Menurut Lita, kondisi anak dengan temper tantrum ditandai dengan menangis, berteriak, mengomel sendiri, bahkan disertai dengan gerakan yang dapat menciderai dirinya sendiri seperti berguling-guling di lantai dan melempar barang.

Temper tantrum biasanya disebabkan oleh beberapa factor yakni dari sisi anak sebagai ungkapan protes anak kepada orang tua, serta kegagalan untuk mengungkapkan secara verbal. Sedangkan dari sisi orang tua, anak yang mengalami temper tantrum diakibatkan oleh perlakuan orang tua yang terlalu over protektif maupun permisif dan juga adanya permasalahan antara ayah dan ibu mengakibatkan emosi anak menjadi tidak imbang. Dari faktor lingkungan juga mempengaruhi karena mungkin adanya persaingan dengan saudara kandung ataupun kebiasaan penerapan peraturan yang tidak konsisten.” Imbuhnya.

Namun untuk menghindari atau mengurangi tingkat tantrum anak dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan fisiknya terlebih dahulu, kemudian pemberian contoh yang baik dari orang tua disertai dengan kemauan orang tua untuk mendengarkan suara anak dan memberikan kesepakatan kepada anak mengenai apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan.

Selain diberikan solusi terhadap penanganan anak tantrum, dalam penjelasannya, Lita juga menjelaskan mengenai apa saja yang tidak boleh dilakukan ketika anak memulai untuk episode tantrumnya.

“Ketika anak sedang berada dalam kondisi tanrumnya, sebaiknya orang tua jangan memberikan respon terlebih dahulu karena anak akan belajar, jika ia menangis dan diberikan respon maka ia akan melakukan hal tersebut secara terus menerus. Selanjutnya jangan menertawakan anak dan menuruti kemauan sang anak atau orang tua menyerah dengan keadaan anak, jangan pula memberikan imbalan kepada anak untuk menyelesaikan tantrumnya, semisal memberikan permen jika ia mau berhenti menangis, itu akan memperburuk kondisi tantrumnya” tambahnya.

“Langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua setelah anak selesai mengalami tantrum, yaitu berupa pemberian pendekatan psikologi, seperti memeluk anak itu dan mengajak anak untuk berbicara mengenai sebab apa yang membuatnya berbuat tantrum tersebut” tandasnya.

Dalam acara mini workshop tersebut, orang tua tidak hanya mendapatkan workshop, namun ada pula pelatihan secara langsung bagaimana cara menghadapi anak dengan kondisi temper tantrum berupa simulasi. (Ign)

Kategori: ,