Masyarakat Diimbau Tak Mudik Pakai Motor
Rabu, 25 Mei 2016 | 9:24 WIB

SM 25_05_2016 Masyarakat Diimbau Tak Mudik Pakai MotorSEMARANG – Pakar transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan dinas perhubungan bersama aparat kepolisian semestinya jauh-jauh hari melakukan imbauan kepada masyarakat agar tidak menggunakan sepeda motor untuk mudik lebaran.

Pasalnya, selalu banyak pengendara yang mengalami kecelakaan saat mudik dan balik Lebaran dengan moda transportasi tersebut .

Djoko mengatakan dari tahun ke tahun sepeda motor masih menjadi pilihan transportasi kaum urban untuk menuju kampung halaman. Untuk itu, diperlukan regulasi dan penegakan aturan untuk menekan penggunaan sepeda motor supaya angka kecelakaan di jalan raya ketika mudik menjadi berkurang.

”Faktor kelelahan bisa menyebabkan pengemudi lengah dan berakibat fatal. Mulai sekarang kepolisian dapat melakukan pelarangan tersebut, sehingga pemudik yang akan membawa anggota keluarga dan barang dengan sepeda motor, dapat dialihkan ke moda transportasi yang lain,” ujar Djoko, kemarin.

Menurutnya, untuk menekan penggunaan sepeda motor, pemerintah tahun ini sudah memfasilitasi pengangkutan motor dengan truk dan kereta api, dengan kisaran jumlah yang diangkut mencapai 15.000 motor. Namun demikian, pemerintah  meniadakan pengangkutan lewat kapal laut.

”Masih ada waktu untuk siapkan mudik gratis dengan kapal laut. Itu lebih baik daripada pilihan  menggratiskan tol untuk pengguna mobil pribadi. Dengan demikian, tugas aparat kepolisian juga lebih ringan,” katanya.

Pengaruh Kultural Pasal 10 PP 74/2014 tentang Angkutan Jalan menyatakan persyaratan teknis untuk sepeda motor meliputi muatan memiliki lebar tidak melebihi stang kemudi, tinggi muatan tidak melebihi 900 milimeter dari atas tempat duduk pengemudi, dan barang muatan ditempatkan di belakang pengemudi.

Akan tetapi, menurut Djoko, pengendara sepeda motor kerap mengabaikan faktor keselamatan. Misalnya, motor kerap dinaiki lebih dari dua orang dengan barang bawaan yang melebihi beban.

Djoko tak memungkiri jika di kampung, sepeda motor menjadi moda transportasi yang praktis.  Ketika sampai di kampung halaman, pemudik kerap memanfaatkannya untuk berkunjung ke sanak saudaranya yang rumahnya berjauhan. Pengaruh kultural tersebut menjadi salah satu alasan pemudik tetap memilih menaiki motor.

Hal itu didukung dengan ongkos mudik bisa lebih murah jika naik motor.

”Dari Jakarta sampai Semarang bisa kurang dari Rp 500 ribu jika naik motor. Coba bandingkan jika mudik dengan moda transportasi lain, pasti lebih dari satu juta rupiah. Masalahnya, transportasi di daerah juga buruk. Bagi masyarakat kelas menengah ke
bawah, alternatif pilihan sepeda motor menjadi tepat. Dan, mengendalikan pemudik sepeda motor dpt dilakukan sedini mungkin,” ujarnya. (dhz-72) (SM 25/05/2016, hal. 19)

Kategori: